Daryanto Direktur yang kini mengabdi

Posted on

Kursi empuk di ruang tunggu Kantor Bupati-Wakil Bupati Sragen, Sabtu (4/5) pagi, dipenuhi tamu, di antara mereka akan menghadap nomor dua di Bumi Sukowati, Daryanto. Ketika Espos masuk ke ruangan yang sejuk dan berhias anggrek bulan warna putih, dia masih menyelesaikan pekerjaannya. “Sebentar ya saya selesaikan dulu,” sapa dia tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Tumpukan berkas memenuhi meja Daryanto. Tangannya pun secara cekatan membolak-balik berkas dan sesekali menorehkan tanda tangan. Tampak betul pagi itu, Daryanto ingin menun taskan pekerjaan sebelum libur akhir pekan tiba.
Sama halnya bekerja di swasta, dirinya ingin semua pekerjaan berjalan perfect (sempurna), te pat waktu dan berkualitas. Kunci utamanya adalah disiplin. Daryanto ingin membuang kesan pelayanan oleh pemerintahan itu mengulur waktu dan berbelit-belit. Apa yang bisa dikerjakan hari ini, Daryanto tak akan menundanya esok hari. Dia mengungkapkan tidak ada yang berbeda dengan ritme kerjanya dulu sebagai Direktur Utama dan Komisaris perusahaan asuransi jiwa di Jakarta dengan jabatan Wakil Bupati Sragen saat ini. Semua prinsip bekerja di perusa haan swasta seperti cekatan, disiplin dan memberikan pelayanan prima tetap dipegangnya.
“Ini yang ingin saya tularkan pada staf dan jajaran birokrasi lainnya, terutama mereka yang langsung bersinggungan melayani masyarakat,” jelas dia.
Bekerja 18 tahun di perusahaan swasta yang bergerak di bidang asuransi, kemudian mendiri kan PT Metropolitan Krida Jaya dan PT Jiwa Nusantara, Jakarta, Daryanto paham betul bagaimana mengawali kariernya yang dari nol itu. Dirinya yang kala itu tak memiliki modal besar mendapat bantuan dari teman-temannya sepakat merintis usaha bersama. Mereka tentunya tak serta-merta membantu, di antara mereka juga mempelajari track record pengelolaan perusaha an yang telah dipimpinnya selama ini.
“Saya ndak punya uang tapi saya punya teman-teman yang percaya pada saya. Kepercayaan itulah yang turut mengantarkan saya hingga meraih ini semua,” jelas dia.
Kreatif
Ritme kerja dan pola pikir selama berada di perusahaan swasta takkan dilepas walau dia sudah di birokrasi. “Pelajaran hidup di lingkungan swasta membuat seseorang itu kreatif dan pantang menyerah. Dan kini saya pikir perjuangan dan semangat seperti ini harus terus ada guna mem berikan pelayanan prima pada masyarakat,” ungkapnya.
Meski semua pencapaian hasil kerja keras ini terlihat on planning, sejatinya bapak dua orang anak mengaku tak memiliki mimpi atau rencana muluk-muluk. Termasuk untuk memberikan perubahan pada Sragen. Daryono meyakini dengan pengelolaan yang tepat dan kemauan serta kerja keras, roda pemerintahan berjalan lebih dinamis. Bagi dia, kerja dan rekasa bukan hal asing lagi. Mengulas filosofi hidupnya ini, sejenak dirinya teringat masa kecilnya bersama sebe las saudaranya. Ya, kala dia tinggal bersama ayahnya, Padmo Suwiryo, seorang PNS. Keada an inilah yang membuatnya harus tegar dan mandiri meski terkadang getir kehidupan membuat Daryono sempat mengaku  takut bermimpi.
“Saya ini anak ketujuh dari sebelas bersaudara. Gimana mau bermimpi jadi apa? Yang ada ya kerja dan berusaha itu saja,” ungkapnya.
Daryono beranggapan orang boleh tak punya mimpi namun tetap harus punya motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Dia percaya loyalitas, ketekunan dan menjaga kepercayaan akan membuat perjalanan hidup terasa lebih ringan. Sikap positif itu pula yang membantunya tatkala dia memutuskan diri keluar dari perusahaan tempat dia 18 tahun bekerja. Jabatan seba gai pimpinan wilayah Jateng dan Jatim ditinggalkan demi karier.
