Mbelani Wong Cilik Tak Lagi Slogan

Posted on

Nama Agus Fatchur Rahman tentu tidak asing bagi masyarakat Sragen. Bersama Daryanto, keduanya secara resmi memimpin Kabupaten Sragen untuk lima tahun mendatang. Kemenangan keduanya pada Pilkada Sragen April lalu cukup mengejutkan semua pihak dan sungguh tidak dinyana.
Saat berbincang dengan Joglosemar di ruang kerjanya pekan kemarin, Agus mau sedikit berbagi cerita perihal perjalanannya meraih kursi nomor satu Sragen. Kemenangan Agus tak lepas dari kesetiaannya menyerap aspirasi masyarakat akar rumput saat masih menjabat sebagai wakil bupati selama 10 tahun mendampingi mantan Bupati Untung Wiyono.
“Kemenangan yang kami raih bukan perkara kepintaran, tapi bagaimana mampu mengartikulasikan kebutuhan rakyat. Sehingga saya ini hanyalah sebagai kanal bagi kemantapan selama 10 tahun (menjabat wakil bupati),” ujar Agus.
Selama menjadi wakil bupati, bangunan jaringan politik Agus cukup kuat di semua lapisan masyarakat. Melalui kendaraan Partai Golkar, ia mencoba mengonversikan aspirasi masyarakat Sragen selama 10 tahun terakhir melalui slogan Mbelani Wong Cilik. “Begitu rakyat memberikan pilihan, saya menjadi yakin bahwa sesungguhnya masih ada ketulusan di hati rakyat untuk mendukung saya,” kata Agus.
Pengabdian adalah prinsip yang tertanam di benak Agus ketika menduduki jabatan sebagai Wakil Bupati Sragen selama 10 tahun. Hal itulah yang mungkin menjadi alasan kuat masyarakat Sragen untuk memberikan restu kepadanya kembali menjadi pemimpin.
Tapi kini meski jabatan sebagai orang nomor satu sudah di genggaman lantas tidak membuat Agus otoriter, jemawa, dan sombong. Namun justru sebaliknya, sifat kesahajaan selalu ditunjukkannya bahkan dengan siapa pun. “Mau dirumuskan dengan sistem leadership (kepemimpinan—red) apapun, yang terpenting adalah sikap kesahajaan,” ungkapnya.
Terkait slogan Mbelani Wong Cilik saat kampanye, Agus mengaku kalimat itu memiliki makna mendalam. Slogan itu terinspirasi dari tesisnya untuk menyelesaikan S2 di Fakultas Hukum UNS empat tahun lalu. “Melalui slogan itu saya berpikir bahwa saya itu wong cilik. Jadi masyarakat yang membaca atau calon pemilih bisa mbela saya sebagai wong cilik pula,” imbuhnya.
Setelah resmi menjabat sebagai Bupati Sragen, Agus semakin tidak main-main dengan kalimat slogan itu. Slogan itu kini menjadi amanah dan tugas yang harus konsisten diwujudkannya. “Dengan slogan itu saya harus menggerakkan jalannya pemerintahan dengan rasa tanggung jawab. Jadi ini suatu amanah dan menjadi amalan bagi saya di dunia,” ungkapnya.
Sektor Pertanian Menjadi Perhatian Khusus
Sabtu, 28/05/2011 20:56 WIB – Sri Ningsih
Sektor pertanian menjadi perhatian utama Bupati Agus Fatchur Rahman selama memimpin Sragen lima tahun mendatang. Sebab sektor yang menjadi penyangga hidup orang banyak itu dianggap belum berhasil maksimal selama dirinya menjabat sebagai wakil bupati dua periode kemarin.
“Warisan persoalan yang harus saya selesaikan di era kepemimpinan kali ini salah satunya mengenai pertanian. Sektor ini penting karena Sragen menjadi kota penyangga pertanian Jawa Tengah,” ujar Agus.
Konkretnya, Agus ingin segera memperbaiki pertanian di Sragen yakni dengan menciptakan inovasi-inovasi. Di antaranya memutus panjang mata rantai distribusi gabah dari petani hingga Bulog yang melewati lima tangan. Distribusi panjang itu menyebabkan keuntungan para petani semakin kecil. “Misal, jika pemerintah menetapkan harga gabah kering panen (GKP) di Bulog sebesar Rp 1.400 per kilogram, maka bisa jadi petani hanya menikmati harga kurang dari Rp 1.000,” ujar Agus.
