Sukiyat Dulu tukang tambal ban, kini bos bengkel mobil

Posted on

Suara kompresor menderu-deru membelah keheningan. Di sebuah bangunan seluas 2.200 meter persegi itu, tiga puluh pekerja sibuk dengan alat masing-masing. Ada yang sibuk mengelas, berjibaku dengan peranti penyemprot cat sampai mengatur suhu oven mobil Hurricane yang berukuran sekitar lima kali tujuh meter.
Bau cat mobil menyeruak berpadu dengan halimun tipis yang masih menggelayut di sekitar bangunan yang di bagian depannya tertempel plakat besar bertuliskan Kiat Motor cat oven dan body repair, pencampuran cat sistem komputer, Jumat (4/3) pagi itu.

Di bengkel kerja itulah, mobil uzur, tergores dan luka karena serempetan sampai berbodi ringsek karena tabrakan bisa disulap menjadi mobil anyar. Gres seperti baru keluar dari dealer, bahkan kalau mau bisa lebih oke karena pilihan cat yang dipoleskan ada beberapa jenis. Mulai dari cat bunglon yang warnanya akan berbeda bila dipandang dari sudut yang berbeda sampai cat beraksen garis-garis tipis bak rumput dengan biaya sampai ratusan juta rupiah.
Hasil sempurna itu menjadikan bengkel Kiat Motor tersohor hingga ke luar Jawa dan jadi langganan artis sampai pejabat. Sebutlah seperti Guruh Soekarno Putra, Gubernur DKI Fauzi Bowo sampai mantan Kapolri Jenderal Pol Dai Bachtiar pernah menjadi pasien bengkel milik Sukiyat, 54, itu. “Yang jelas kami berusaha memberi nilai tambah pada mobil yang dibawa ke sini. Termasuk mengubah mobil lama dengan mesin baru,” ujarnya saat dijumpai Espos di bengkelnya, Kiat Motor Jl Jogja-Solo km 4 Ngaran Klaten.
Tukang tambal ban
Banyaknya pelanggan dari kalangan orang top, rupanya turut mendongkrak usahanya hingga memiliki omset miliaran rupiah. Padahal, awalnya usaha itu berangkat dari usaha jasa tambal ban di salah satu sudut Pasar Ledoksari Solo. “Tapi saya menerima perbaikan mobil dari semua kalangan,” tuturnya.
Kisah itu bermula setelah Sukiyat menamatkan pendidikan di bangku SMP. Lantaran kaki sebelah kirinya cacat akibat polio, Sukiyat disekolahkan di SMA Pegawai Solo sembari mengikuti pelatihan di Rehabilitasi Centrum (RC) Prof dr Soeharso. Di RC, Sukiyat sebetulnya tertarik mengikuti pelatihan yang berbau mesin.
Sayangnya, Sukiyat justru diminta mengikuti pelatihan menjahit. Meskipun awalnya tak suka, toh Sukiyat kemudian bisa mengikuti pelatihan menjahit. Alhasil, setamat SMA dan mengikuti pelatihan pada 1973, ia beserta kawan-kawannya di RC diminta bekerja di perusahaan konveksi dan percetakan yang dikelola Yayasan Harapan Kita Swaprasedyapurna Jakarta.
Di sana, ia mendapatkan tempat tinggal layak, makan enak dan gaji tetap sebesar Rp 7.500 per bulan. Sebagai difabel, ia merasa di tempat kerja itulah ia diperlakukan layaknya manusia normal. Tapi, Sukiyat tak mau larut dalam kenyamanan itu. Terlebih orangtuanya memintanya kembali ke desa. “Rupanya setelah setahun orangtua saya kangen. Padahal sebelumnya agak cuek karena saya anak yang berbeda sendiri,” kisahnya.
Kembali ke kampung halaman, anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Wiro Mulyono dan Parti yang menjadi pengusaha tenun lurik, penggilingan padi dan tembakau itu memilih bekerja di bengkel Sembada di Solo. “Saya jadi pegawai cadangan saat itu. Pekerjaan saya ngetap oli, menyetel rem sampai menyuci mobil,” kenangnya.
Sayangnya, baru tiga bulan bekerja, bengkel tempatnya bekerja kolaps. Sukiyat akhirnya mengikuti salah seorang karyawan di sana yang membuka bengkel di Mojosongo. Hanya, upahnya tak lebih sekadar uang makan yang jumlahnya minim.
Demi bisa menyambung hidup, sepulang dari bengkel malamnya ia membuka usaha jasa tambal ban di Pasar Ledoksari. Meskipun hasil dari tambal ban sedikit, Sukiyat tak mengeluh. Ia tetap punya mimpi bisa memiliki bengkel sendiri. “Uangnya dulu buat makan. Yang murah dulu belinya ketela sama mentimun. Sampai hari ini kalau makan mentimun saya senang. Mengingatkan tatkala susah. Tidak menyangka sekarang bisa membicarakan uang bermiliar-miliar rupiah seperti tadi,” ungkapnya seusai menyela menemui beberapa tamunya yang berasal dari Pertamina. Mimiknya tampak memelas dan mata berkaca-kaca.
Selangkah demi selangkah mimpinya mulai terwujud. Pada 1975, ia mendapatkan bantuan dari Yayasan Darmais sebesar Rp 75.000 untuk membangun bengkel di Dukuh Jotang Desa Kradenan Kecamatan Trucuk Klaten.
Awalnya, ia hanya melayani servis sepeda motor dan skuter. Pelayanan memuaskan dan hasil maksimal rupanya bikin pelanggan ketagihan. Akhirnya bukan hanya skuter dan sepeda motor, mobil pun mulai jadi pasien Sukiyat. Bahkan pada 1982, Sukiyat akhirnya mengedepankan perbaikan bodi mobil dan pengecatan dalam bisnisnya.
Sejak itulah, usaha Sukiyat melaju walaupun promosi hanya sebatas gethok tular. Usahanya kerap dijadikan contoh usaha percontohan penyandang cacat. Baik dari dalam maupun luar negeri. “Makanya sekitar tahun 1990-an ada orang Jepang yang berkunjung lalu memberikan subsidi bahan baku,” ujarnya.
Pada 2002, Sukiyat juga diminta mengikuti pelatihan di perusahaan cat tertua di dunia Spies Hecker China. Dari pelatihan itu, Sukiyat mendapatkan ide membuat cat bunglon dan rumput yang menjadi ciri khas cat dari bengkelnya. “Jadi, cacat bukan aib. Tapi sesuatu yang harus disyukuri. Sehingga orang cacat pun bisa bekerja mandiri, berkarya dan bermanfaat buat banyak orang,” pungkasnya.

