BATIK: Tak Ada Jenuh dalam Industri Batik

Posted on

H Achmad Sulaiman
Bicara batik memang tak pernah ada ujungnya. Sudah banyak diulas tentang batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, juga ditetapkan sebagai warisan dunia. Batik mengakar di kehidupan bangsa, terlihat di setiap jengkal daerah memiliki batik dan menjadikannya identitas. Demikian juga batik Solo yang telah termasyhur bahkan hingga keluar negeri. Salah satu pengusaha batik di Solo yang sudah memiliki nama besar yaitu pemilik brand Batik Halus Puspa Kencana, H Achmad Sulaiman.
Sulaiman melihat hampir semua daerah, baik meliputi provinsi atau kota di Indonesia memiliki corak batik, motif dan warna yang khas dan berbeda-beda. Sebagai pelaku bisnis batik yang berkecimpung di dalamnya sekitar 40 tahun, ia melihat tidak pernah adanya titik jenuh batik. Hingga kini, industri itu tetap bergairah, baik batik untuk pakaian formal maupun informal, juga dipakai untuk beragam usia alias semua kalangan.
Jika dulu batik untuk kalangan priyayi atau menengah ke atas –khususnya untuk batik halus dan tulis–kini batik lebih universal. Batik bisa fleksibel untuk seragam kantor, sekolah dan harian. Bahkan kawula muda pun ikut demam batik dengan segala tren dan fesyennya. “Dulu pabrik batik banyak tapi produksinya sedikit. Sekarang pabriknya lebih menyusut tapi volume produksi jauh lebih banyak dari yang dulu,” kata Sulaiman saat ditemui Espos, di Laweyan, Solo, Kamis (22/3).
Hal itu lantaran dulu peminat batik belum semasif sekarang dan proses batik tulis membutuhkan waktu lama. Dengan kebutuhan yang terus meningkat, produsen memenuhinya dengan cara memproduksi batik jenis printing. Dampaknya, kian hari batik tulis dengan proses tradisional yang mengutamakan kualitas untuk sementara terpinggirkan. “Semua ada pasarnya. Yang printing ada pasarnya, yang tulis seharga Rp3 juta per potong juga masih ada peminatnya,” katanya.
Dari segi penggemar, baik tulis maupun printing memiliki tempat masing-masing.
Tidak berdosa saat pengusaha lebih mengutamakan printing karena fakta di lapangan, masyarakat cenderung lebih dapat menerima batik dengan harga di bawah Rp100.000. “Saat musim sekolah, mengejar kebutuhan seragam harus printing, jelas tidak mencukupi jika batik tulis,” katanya.
Sedang menjelang Lebaran dan peringatan hari Islam lainnya, batik tulis baru menemui titik larisnya. “Merayakan Lebaran tentu gengsi jika memakai batik printing, apalagi biasanya saat itu musim panen.”
Kebutuhan pasar lainnya yang menjanjikan dan hanya dapat ditutup dengan printing adalah permintaan dari sejumlah daerah di luar Jawa. Di sejumlah daerah dikembangkan motif-motif batik untuk menjadi identitas daerah tersebut. Seperti Riau, Gorontalo, Kalbar dan tempat lainnya sedang mencari jenis motif atau corak yang menjadi identitas daerah tersebut. “Untuk bisa mencukupi kebutuhan itu, mereka lari ke Solo dan Pekalongan. Mereka pun kini memulai mengembangkan itu.”
Memasarkan Batik ke Malaysia
Bertempat tinggal di kawasan industri batik, Sulaiman muda lebih tertarik pada kegiatan organisasi kepemudaan dan keislaman. Bahkan hingga remaja, ia belum bersentuhan langsung dengan bisnis batik keluarganya. Setelah menyelesaikan sekolah, ia menikah pada usia 21 tahun dan merantau ke Jakarta. Ia bekerja di perusahaan ekspedisi muatan kapal. Istrinya tetap tinggal di Solo dengan beraktivitas seperti biasa, membantu bisnis batik keluarganya.
“Istri saya sejak sekolah dasar memang sudah suka membantu jualan ke Pasar Klewer,” kata Sulaiman saat ditemui di rumahnya, Jl Sidoluhur 75, Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Kamis (22/3).
Setelah lima tahun merantau, pada 1976, ia pulang dengan meneruskan bisnis batik orangtuanya yang sempat vakum. Saat itu, memang belum banyak kendala berarti. Segala kebutuhan mulai dari peralatan dan tempat usaha sudah tersedia. Demikian juga bahan baku seperti malam, obat pewarna hingga kain putih mudah didapat.
“Saya mulai pertama dengan batik tulis satu hingga dua potong,” lanjutnya.
Batik tersebut tidak ia pasarkan sendiri, dititipkan ke perusahaan yang sudah dulu berdiri seperti Batik Danarhadi, Semar atau Keris. “Dengan sistem titip tersebut, saya dapat tahu permintaan pasar dan kualitas produk, kalau laku, berarti ada jaminan mutu dan tahu selera pasar.”
Setelah itu, ia mulai memasarkan sebagian sendiri ke beberapa daerah di Indonesia hingga mencoba merambah pasar di Malaysia.
Makin tahun usahanya terus meningkatkan produksi. Untuk menambah kuantitas, ia membuat batik sistem printing atau cetak. Namun begitu, ia tetap memproduksi batik tulis halus maupun cap. “Kebutuhan tidak bisa dicukupi dengan tulis, apalagi permintaan dari Malaysia yang besar, makanya saya ke printing,” ungkapnya.
Ia berkonsentrasi ke pasar Malaysia pada 1990-an ke kawasan Langkawi yang bebas cukai.
Ia membuat motif batik yang banyak digemari masyarakat Malaysia dengan warna cerah dan motif aneka bunga. Saat itu, ia juga bekerja sama dengan perajin batik di Trengganu dan Kelantan. Selain mengirim batik jadi, ia juga memasok bahan baku berupa kain putih batik dan obat-obatan yang rupanya produknya tersebut menggeser produk sejenis dari Thailand. Saat itu, batik mulai laris sehingga produksi di kawasan Trengganu dan Kelantan tersebut tak memenuhi kebutuhan hingga mendatangkan dari Solo.
Sumber: http://www.solopos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s