Selalu Mendukung Apapun Pekerjaan Suami

Posted on

Minggu, 22/05/2011 09:00 WIB – Sri Ningsih
Kisah sukses pengusaha kuliner Hengky Herendra Dewantoro tak lepas dari peran sang istri Ita Maliza. Sejak menikah tahun 1997 atau 14 tahun silam, Ita selalu mendukung apapun usaha suami dalam mencari nafkah.
“Sebagai istri saya selalu menghargai apapun pekerjaan suami. Apalagi ketika menekuni usaha ini (warung pecel), dari awal saya support dengan semangat dan doa,” kata Ita.
Belasan tahun hidup berdampingan dengan suami, Ita tak pernah mengeluh meski perekonomian keluarga sempat goyah. Apalagi saat usaha garmen yang pernah ditekuni keduanya gulung tikar. “Ya kita buka usaha baru lagi, yaitu bisnis makanan yang juga kesukaan kita,” ujarnya.
Di bisnis baru suaminya, Ita yang berlatar belakang pendidikan kepariwisataan juga cukup berperan. Sumbangan ide-ide dalam upaya memajukan usaha turut mewarnai setapak demi setapak kerja keras suaminya. “Koleksi barang antik yang dipajang di tempat usaha diharapkan mampu menarik perhatian pengunjung sehingga mau datang lagi,” ungkap Ita.
Terkait penghasilan suami, perempuan kelahiran 6 Maret 1978 ini tidak banyak menuntut. Menurutnya, berapapun besarnya harus disyukuri. “Banyak atau sedikit harus disyukuri dan jangan komplain, sehingga suami dalam bekerja terasa ringan dan tidak terbebani,” kata Ita.
Gemari Barang Antik dari Jawa Timur
Minggu, 22/05/2011 09:00 WIB – Sri Ningsih
Uniknya Warung Pecel Solo milik Hengky Herendra Dewantoro tak lepas dari kesukaan si empunya warung terhadap benda-benda kuno nan antik. Bahkan perburuan benda-benda antik itu dimulai sejak 1994 silam saat Hengky masih berbisnis garmen. Kala itu barang-barang antik koleksinya juga di-display di toko garmennya.
“Mengoleksi barang antik khas Jawa memang sudah menjadi hobi. Selain itu saya juga senang mendekor ruangan dan tempat usaha untuk menampilkan suasana yang berbeda,” ujar Hengky.
Bagi Hengky, memilih barang-barang antik untuk dijadikan koleksi tak semudah yang dibayangkan. Dia harus rela berburu sampai ke luar kota terutama daerah Jawa Timur. “Benda antik di Jawa Timur memiliki usia yang paling tua dengan latar belakang Kerajaan Majapahit. Benda antiknya bernilai seni tinggi dan masih sangat primitif,” ungkapnya.
Selain itu, Hengky lebih memilih benda antik asli dari desa karena selain bentuk dan modelnya benar-benar kuno, benda tersebut pasti berusia tua. Gaya kemodernannya pun nyaris tidak ada. “Biasanya juga tanpa polesan gaya modern,” katanya. Apakah Hengky ingin menjual barang-barang antiknya kelak karena harganya selangit? “Tidak,” jawabnya tegas.
Dia malah bercerita, suatu ketika saat bisnis garmennya gulung tikar ada keinginan untuk menjual barang-barang antiknya sebagai tambahan modal. Namun karena kecintaan yang mendalam terhadap koleksinya itu, akhirnya ia kubur dalam-dalam keinginan tersebut. “Usaha garmen nyaris gulung tikar pada tahun 2002 karena banyaknya pesaing. Tapi saya tetap enggan menjual aset benda kuno dan memilih cari jalan lain,” jelas Hengky.
Sementara, untuk mendukung hobinya, Hengky juga memiliki galeri foto Hitam Putih yang terletak di Jalan Palagan, Yogyakarta. Di galeri yang belum lama ia bangun itu terpajang berbagai macam foto-foto kuno dengan warna masih hitam putih.
Raup Untung dengan Melestarikan Makanan Tradisional
Minggu, 22/05/2011 09:00 WIB – Sri Ningsih