Biodata

Nama : H Sukiyat
Lahir : Klaten, 22 April 1957
Alamat : Dukuh Jotang Desa Kradenan Kecamatan Trucuk Klaten
Kiat Motor, Jl Jogja-Solo km 4, Ngaran, Klaten
Istri : Hj Partini, 50
Anak : Ida Hartono SE, 28, dan Dwi Hartono, 18.
Pendidikan dan pelatihan:
* SD Negeri Puluhan Trucuk, lulus 1968
* SMP Negeri 1 Klaten, lulus 1971
* SMA Pegawai Solo, lulus 1973
* Pelatihan di Rehabilitasi Centrum (RC) Prof Dr Soeharso, lulus 1973
* Pelatihan pengecatan di perusahaan cat Spies Hecker China, 2002
Pekerjaan
* Pekerja di perusahaan konveksi dan percetakan Yayasan Harapan Kita Swaprasedyapurna Jakarta, 1974
* Pekerja di Bengkel Sembada, Solo, 1975
* Tukang tambal ban di Ledoksari Solo, 1975
* Pemilik Bengkel vespa dan sepeda motor Kiat Motor di Trucuk, 1976-1978
* Pemilik dan pengelola Kiat Motor, 1978-sekarang
Organisasi
* Ketua Umum Ikatan Wirausaha Alumni (Iwau) Rehabilitasi Centrum (RC) Prof dr Soeharso, 1997-sekarang
* Ketua Yayasan Sheltered Workshop (YSW) Prof Dr Soeharso, 2007-sekarang
* Ketua Bidang Kesehatan Pengajian Ahad Pagi Trucuk, 1997-sekarang
* Ketua Komite Sekolah SMK Negeri 1 Trucuk, 2002-sekarang
Penghargaan
* Penghargaan dari Menteri Sosial atas kepedulian dan keberpihakan dalam mewujudkan kesempatan kerja bagi penyandang cacat, 2006
* Penghargaan dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah (Forwija) atas keberhasilan menyumbangkan cipta, rasa dan karsa dalam menuju era globalisasi demi terwujudnya pembangunan nasional serta kepeduliannya terhadap masyarakat, 2001
Mimpi dirikan lembaga kursus body repair
Sebagai anak pengusaha tenun, sejatinya eksperimen mencampur warna dan bergelut dengan mesin sudah menjadi bagian hidup Sukiyat sejak remaja. Sukiyat mengisahkan, walaupun cacat orangtuanya tak memerlakukannya istimewa. Sepulang sekolah Sukiyat diminta mencampur warna kain tenun lurik, memerbaiki mesin tenun sampai memasak untuk karyawan yang bekerja di pabrik rumahan orangtuanya yang berjumlah lebih dari 50 orang.
“Nyaris masa remaja saya tidak banyak waktu untuk main-main,” ujarnya. Karena itulah, sejak 1982 Sukiyat fokus menangani pengecatan dan body repair mobil. Baginya urusan bodi mobil dan pengecatan membutuhkan perpaduan ilmu perbengkelan dan seni. ”Pengecatan dan body repair butuh sentuhan seni. Body repair mesti tahu mesin, instalasi sampai interior mobil. Saya belajarnya otodidak,” ujarnya.
Sukiyat mengaku menerapkan rumus 3N yakni nirokke, niteni, nambahi. Nirokke artinya bagaimana membikin mobil sama seperti aslinya. Salah satunya menggunakan komputer untuk mendapatkan warna pasa sesuai aslinya. Niteni maksudnya mencermati apa yang kurang dari mobil sehingga bisa nambahi. Artinya menambahkan sesuatu agar mobil terlihat sempurna. “Tapi semua itu juga harus dengan sentuhan rasa,” ujarnya.
Oleh sebab itulah, agar pengetahuan tentang pengecatan dan body repairnya bisa dicecap semakin banyak orang, Sukiyat berencana membuat lembaga kursus pengecatan dan body repair mobil.
“Potensi body repair masih besar. Selain itu saya juga masih ingin mengembangkan mobil Esemka,” ujarnya sambil menunjuk foto peluncuran mobil Esemka oleh Wakil Presiden Budiono yang dipajang di ruang kerjanya.
Ya, pada 2010 lalu, Sukiyat berhasil mengantarkan siswa SMK Negeri 1 Trucuk membuat mobil yang diberi label mobil Esemka dengan model sport utility vehicle (SUV), double cabin (kabin ganda) dan pikap tengah. “Dari sana pula saya ingin mengembangkan usaha tidak hanya servis tapi penjualan dan penyediaan sparepart.”

