SETIAWAN DJODI: Bangkit Setelah Kehidupan Baru

Posted on Updated on

Tangan Setiawan Djodi bertautan kuat dengan tangan Walikota Solo Djoko Widodo saat keduanya bersalaman komando di Rumah Dinas Walikota, Lodji Gadrung, Rabu (18/7).

Seniman sekaligus pengusaha nasional itu penuh semangat bertemu Jokowi untuk memberikan dukungan kepada calon gubernur DKI Jakarta tersebut. Dalam perbincangan dengan Espos, Djodi bahkan berkali-kali menyebut dukungan yang diberikannya kepada Jokowi merupakan salah satu kebaikan yang ia lakukan dalam mengisi kehidupan barunya setelah ia menderita sirosis.

Penyakit yang diidap beberapa tahun lalu itu diakui Djodi menjadi titik balik kehidupannya. Karena penyakit itu, kondisi kesehatan pentolan grup Kantata Takwa itu sempat memburuk. Djodi yang biasa garang dan enerjik saat di panggung, mendadak tidak berdaya di pembaringan. Apalagi, kerusakan di bagian livernya semakin parah karena mengalami infeksi yang sempat menyebabkan pendarahan hebat.

Berbagai upaya mencari jalan kesembuhan pun dilakukan hingga akhirnya ia memutuskan terbang ke Singapura lantaran kondisi kesehatannya semakin memburuk. Pilihan terakhir untuk menyelamatkan nyawanya yaitu operasi transplantasi hati.

Kendati saat itu Djodi mengaku siap mati tapi ia tidak menyerah begitu saja. Harapan untuk sembuh terus terpelihara bersamaan dengan berbagai dukungan yang mengalir dari sahabat-sahabatnya juga dukungan keluarga.

Keluarga pula yang mengantarkannya ke pintu gerbang kesembuhan. Shri Jehan Djodi Putri, anak keempatnya, menjadi donor hati. Akhirnya perlahan tapi pasti, kondisi kesehatannya membaik.
“Itu sudah hampir tiga tahun lalu. Setelah berhasil transplantasi, saya mengalami masa-masa paling berat masa recovery. Sama halnya dengan Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang juga pernah melakukan transplantasi hati tapi nyawa beliau tidak tertolong karena memang recovery-nya berat sekali,” terangnya.

Djodi mengungkapkan masa recovery pascaoperasi semakin berat lantaran ia juga harus berjuang menyembuhkan infeksi yang terjadi pada livernya. Ia menyebut penyakitnya disebabkan karena gaya hidupnya tapi ia tidak memerinci gaya hidup seperti apa yang membuat Djodi terkena sirosis. Dari hasil pemeriksaan dokter selama ini, ia tidak mengidap penyakit apa pun seperti tumor, kanker dan penyakit lainnya.

“Harapan hidup saya dulu hanya 20 persen. Keluarga juga saat itu sudah menyiapkan pemakaman saya. Sebagaimana pelajaran dalam tasawuf yang saya pelajari, ketika harus mati pun saat itu saya siap tapi Alhamdulillah saya sembuh,” katanya.

Karena itulah, cucu pahlawan nasional dr Wahidin Sudirohusodo ini mengaku seperti diberi mukjizat, jalan Tuhan yang membuatnya merasakan diberi kehidupan baru. Laki-laki kelahiran Solo, 13 Maret 1949 ini tidak ingin menyia-siakan sisa hidupnya. Ia bertekad melakukan perbuatan baik karena ia meyakini ketika seseorang tidak melakukan perbuatan baik dalam hidupnya maka sesungguhnya orang itu telah mengalami kematian seperti yang diajarkan Syekh Siti Jenar.

“Kehidupan ini sangat pendek tapi kehidupan yang sebenarnya adalah setelah kita mengalami kematian,” ujarnya.

Sejak lolos dari maut, Djodi mengaku sangat bersyukur. Satu yang pasti, walau pun sempat harus berjibaku melawan penyakit sirosis, CEO Grup Setdco ini tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan Tuhan.

“Saya serahkan jalan hidup saya kepada Tuhan. Bagi saya, Tuhan adalah guru abadi, kekasih abadi, guru awal dan tiada akhir. Saat sakit parah, saya selalu minta ampun dari dosa dalam hidup,” tukasnya.

Warisan yang Dikenang

Sesibuk apa pun aktivitas mengurus bisnis maupun berkesenian, Setiawan Djodi selalu menyempatkan nyadran. Ritual yang biasa dilakukan menjelang Ramadan itu selalu dilakukan setiap tahun. Begitu juga tahun ini. Di sela-sela kesibukannya, ia terbang ke Solo untuk mengunjungi makam kakeknya di Pracimaloyo.

“Tradisi nyadran selalu saya lakukan setiap tahun, selain ke Pracimaloyo saya juga nyadran ke Mlati, Sleman, Jogja. Kebetulan tahun ini agenda nyadran berbarengan dengan ketemu Jokowi,” katanya ketika dijumpai Espos, Rabu (18/7).

Saat ini, selain mengurus bisnisnya, peraih gelar MBA dari Universitas Wharton Amerika Serikat ini tengah getol-getolnya melukis. Beberapa karya lukisnya termasuk saat ia duduk di Kelas II SMA ini juga dikumpulkan untuk diseleksi sebagai materi pameran lukisan yang akan ia gelar.

“Waktunya belum tahu pasti tapi nantinya ada 25 lukisan yang saya pamerkan termasuk karya lukis saat saya masih SMA,” katanya.