Dengan bantuan teman-temannya pula dia mendirikan perusahaan. “Perjalanan hidup pun membawa saya ke titik ini, pengabdian. Di sini niat saya tidak cari uang lagi tapi aktualisasi diri dan melayani masyarakat Sragen,” jelas dia
Hidup itu harus jujur
Medio 1987 adalah masa-masa prihatin yang tak terlupakan bagi Daryono. Kala itu dirinya ma sih duduk di bangku kuliah. Dengan berbekal uang saku minim dari orangtua, dia pun harus memutar otak untuk melanjutkan pendidikannya.
“Saat itu, orangtua hanya sanggup menyekolahkan saya sampai sarjana muda. Tapi, saat itu, saya punya keyakinan bisa lulus hingga sarjana,” kenang dia.
Dia mempercayai keyakinan itu butuh usaha riil. Mulai dari membuatkan ringkasan materi kuli ah, melayani teman-teman yang ingin fotokopi buku ataupun makalah hingga ngelesi dia lakoni.
Sesekali Daryono menyeruput kopi krimer di hadapannya, dia menghela napas dan mengambil jeda waktu sebelum menuntaskan ceritanya. Mata Daryono memang tak berkaca-kaca tetapi suaranya menjadi lebih berat kala menceritakan perjuangannya di bangku universitas.
“Saya dulu jadi rebutan teman-teman yang ingin belajar apalagi saat musim ujian tiba. Pernah saya sampai bikin jadwal pukul 09.00 WIB hingga 10.00 WIB dengan teman A, jam berikutnya dengan teman B,” ulasnya.
Daryono mengatakan loyalitas, setia kawan dan kejujuran menyelamatkannya dari situasi rumit tersebut. Buah manis menolong kawan-kawan itu pun Daryono mendapatkan hadiah berupa buku-buku kuliah, makan gratis dan lainnya.
Dia mengungkapkan sikap jujur dan mental tak mudah menyerah inilah yang membuat dirinya selepas kuliah tak pilih-pilih pekerjaan, mulai dari supervisor supermarket hingga karyawan per usahaan asuransi pun dijalani.
“Jabatan sekarang ini tak bisa menghilangkan sikap dan mental saya. Saya ini masih sama se perti Daryono yang dulu, yang biasa nentir dan ngelesi,” kelakarnya.
Dia mengatakan jabatan ini adalah amanah rakyat. Meski dirinya tak memprediksi bakal me nang dalam Pilkada, ada motivasi yang kuat untuk membuat Sragen lebih maju dan sejahtera. Tentang kekurangan dan kelebihan warisan pemerintahan dua periode lalu, Daryono tak mau menebak-nebak tanpa fakta dan data.
“Saya tidak mau sekadar ngomong, mengetahui kekurangan sistem lama berarti kami jadi tahu apa yang harus dilakukan saat ini,” ungkapnya.
Antara lukisan kuda dan golf
Meski tak lagi jadi pengusaha yang cenderung memiliki kebebasan waktu  untuk sak ka repe dewe. Dirinya berusaha untuk memahami dan mematuhi rule sebagai birokrat yang memi liki sejumlah agenda kegiatan berikut dengan protokolernya.
Pada awal masuk dunia pemerintahan, dia mengaku lebih sibuk daripada biasanya. Dalam be berapa hari, dirinya pernah memiliki kesibukan kantor hingga malam hari, bahkan pekerjaan yang belum terselesaikan pun harus dibawa ke rumah.
“Dulu jadi pengusaha boleh sak karepe dewe (seenaknya sendiri-red) tapi kini kebijakan sekecil apapun akan mempengaruhi rakyat. Jadi konsekuensinya, saya harus bekerja lebih keras untuk memberikan yang terbaik,” jelas dia.
Daryono mengungkapkan rutinitasnya kini membuat acara akhir pekan yang begitu dinantikan keluarga sering kali terkalahkan. Jika dahulu biasanya dirinya memiliki tiga hari off duty yakni Jumat, Sabtu dan Minggu, Daryono kini harus tetap sigap menghadiri acara maupun menjumpai tamu-tamu dalam acara formal.
“Yang komplain ya anak-anak karena waktu mereka bersama saya jadi berkurang ha ha ha,” ungkapnya sambil tertawa.
