Endang Sri Murniati Bangkit dari Keterpurukan

Posted on Updated on

Bak disambar petir, dalam kepenatan menjalani aktivitas di kantor, Endang Sri Murniati harus menelan pil pahit karena ditinggal pergi suami tercintanya untuk selamanya. Kala itu yang ada di benaknya adalah bagaimana nasib kedua buah hatinya yang masih kecil-kecil kelak. Akhirnya, ia pun mengajukan mutasi ke Semarang.
“Meski terasa sedih, saya tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Saya hanya memikirkan bagaimana nasib anak-anak ke depan,” katanya.

Di Semarang, kedua anak Endang diurus oleh orangtuanya yang memang bertempat tinggal di sana. Di kantor barunya, Endang diharuskan melepas jabatannya sebagai Kasubid menjadi staf biasa di Kanwil Departemen Perhubungan Semarang.
Hanya sekitar enam bulan, pada pertengahan 2001 keluarganya diboyong kembali ke kampung halaman di Sukoharjo. Lagi-lagi ia kembali menuai mutasi jabatan. Pada akhir 2001 ia pindah tugas di Terminal Peti Kemas Solo selama hampir lima tahun. “Memang kerap sekali saya dimutasi, ya dengan beberapa sebab dan alasan. Namun tak pernah saya rasakan hingga berlarut-larut, saya anggap ini hanya cobaan dari yang maha kuasa,” ujarnya.
Pada tahun 2006, Endang dimutasi lagi ke Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di Dinas Pertanian sebagai staf. Tidak berselang lama, ia kembali dipindahtugaskan di Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Kawasan Wisata Balekambang sebagai staf TU. “Karier saya terakhir berlabuh di sini. Setelah jadi staf TU, saya diangkat menjadi Kepala UPTD hingga saat ini,” terangnya.

Pegawai Teladan yang Utamakan Keluarga
Sosok srikandi pantas ditiru. Itulah kiranya yang pantas disematkan untuk Dra Endang Sri Murniati. Di usianya yang hampir menginjak kepala lima, perempuan dua anak ini terlihat tegar dan mandiri dalam kesehariannya. Sejak kecil, Endang biasa ia dipanggil memang sudah terbiasa hidup sederhana. Meski ekonomi keluarganya tergolong mampu, namun tak pernah terlintas di benaknya untuk bermanja-manja.
Lahir di Sukoharjo, 1 Mei 1963, Endang mulai berkonsentrasi pada karier usai lulus sarjana di jurusan Fisipol Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pelan tapi pasti, ia mulai dengan mengikuti tes pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Jakarta.
Setelah berkali-kali gagal, akhirnya dengan niat tulus ingin hidup mandiri, tepat pada pertengahan Juli 2009, Endang diterima sebagai staf di Departemen Perhubungan DKI Jakarta. Meski jauh dari kampung halaman, ia berusaha tegar menjalani hidup bersama sang suami tercinta (alm) Ir Suharto.
“Pertama kali bekerja, waktu itu saya menjabat sebagai staf di Pusat Data dan Informasi Badan Litbang Departemen Perhubungan. Tak berselang lama, kemudian saya naik jabatan sebagai Kepala Sub Bidang Teknik dan Perlengkapan Komputer,” jelasnya.
Pola hidup mandiri dan kerja keras yang ia dapat di lingkungan keluarga makin membuatnya percaya diri dalam beraktivitas. Dengan modal itu, hampir semua teman sekantor hingga atasannya angkat topi atas kontribusi yang ia berikan. Alhasil, tak kurang dari lima tahun ia diangkat menjadi Kasubid Teknik dan Perlengkapan Komputer di instansi itu.
Meski dijabatnya kala itu cukup menyita waktu untuk keluarga, Endang tak mau lari dari tanggung jawab. Kodrat sebagai seorang ibu rumah tangga pun tak ditinggalkan. Disela-sela kesibukannya, ia selalu meluangkan waktu meski sejenak bagi keluarga tercinta.
“Keluarga tetap nomor satu. Seberat dan sepadat apapun rutinitas saya di kantor, meski hanya sesaat jika ada waktu longgar saya manfaatkan untuk kumpul entah itu makan bareng atau sekadar bersendau gurau,” imbuhnya.
Apalagi saat diangkat menjadi Kepala Sub Bidang Pengembangan Perangkat Lunak (software) di Sekjen Departemen Perhubungan pada tahun 1998 atau tepatnya empat tahun usai melepas jabatan sebelumnya. Saat itu hampir tiap hari Endang tak pernah jauh-jauh dari komputer.
Belum lagi, lanjutnya, ketika ada rapat koordinasi di kantor yang mengharuskannya pulang malam. Namun karena rasa tanggung jawab yang tinggi, ia tak pernah mengeluh sedikit pun. Justru dengan kondisi yang seperti itu, ia terus bersemangat untuk menjalankan tugas dengan baik. Alhasil, instansi pemerintahan tempatnya bekerja menghadiahi predikat sebagai pegawai teladan.
“Waktu itu saya mendapat kenaikan pangkat pilihan. Biasanya kenaikan pangkat itu berselang empat tahun, tapi baru dua tahun sudah naik jabatan dari 3D ke 3C. Selain itu, saya juga terpilih sebagai pegawai paling aktif dan kreatif dari ratusan pegawai lainnya,” bebernya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s