Selalu menyuguhkan tiga keunggulan
Meski jarang berinteraksi langsung dengan Sukiyat semasa kecil, Sunarto Yososuparno mengaku banyak tahu kisah Sukiyat kecil yang sudah ulet membantu bisnis kain lurik kedua orangtuanya.
“Sejak kecil sudah terlihat ulet membantu di pabrik tenun sama selepan,” ujar teman masa muda Sukiyat ini saat dijumpai Espos di Madani Center Pilangsari Gonang Klaten, Jumat (4/3).
Sebagai teman sekaligus pengguna jasa bengkel Sukiyat, menurutnya hasil karya Sukiyat selalu menyuguhkan tiga keunggulan. Pertama, keunggulan produk sehingga hasilnya maemuaskan pelanggan. Kedua, keunggulan operasional. Sukiyat selalu mengerjakan teliti demi hasil berkualitas. “Ada yang bilang mahal, tapi hasilnya memang sesuai,” kata lelaki pensiunan pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini.
Ketiga, kata Sunarto, Sukiyat pandai menjaga keintiman dengan para pelanggannya. Wajarlah, tak sedikit pelanggan yang militan terhadap jasa pengecatan dan perbaikan bodi mobil di bengkel Sukiyat. “Apalagi Pak Kiat itu blak-balakan, konsekuen menepati janji. Jadi pelanggan lebih senang.”
Di luar usaha, kata Suron, Sukiyat sangat perhatian terhadap sesama penyandang cacat. Ia tak segan menularkan ilmu usahanya, membantu materi sampai mengelola organisasi penyandang cacat. “Bisa dilihat sekarang Pak Kiat mengelola YSW dan aktif mengurus Pengajian Ahad Pagi,” ujarnya.
Teladan bagi difabel
Dua puluh tahun lalu, Mulyono ingat betul pasien di bengkel Sukiyat kebanyakan mobil-mobil tua yang jelek. Itu dulu, kini pasien Sukiyat justru sebagian mobil mewah dari kalangan artis sampai pejabat.
“Itu semua diraih dengan semangat luar biasa. Ia memulai bisnis dari nol,” ujar teman sekaligus rekan bisnis yang mengenal Sukiyat sejak 1989 itu saat dijumpai Espos di rumahnya Jl Slamet Riyadi 501 Solo, Sabtu (5/3).
Di benak Mulyono, banyak peristiwa mengesankan yang masih ia ingat selama berinteraksi dengan Sukiyat. Salah satunya ketika bisnisnya mulai moncer, tiba-tiba jatuh. Kala itu, Sukiyat meminta saran kepada Mulyono. “Saya sudah dianggapnya seperti kakak. Saat itu dia minta saran dan saya sarankan untuk memohon maaf dan minta restu kepada ibundanya. Karena waktu itu hubungan dengan ibunya agak renggang,” ujarnya.
Benarlah, setelah itu, laba usahanya kembali terkerek bahkan tak lama kemudian ia bis berhaji dengan ibundanya. “ Karena hasil kerjanya juga memang bagus. Ia dulu terbiasa mengoplos warna untuk kain. Istilahnya ahli naptol,” katanya.
Lewat keberhasilan itulah, kata Mulyono, Sukiyat kini bisa menjadi teladan bagi para difabel. Ia pun kini kerap mengisi sejumlah pelatihan di beberapa lembaga dan perguruan tinggi. “Dengar-dengar kerap mengisi motivasi di UGM juga. Saya salut dengan kiprahnya,” pungkasnya.
Jatuh bangun itu biasa
Sebagai difabel, Sukiyat kecil tak pernah menatap masa depannya cerah. Ia minder. Apalagi sedikit dari teman-temannya masa kecil yang memotivasinya.