Jika sudah begini, kegiatan olahraga favorit seperti golf tak lagi sering menghiasi akhir pekan nya. Daryono mengatakan dulu dalam sepekan dirinya bisa tiga hingga empat kali bermain golf.
“Belum ketemu ritme yang tepat sehingga bisa meluangkan waktu di tempat golf favorit di Cangkringan, Yogyakarta lagi,” ujar dia.
Menurutnya, padatnya agenda acara tak boleh membuatnya justru nglokro. Untuk terus me mompa semangatnya, Daryono memasang lukisan kuda di ruang kerjanya. Kuda berwarna co kelat, bermata tiga dimensi dan memiliki garis putih di kepalanya itu memiliki arti yang menda lam bagi Daryono. Kuda adalah hewan yang tak kenal lelah, kuat, setia dan loyal kepada siapa saja. Dirinya pun ingin menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama. “Kuda ini memiliki makna bagi para pekerja keras,” ulasnya.
Suka kumpul dengan teman lama
Kristina mengenal Daryanto ketika duduk di bangku Kelas I di SMPN 1 Sragen. Meski tidak satu kelas, keduanya sudah saling akrab karena Daryanto supel dan ramah dengan siapa saja. “Temannya banyak, satu kelas atau lain kelas, semua kenal,” kata dia saat dihubungi Espos, Sabtu (4/6).
Saat SMP, nilai akademis Daryanto tidak terlalu menonjol. Kepintaran dirinya rata-rata para sis wa lainnya. Menurut Watik—panggilan akrab Kristina—yang spesial adalah Daryanto mudah akrab dan sederhana. Hingga jadi Wabub, Daryanto sangat low profile.
Setelah lulus, keduanya memilih sekolah berbeda. Kristina ke SMAN 1 Sragen dan Daryanto ke SMAN 2 Sragen. Namun demikian, Dar masih suka berkumpul dengan teman-teman SMP dia. “Kalau main ke rumah, suka makan bersama, kacang godok atau apa saja jadi santapan sama teman-teman.”
Setelah lulus kuliah, keduanya masih sering komunikasi. Watik pernah mendapat ”tugas” dari Daryanto untuk mengumpulkan teman-teman di SMP untuk reuni. “Saya diberi dana untuk me ngumpulkan teman-teman. Dikumpulkan, baik yang dulu teman SMP maupun teman SMA,” ke nang Watik.
Pertemuan secara periodik dengan teman-temannya hingga kini terus dilakukan, baik dalam bingkai acara resmi reuni atau sekadar kumpul bersama.
Penyokong dana pengajian
Sugeng mengenal Daryanto, orang nomor dua di Sragen, sejak kecil. Mereka menghabiskan masa anak-anak bersama di Mojomulyo, Sragen Kota. Di mata Sugeng, Daryanto adalah ka wan yang sederhana dan ringan tangan. “Teman yang kesulitan pasti dibantu sebisanya. Sifat ini terbawa sampai sekarang,” kata dia saat ditemui Espos Sabtu (4/6), di Sragen.
Hingga dewasa, Daryanto tetap dikenal rajin membantu para tetangga dan teman-temannya yang sedang dalam kesulitan. “Yang kesulitan ekonomi dibantu. Ada juga yang dibantu dicari kan pekerjaan. Beruntung saya punya teman seperti dia.” Kini, Daryanto sudah menjadi Wakil Bupati. Tentu kesibukannya berlipat ganda. Lantas, apakah sifat-sifat itu berubah? “Tidak!” te gas Sugeng.
Sampai sekarang, Mas Dar, demikian ia menyapa Daryanto, tetap seperti itu. “Walau sibuk, tetap berkomunikasi dan beliau bilang, kalau ada yang butuh bantuan, silakan saja,” ujar Kepala SDN 2 Blangu, Gesi ini.
Hingga kini, Daryanto juga biasa menopang aktivitas di lingkungan Mojomulyo. “Pengajian pengajian pasti Mas Dar yang menyokong dananya. Walau pengusaha sukses dan sekarang Wabup, dia sangat religius. Semoga sifat ini dapat diaplikasikan dalam tugasnya sehingga men jadikan masyarakat Sragen menjadi makmur dan sejahtera.”
Oleh : Dina Ananti Sawitri Setyani
Sumber ://www.solopos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s