Pesinden Vs Pembalap

Posted on

Minggu, 08/05/2011 09:00 WIB – Bonus Wibowo Bramhartyo
Pernikahan adalah menyatukan dua insan yang berbeda dalam sebuah ikatan suci. Perbedaan itu selain dari sisi jenis kelamin, kadang juga perbedaan sifat dan profesi. Itu pula yang dialami oleh Sruti Respati dengan suaminya Wahyu Wijayanto.
Sebagaimana diketahui, Sruti selain disibukkan dengan kegiatan mengajar Bahasa Jawa di SMU Negeri 4 Solo, ia juga seorang penari serta penyanyi yang cukup familiar. Kesibukannya yang identik dengan keluwesan dan lemah lembut itu tentu bertolak belakang dengan profesi suami yang seorang pembalap grasstrack.
“Unik juga sih kami berdua ini. Hobi saya yang suka kebut-kebutan dalam ajang grasstrack, sementara sang istri dituntut harus tampil necis dan anggun tiap kali pentas,” ujar Wahyu Wijayanto.
Sejak kenal pertama kali dengan Sruti, perasaan ilfil (ilang feeling) sempat membayanginya. Kekhawatiran apakah nanti bisa saling mengenal, mengingat background kepribadian yang berbeda. Namun, justru dengan keunikan itu mereka ternyata bisa berkenalan, dekat, berpacaran, dan akhirnya menikah.
“Sampai detik ini kami pun terkadang masih sempat bertanya-tanya kenapa kok bisa ketemu dulunya. Tapi namanya juga jodoh, kami berdua jadi lebih tahu dan menghargai latar belakang masing-masing. Saya jadi lebih tahu tentang seni, begitu juga istri lebih tahu tentang dunia balap,” jelasnya.
Wahyu menambahkan, seiring berjalannya waktu mereka berdua berkomitmen untuk lebih memfokuskan pada keluarga. Kesibukan-kesibukan masa muda dulu sedikit bisa dikurangi demi proses perkembangan sang buah hati. Kepentingan keluarga menjadi yang utama bagi mereka. “Supaya waktu tak banyak tersita, kini saya memilih membuka sekolah balap saja,” imbuh pria yang juga punya usaha mebel ini. n Bonus Wibowo Bramhartyo

Kental dengan Tradisi Jawa
Minggu, 08/05/2011 09:00 WIB – Bonus Wibowo Bramhartyo
Sejak kecil Sruti Respati memang tidak asing dengan tata krama Jawa. Ayahnya, Sri Joko Raharjo yang seorang dalang dan ibunya Sri Maryati seorang pesinden kenamaan, turut mewarnai kepribadiannya.
Logat bicara menggunakan bahasa Jawa halus memang sudah akrab dikeseharian Sruti. Saat menginjak remaja dirinya malu jika bicara berlogat ngoko, apalagi dengan orang yang lebih tua. “Malu ya jika harus berbicara ngoko pada orang yang lebih tua,” ungkap Sruti.
Bahkan saat berbicara dengan bahasa Inggris, aksen Jawa pun masih sangat terasa. “Memang sih pengaruh gaya hidup modern juga turut mempengaruhi, dan malahan dulu sempat sejenak berpaling dari budaya Jawa,” katanya.
Diakui Sruti, meski terlahir dari sepasang seniman Jawa yang mengagungkan tradisi tata krama, dia tidak menutup diri pada kehidupan modern. “Meski saya dibesarkan di keluarga seniman Jawa, keinginan untuk mencicipi indahnya hiburan modern cukup besar. Saya pun mendengarkan musik barat, jajan makanan cepat saji, dan lain-lain,” ujarnya.
Spesialis Menyanyi Lagu Jawa
Minggu, 08/05/2011 09:00 WIB – Bonus Wibowo Bramhartyo
Nama Sruti Respati di belantika kesenian Kota Solo tentu sudah tidak asing lagi. Kepiawaian seniman muda ini dalam olah vokal memang sudah tidak diragukan. Berbagai penghargaan karena bakatnya pun banyak yang mampir keperempuan 30 tahun ini.
Bakat menyanyi Sruti ternyata sudah ada sejak dirinya masih berusia kanak-kanak. Kala berusia delapan tahun, ia tidak pernah lupa menyanyikan lagu-lagu Jawa dan daerah saat sedang mandi. Bahkan saat bernyanyi itu, ia sering berkhayal bak superstar yang sedang menghibur penggemarnya.
