Darah Seni Yayuk Sri Rahayu

Posted on

Perempuan kelahiran 6 Mei 1972 ini memiliki nama lengkap Yayuk Sri Rahayu. Ia menganggap seni sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidupnya.
“Bapak dan ibu merupakan seorang seniman, jadi seni sudah mendarah daging dalam hidup saya,” ungkapnya saat ditemui Espos di kediamannya di Dusun Sumbersari RT 001/RW 006, Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, Jumat (30/3).
Selain itu, seni juga menjadi hobi dan pekerjaan yang mampu membantu kehidupan ekonomi keluarganya. Ia pernah menimba ilmu di SMKI atau saat ini SMKN 8 Solo di jurusan pedalangan dan ISI Surakarta di bidang seni tari. Sejumlah pentas pun telah ia lakukan mulai dari luar Jawa yakni Kalimantan dan ke luar negeri seperti Prancis. Bahkan, ia pernah mengikuti syuting film layar lebar yang disutradarai Garin Nugroho.
Film itu berjudul Bulan Tertusuk Ilalang yang dirilis tahun 1995 dan ia berperan sebagai Wulan yakni seorang gadis desa yang bergelut di bidang seni budaya. Ia juga pernah mengikuti syuting di salah satu stasiun televisi swasta dalam acara ketoprak. Ia yang memiliki bakat sejak kecil mampu melakukan berbagai kegiatan seni seperti tari, sinden dan ketoprak.
Yayuk merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Dua saudaranya yang lain juga mengikuti jejak orangtuanya sebagai seorang seniman. Kakaknya yang bertempat tinggal tak jauh dari rumahnya juga seorang seniman karawitan. Sedangkan kakak keduanya juga seorang dalang.
Kini, ia bersama dengan suaminya yakni Sigit Mursito, membuka sebuah lembaga pelatihan bagi masyarakat yang ingin menekuni seni. Kursus yang ia buka bersama suaminya itu ia beri nama Lembaga Keterampilan dan Pendidikan (LKP) Saraswati Wonogiri dan kegiatannya dilakukan di rumahnya. Ia bersama sang suami tidak memungut bayaran untuk peserta kursus.
“Kami hanya ingin melestarikan budaya sendiri dan mengurangi pengangguran di masyarakat. Jadi, di lembaga tidak hanya kursus tari, menyanyi dan karawitan. Tapi juga ada tata rias pengantin sehingga masyarakat terutama kaum wanita bisa mandiri dan mampu menambah penghasilan bagi keluarga,” imbuhnya.
LPK-nya pun terbuka selama 24 jam untuk siapa pun yang ingin mendalami seni budaya. Ia mengaku senang jika ada masyarakat yang bermain karawitan di rumahnya, walaupun itu malam hari. Ia bersama sang suami merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan melestarikan kesenian tradisional Indonesia itu.

Sumber: http://www.solopos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s