Keprihatinan lain Agus yaitu ketergantungan para petani terhadap penggunaan pupuk kimia yang menyebabkan biaya operasional makin mahal dan mengurangi kesuburan tanah. Sebagai solusi, anggaran subsidi untuk pupuk kimia dialihkan ke bidang peternakan sehingga dapat menunjang penyediaan pupuk organik. “Ini digagas guna membiasakan petani dengan pupuk organik. Di sisi lain ini akan lebih menghemat keuangan daerah,” jelas Agus.
Sebagai wujud dukungan terhadap sektor pertanian, Pemkab Sragen juga bakal memperbaiki sistem kerja dari Perusahaan Daerah Pelopor Alam Lestari (PD PAL) yang selama 10 tahun terakhir masih mengalami kerugian. Perusahaan yang berdiri berdasarkan SK Bupati No 15 Tahun 2002 itu memiliki dua misi utama yaitu meningkatkan taraf hidup petani dan mempromosikan pertanian organik Kabupaten Sragen. “Saat ini PD PAL untuk sementara tidak difungsikan karena mengalami kerugian mencapai Rp 4 miliar dalam 10 tahun terakhir,” kata Agus.
”Awalnya ini (PD PAL) diadakan sebagai penyangga harga gabah petani, tapi praktiknya mengalami kerugian. Sehingga tahun depan saya berkeinginan untuk menjalankan sistem yang baru untuk memperbaiki kondisi pertanian Sragen. Yang terpenting adalah harga petani tidak dipermainkan oleh pihak lain,” tambahnya.
Obsesi lain selama menjabat sebagai bupati yaitu mewujudkan pendidikan yang ramah dan terjangkau, yang difokuskan pada anak-anak dengan latar belakang keluarga kurang mampu. Langkah pertama yaitu dengan melakukan kategorisasi masyarakat kurang mampu.
“Tahun ini kita akan validasi data masyarakat kurang mampu, kemudian kita akan berikan wilayah-wilayah pelayanan yang berbeda bagi mereka. Saya punya impian ke depan orang-orang miskin datang ke rumah sakit cukup hanya dengan membawa KTP. Dan tidak ada diskriminasi terhadap orang-orang miskin,” jelas Agus.
Sering Nongkrong di Angkringan untuk Ketemu Rakyat
Sabtu, 28/05/2011 20:56 WIB – Sri Ningsih
Meski sudah menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di Kabupaten Sragen, Agus Fatchur Rahman tidak ingin meninggalkan kebiasaan lamanya menyambangi “remang-remang”. Berada di “remang-remang” atau nongkrong di warung angkringan memang kegemarannya sejak masih menjabat sebagai wakil bupati selama dua periode. “Sudah lama saya melakukan itu (nongkrong di angkringan). Itu bukan karena gaya-gayaan agar saya dipilih jadi bupati,” katanya.
Bagi Agus, kebiasaan nongkrong di angkringan bernilai positif yaitu sebagai salah satu bentuk sosialisasi kepada masyarakat. Dengan cara pendekatan yang persuasif, apapun yang ingin disampaikan kepada rakyat menjadi mudah dan seolah tanpa sekat. “Semakin orang tidak tahu kalau saya bupati malah akan semakin bagus. Dan kalau di angkringan saya tidak pernah dikawal sama siapa pun, paling cuma ngajak satu atau dua orang teman,” ungkapnya.
“Saya punya pikiran bebas dan egaliter, dan itulah yang terkadang membuat obrolan semacam kritik bisa lepas dan cair. Selain itu saya bisa mendengarkan secara langsung dari masyarakat,” tambah Agus.
Keuntungan lainnya yaitu Agus bisa berpikir kreatif secara pribadi karena sering berbaur dengan masyarakat. Tak hanya itu, diharapkan juga muncul ideologi baru yang ia beri nama warungisme. “Saya umpamakan warungisme itu bisa dijadikan antitesis dari dunia gemerlap malam pada umumnya seperti di hotel, night club, maupun kafe yang biasa disambangi para pencinta dugem,” jelasnya.
Selain itu, saat di angkringan sesungguhnya tidak ada tingkat kederajatan yang membatasi, dan ada pelajaran yang dipetik dari kerakyatan namun ada juga sisi-sisi keadilan sosial. “Dan itu tidak bisa ditemukan di forum-forum manapun,” ungkapnya.
Sri Ningsih
Sumber :http//www.harianjoglosemar.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s