Kebanyakan orang, bisnis berdagang bertujuan untuk mencari keuntungan semata. Tapi tidak dengan Hengky Herendra Dewantoro, pengusaha Warung Pecel Solo. Baginya, merintis usaha warung pecel sekaligus untuk melestarikan makanan tradisional Jawa dan benda-benda kuno.
Di tempat usahanya di Jalan Dr Soepomo 55 Mangkubumen, Solo gaya interior warungnya penuh dengan display barang-barang kuno nan antik. Beragam barang antik tertata rapi seperti meja lurah, dingklik, gerobak, lesung, almari-almari kuno, gebyok, lampu-lampu dan toples-toples kuno.
”Saya memilih usaha kuliner dengan makanan pecel sebagai menu utama karena saya memang penyuka sayur. Sebab sayuran sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang semakin lama semakin mahal,” ujar Hengky, pekan kemarin.
Selain pecel, Hengky juga menyediakan aneka masakan Jawa khas Solo seperti garang asem, nasi liwet, dan aneka sayuran. Disajikan dengan gaya tempo dulu yaitu menggunakan anyaman bambu beralaskan daun pisang. Selain itu juga tersedia aneka minuman beraroma rempah alami seperti beras kencur, temu lawak, kunir asam sirih, dan jahe pandan gula Jawa. “Pecel Solo ini juga sering masuk dalam daftar kunjungan para turis mancanegara ketika mereka singgah di Kota Bengawan ini,” ucapnya.
Suasana tradisional semakin lengkap dengan suguhan lagu klenengan Jawa yang mengalun lirih. Tak hanya itu, sesekali grup musik cokekan juga tampil langsung membawakan lagu-lagu Jawa di antara riuhnya para pembeli. “Ini agar suasananya lebih bersahabat dan pengunjung betah berlama-lama di Warung Pecel Solo,” kata Hengky.
Dengan Hati
Berbicara perihal kesuksesannya berbisnis kuliner, bapak empat anak ini berujar selalu berpikiran optimis di setiap langkahnya. Berbisnis apapun menurutnya harus dijalani dengan hati. “Saya yakin dengan usaha ini karena saya selain senang juga memiliki konsep yang berbeda dengan rumah makan pada umumnya,” paparnya.
Keberhasilan pria lulusan D3 akuntansi California, Amerika Serikat ini diawali saat kondisi perekonomian keluarganya mengalami keterpurukan. Bermodal keyakinan, ketekunan, dan materi yang terbatas Hengky memberanikan diri untuk memulai usaha warungnya.
Awal usaha dibuka, strategi yang diterapkan Hengky cukup jitu. Sebagai promosi ia manfaatkan para relasi terdekat agar mau berkunjung dan mencicipi menu di warung makannya secara gratis. Ia yakin dengan cara getok tular ini akan mendatangkan banyak pengunjung.
Usaha yang ia rintis sejak tahun 2003 itu kini telah memiliki sejumlah cabang seperi di Kota Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Bahkan warungnya di Surabaya memiliki omzet dua kali lipat jika dibandingkan di Jakarta saingannya lebih banyak.
“Semua itu yang terpenting juga adalah dukungan dan doa dari seorang ibu. Seberapa banyak materi yang kita kumpulkan, doa ibu lebih berharga di perjalanan kesuksesan anaknya,” katanya.
Sri Ningsih
Sumber :http//www.harianjoglosemar.com

Iklan

Satu respons untuk “Selalu Mendukung Apapun Pekerjaan Suami

    Fiki Maulani said:
    Mei 6, 2016 pukul 3:30 pm

    Halo..
    Kami butuh kontak langsung ke Pak Hengky. Krn kami konsumen yg telah di kecewakan oleh pihak Pecel Solo cabang Jogja.
    Pesen utk prasmanan 50 orang dgn DP 50%, ketika hari H tidak ada dan tidak ada kompensasi sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s