Pemilik nama lengkap Kanjeng Pangeran Salahuddin Bambang Setiawan Djodi Nur Hadiningrat sejak dulu ingin memiliki karya yang bisa ditinggalkan untuk anak cucunya dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Begitu juga dengan karya seni musiknya yang ia hasilkan, diharapkan bisa menjadi warisan. Kesuksesan konser reuni Kantata Barok yang digelar 2010 di Gelora Bung Karno membuatnya senang. Konser grupnya bersama musisi kawakan Tanah Air seperti Iwan Fals dan Sawung Jabo dibanjiri penonton.

“Kami sudah tua, ketika konser tidak mengharapkan seperti konser 20 tahun lalu tapi ternyata pengunjungnya membeludak. Padahal harga tiket konser minimal Rp100.000,” terangnya yang juga sempat membuat konser fenomenal pada 1993 di Alun-alun Utara Solo bersama almarhum Mbah Liem.

Tidak hanya dalam kesenian, Djodi juga berharap memiliki karya yang bisa dikenang dan bermanfaat dalam bidang ekonomi seperti ingin membangun industri dan mengembangkan perekonomian.

“Sejauh ini saya lama bergelut dalam industri perkapalan dan perminyakan,” terangnya.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang bekerja untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, Djodi yang selama ini dikenal sebagai pengusaha sukses di kedua bidang industri tersebut justru mengaku bekerja bukan untuk mencari makan namun mengisi agar hidupnya lebih bermakna.

Tekuni Tasawuf karena Diajak Gus Dur

Menjadi pengusaha sekaligus seniman sukses membuat nama Setiawan Djodi dikenal banyak orang. Sikap dan gebrakan kontroversi yang dibuatnya juga semakin membuat popularitasnya meroket.

Salah satu yang mungkin belum dilupakan orang adalah ketika ia pamer mobil Lamborghini pada 1993. Kendati begitu, ajang pamer mobil mewah itu ia lakukan bukan untuk sok-sokan tapi sebagai bentuk perjuangan. Karena itu, ia menampik apa yang dilakukannya pada 1993 bukanlah ajang pamer. Sebagai orang Jawa, ia menyadari betul bagaimana harus bersikap andhap asor aja gumun, kaget dan dumeh.

“Saya ingin berjuang mendorong supaya Indonesia juga bisa membuat mobil nasional, kebetulan saat itu mobil yang kuat dan berkualitas baik Lamborghini. Sampai sekarang saya masih mendukung Indonesia membuat mobnas [mobil nasional], makanya ketika Jokowi mendorong mobil SMK sebagai mobnas, saya mendukung,” katanya.

Perjuangan untuk bangsa Indonesia juga ia tunjukkan dalam bermusik seperti membuat lagu bernada kritik sosial. Hingga saat ini ia masih konsisten berjuang di jalur musik. Semangat perjuangannya terinspirasi pejuang asal Argentina Che Guevara yang konsisten berjuang. Hanya, ia bukan seorang Marxist sebagaimana tokoh yang ia kagumi karena hati dan jiwanya tetap Pancasila.

“Saya ini orang yang suka berjuang, apa pun saya lakukan sesuai dengan kemampuan. Saya tidak takut menjadi orang yang berbeda pendapat dengan orang lain,” tukasnya.

Soal kisruh di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Djodi mengaku tidak bisa berjuang banyak. Ia hanya berharap agar masalah tersebut segera selesai secara baik-baik dan manajemen keraton diperbaiki dengan mengakomodasi semua pihak.

“Persatuan Hangabehi dan Tedjowulan merupakan hal yang baik agar keraton semakin maju. Apalagi, keraton sudah menjadi barometer kebudayaan adi luhung dan jati diri Solo itu diwarnai keraton,” katanya.

Hal lain yang belum banyak diketahui orang tentang musisi kawakan ini adalah pilihannya untuk menekuni tasawuf. Dunia yang dipelajari ketika ia beranjak dewasa itu banyak mengubah hidupnya.

“Saya mengenal tasawuf diajak Gus Dur, setelah itu saya serius mendalami,” ujarnya tanpa mau membeberkan tarekat mana yang ia ikuti.

Selalu Andap Asor

Apresiasi positif langsung diberikan sahabat Setiawan Djodi, Didit Purnomo. Dengan lantang dan tegas Didit mengatakan Djodi merupakan orang yang baik.

“Meskipun kaya, dia orangnya andap asor, banyak membantu, teman-temannya juga tidak luput dari perhatian dan sering dibantu,” ujarnya ketika ditemui Espos, Rabu (18/7).

Didit yang bersahabat sejak kecil dengan pengusaha perkapalan itu juga menilai Djodi adalah orang yang konsekuen seperti selalu menepati janji. Hingga kini, Didit selalu berkomunikasi dengan Djodi, bahkan saat sahabatnya itu datang ke Solo, Didit tampak menemani.

“Terhadap kawan pun, Djodi selalu membela. Begitu juga kepada orang kecil, dia tidak sombong,” katanya

Orang yang Visioner

Walikota Solo, Joko Widodo, menilai Setiawan Djodi adalah orang yang sangat visioner. Pemikiran-pemikirannya jauh ke depan terutama dalam ketika berbicara tentang manajemen negara, pemerintahan dan wacana lainnya.

“Dia [Setiawan Djodi] itu wawasannya luas, banyak hal yang sudah dia lakukan,” katanya ketika ditemui Espos, Rabu (18/7).

Sebagai Walikota sekaligus pengusaha, Jokowi mengaku kerap berinteraksi dengan seniman dan pengusaha perkapalan itu. Menurutnya, dalam hal kepribadian, Setiawan Djodi merupakan orang yang baik dan enak diajak berdiskusi.

“Komitmen Setiawan Djodi terhadap Kota Solo juga tinggi. Dia sering menyampaikan pandangan-pandangannya untuk Kota Solo, saya banyak belajar kepada beliau,” imbuhnya.

Sumber: http://www.solopos.com/2012/tokoh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s