Ia ingat betul saat kecil karena langkahnya diseret, sebagian teman-temannya menjulukinya Peyok deglog. “Kalau pelajaran olahraga saya hanya jaga pakaian teman-teman. Saya minder. Tidak berani kalau mau berjalan dekat cewek,” kenangnya.
Sebagai pelampiasan keterkucilannya, kala remaja Sukiyat kerap ugal-ugalan di jalan saat mengendarai sepeda motor yang tak dilengkapi rem dan lampu. “Saat remaja pernah seperti itu. Harapannya dulu bisa jatuh lalu terkenal,” kenangnya sambil tertawa geli.
Dari pengalaman itu, ia selalu terlecut memotivasi penyandang cacat agar memiliki kepercayaan diri dan mandiri. Meski ia tahu, memotivasi para penyandang cacat tak gampang. Kebanyakan penyandang cacat terjebak menjual kecacatannya. Sementara perhatian pemerintah maupun masyarakat terhadap penyandang cacat juga masih kurang. “Untuk membangkitkan semangat usaha, perlu perhatian dari semua komponen masyarakat. Termasuk wartawan. Saya bisa seperti ini juga tak lepas dari pemberitaan wartawan,” ujarnya sambil tersenyum simpul dan menunjukkan buku setebal lima sentimeter yang berisi kliping berita yang memuat kiprahnya sejak tahun 2000-an.
Tak kalah penting, kata Sukiyat, dalam menjalankan usaha mesti menerapkan manajeman ala petani dan politik. Manajeman petani, maksudnya dalam menjalankan usaha harus total. Seperti petani yang setiap saat siaga bahkan rela menunggui sawahnya agar tak kekeringan.
“Kalau mau usaha harus demikian. Berani rugi berapa, kapan memulai dan siap 24 jam demi usaha. Itu selalu saya sampaikan juga kepada anak-anak agar kelak bisa melanjutkan usaha, jangan menjadi PNS,” ujarnya.
Sementara itu, berpolitik artinya setiap langkah diiringi strategi atau politik yang santun dan bertanggungjawab. “ Jatuh bangun dalam usaha biasa. Saya pernah jatuh hingga rugi 9,5 miliar,” ujarnya.
Untuk itulah, dalam menjalankan usaha menurut Sukiyat butuh dukungan moral dan doa dari keluarga. Dukungan moral dari keluarga akan membuat pengusaha selalu bangkit kembali saat terkena musibah. “Terutama doa ibu dan dukungan istri maupun anak-anak,” tuturnya.

Iklan

2 respons untuk ‘Sukiyat Dulu tukang tambal ban, kini bos bengkel mobil

    SUGINO said:
    Maret 6, 2012 pukul 3:14 am

    Salut sama Bp.SUKIAT,pada thn 1984,ketika saya msh SD SEKOLAH DI SD N KRADENAN,TRUCUK,pas pelajaran olah raga,di suruh ke lapangan JOTANG,AKU MAMPIR SEBENTAR NONTON,Pak SUKIAT NGAMPLASIN MOBIL BEKAS,SKRG SDH BISA JADI BIG BOS. HEBAT 3 X !!!

    Karyanto said:
    Juni 22, 2015 pukul 4:15 am

    Pak Haji Sukiyat selamat ya..

    Saya sebagai pelaku otomotif turut senang dengan keberhasilan Bapak dalam mengembangkan bengkel body&paint.

    Semoga tambah barokah…

    Salam Sukses Mulia,

    Ttd
    Karyanto
    Trainer& Expert Worldskill Competition Autobody Repair – PT. Astra International Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s