Dari situ, karakter dan kekhasan suara (lengkingan) Sruti remaja mulai terbentuk. Dia pun mulai berani tampil di depan umum seperti di acara-acara kampung semisal 17-an Agustus. “Lingkungan seni memang sudah akrab sejak kecil. Awal karier memang menyanyi di kamar mandi hingga acara 17-an Agustus,” ungkap Sruti, belum lama ini.
Kepercayaan diri Sruti kian bertambah seiring bertambahnya usia dan cita-citanya untuk menjadi penyanyi profesional. Sejak tamat SMP pada tahun 1995 di Sekolah Kristen Samaria, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, niatnya menjadi penyanyi profesional kian mantap. “Dulu, antara menari dan menyanyi sama-sama saya sukai. Namun tantangan menyanyi ternyata lebih kompleks, sehingga saya putuskan untuk fokus, terutama untuk lagu-lagu Jawa,” terangnya.
Untuk mendukung hobi menyanyi lagu-lagu Jawa, Sruti sengaja mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jawa di UNS. Bahkan, untuk memperluas bakatnya, ia juga aktif mendalami seni suara serta akting di kampus. “Ini juga bagian dari nguri-nguri budaya Jawa,” ujar alumni SMU 2 Sukoharjo ini.
Bermain drama tradisional atau ketoprak, beradu akting di beberapa stasiun televisi nasional juga pernah Sruti lakoni. Dari pengembaraan itu, akhirnya ia bisa mengenal sejumlah komposer seperti Darno Kartawi dan Dedek Wahyudi untuk belajar lebih banyak.
“Berawal dari bangku perkuliahan, saya mulai mengenal sejumlah pekerja seni yang andal. Di situlah pembelajaran berarti tentang esensi berkesenian didapat, dan sekaligus membantu saya dalam melahirkan ide-ide kreatif,” jelas Sruti.
Sruti juga sering terlibat dengan sejumlah seniman kenamaan, sebut saja almarhum I Wayan Sadra, Sujiwo Tejo, dan Slamet Gundono dalam melahirkan karya-karya kreatif di event spesial mereka. Ia juga sempat berkolaborasi dengan Vicky Sianipar dalam album Indonesian Beauty, Yen Ing Tawang Ono Lintang. n Bonus Wibowo Bramhartyo
Pernah Jual Beli Kayu di Sumatra
Minggu, 01/05/2011 09:00 WIB – Bonus Wibowo Bramhartyo
Semenjak lulus SMA, Yulianto Wibowo Kusumo bercita-cita melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Fakultas Ekonomi. Walhasil, pertengahan tahun 1987 lalu ia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berawal dari situlah, ia mulai memahami bagaimana mengaplikasikan ilmu terapan ekonomi pada dunia perbisnisan.
Selama kuliah empat tahun di UII belum terlintas di pikiran Yulianto bakal menekuni dunia properti. Ia malah sempat mengalami kebingungan jika lulus nanti mau jadi apa, mengingat tak sedikit sarjana ekonomi yang menganggur. Akhirnya, bayangan untuk berbisnis mulai muncul selang beberapa bulan setelah ia diwisuda.
“Awalnya saya tertarik dengan tawaran bisnis kawan lama yakni jual beli kayu. Dengan penuh optimis, akhirnya saya putuskan untuk merantau ke luar Jawa. Setelah beberapa tahun di sana, puji syukur Alhamdulillah bisnis yang saya kembangkan di Sumatra dan Kalimantan mulai menghasilkan,” kata Yulianto, bangga.
Waktu demi waktu terus berlalu dan pundi-pundi rupiah pun mulai terkumpul. Semenjak itu ia mulai bangga bisa menabung dari hasil jerih payahnya sendiri. Paling tidak, setiap beberapa minggu Yulianto bisa mentransfer uang ke Jawa. Tapi itu tidak berlangsung lama karena dia memutuskan untuk menikah dengan Ida Andriyani dan pindah ke Jawa.
“Demi menjaga keharmonisan dan tanggung jawab pada keluarga, akhirnya saya memilih pindah ke Solo sekitar tahun 1997. Meski berat rasanya meninggalkan sebuah daerah yang penuh keberuntungan, tapi mengingat roda kehidupan terus berputar, secepatnya saya harus menemukan pekerjaan yang layak. Dan bisnis properti menjadi pilihan saya,” ungkapnya.
Bonus Wibowo Bramhartyo
Sukses dengan Label “Sarjana Kuburan”
Minggu, 01/05/2011 09:00 WIB – Bonus Wibowo Bramhartyo
Bagi sebagian orang berbisnis adalah sesuatu yang menakutkan karena kekhawatiran bakal merugi. Tapi itu tidak berlaku bagi Ketua Real Estate Indonesia(REI) Solo, Yulianto Wibowo Kusumo, yang kini menekuni bisnis properti.
Keyakinannya menekuni dunia properti memang sudah mantap. Bahkan jenis bisnis yang digelutinya saat ini tidak pernah mendatangkan kerugian, tapi hanya keuntungan yang tertunda. Apalagi harga tanah setiap tahun terus mengalami kenaikan seiring bertambahnya jumlah penduduk.
“Catatan terpentingnya adalah bahwa berbisnis itu sama halnya mengelola risiko. Artinya, kita dituntut untuk bisa meminimalisir risiko yang mungkin terjadi,” ujar Yulianto, pekan kemarin.
Kemantapan hatinya memilih bisnis properti juga didasarkan pada pengamatannya mengenai jumlah penduduk khususnya di Solo yang terus mengalami kenaikan. Dicontohkannya, sekitar tahun 2000 lalu jumlah kepala keluarga (KK) tercatat 400.000 KK, tapi setahun kemudian angka tersebut berubah drastis menjadi 600.000 KK.
“Kondisi semacam ini selalu terjadi setiap tahun dan angka pertumbuhan penduduk terus naik. Kenaikan itu otomatis turut mendongkrak nilai jual perumahan di Solo dan sekitar,” jelas Yulianto.
Kesuksesannya di bisnis properti saat ini memang tidak datang sendiri dari langit. Butuh perjuangan keras serta keyakinan yang kuat untuk menggapai keberhasilan itu. “Jika kamu yakin berhasil, segera lakukan. Jangan menunggu terlalu lama hingga orang lain mendahului. Jangan sampai ide-idemu hanya sebagai penghias bibir, kerjakanlah sesuai keyakinan dan kemampuanmu meski risiko membayangi,” tegasnya.
Belajar dari pengalamannya dulu, Yulianto menuturkan ada sejumlah resep untuk memupuk sebuah kesuksesan. Poin penting pertama yang mesti diperhatikan dalam berbisnis adalah adanya konsep yang jelas. Artinya, respons pasar atau masyarakat tentang barang yang akan kita jual harus benar-benar diketahui. “Jangan sampai barang berkualitas bagus namun tak berarti di pasaran, sehingga bisa-bisa modal ludes hanya untuk biaya produksi,” ungkapnya.
Kedua, mengutamakan bisnis transformasi kepercayaan yaitu dengan memperlebar jaringan sosial kepada pengusaha lain. Selain itu, jangan pernah takut bersaing dan harus yakin bahwa barang dagangan kita mampu memberi servis atau pelayanan terbaik bagi konsumen.
Kemudian, ketiga adalah menjaga kualitas, karena mayoritas orang Jawa masih mewarisi pola pikir niteni produk-produk yang sekiranya membawa manfaat. Resep terakhir, agar sukses maka selalu tetap mengingat-Nya, apapun kondisinya. Sebab semua lini kehidupan, termasuk hal berbisnis kendalinya tetap mengerucut ke atas.
“Jika resep terakhir ini diabaikan maka sifat sombong dan menganggap dirinya paling sempurna akan menyergap dan malah balik menyerang. Sehingga cepat atau lambat tunggu saja kehancuran bisnisnya,” tukasnya.
Dari pengalamannya, Yulianto telah membuktikan berkali-kali. Ibadah sunah seperti salat malam dan memberi sedekah, yang rutin ia kerjakan sangatlah membantu dalam menjalani aktivitas hidup. Selain itu, bakti kepada orangtua juga memberi andil besar dalam kariernya.
“Jika orangtua sudah tidak ada maka wujud bakti kita yaitu mendoakan dan sering ziarah ke makamnya. Saya sendiri sering berziarah ke makam para leluhur, dan tak sedikit teman-teman yang menyebut saya sebagai sarjana kuburan,” tambahnya.
Sumber :http//www.harianjoglosemar.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s