Agus Sunarto Awali Karier Menjadi Tukang Cuci Piring

Posted on

Perilaku masa lalu tidak selamanya akan berdampak pada kehidupan masa depan. Jika mau bekerja keras dengan didasari niat yang kuat, maka semua cita-cita pasti akan tercapai. Itu pula yang dialami oleh Agus Sunarto, pria kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 41 tahun silam. Jabatannya sebagai General Manajer (GM) Omah Sinten Solo saat ini bisa dibilang tidak mencerminkan perilakunya saat muda dulu.

Jika ingat masa mudanya, Agus mengaku prihatin, geli, dan bercampur menyesal. Apalagi saat ia masih duduk di bangku SMA. Berkelahi dan bolos sekolah adalah kebiasaannya. Bahkan dirinya sempat dicap sebagai siswa nakal, karena kelakuannya sudah kelewat batas. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama, sebab setelah lulus sekolah semua bisa berubah.

Seiring dengan terus berpikirnya tentang masa depan, Agus pun ingin serius di bangku pendidikan dengan melanjutkan kuliah. Kecintaannya pada dunia pertanian mengantarkannya meraih gelar D3 di Sekolah Tinggi Ilmu Perkebunan (STIPb) Kediri.
“Sedari kecil saya memang suka dengan suasana alam yang natural. Pokoknya yang berbau pertanian, entah itu bercocok tanam dan sejenisnya. Sebab hal itu membawa arti tersendiri,” ungkapnya.

Ia beralasan, bekerja sekaligus tersalurkan hobinya adalah pengalaman yang jarang bisa ditemui sekarang ini. Saat menyelesaikan pekerjaan pun terasa enteng dan lebih enjoy. Tak ada sedikit pun keletihan meski harus berjam-jam di tengah ladang atau perkebunan.
Perasaan seperti itu persis Agus rasakan pada pertengahan tahun 1990 lalu. Di daerah Kediri, Jawa Timur, ia bekerja di sebuah perusahaan perkebunan kopi. Meski jauh dari keluarga, rutinitasnya sehari-hari dilakoni penuh semangat. Padahal kala itu perusahaan tempat dia bekerja memberlakukan jam kerja tanpa kenal waktu alias tanpa libur.

“Patokan mulai bekerja yakni saat ayam berkokok hingga petang tiba, begitu terus setiap harinya. Bahkan jika lagi panen atau apa gitu, perusahaan tak mau tahu, yang jelas aktivitas terus berlanjut meski hari libur atau tanggal merah sekali pun,” katanya. Kemudian dengan sejumlah alasan dan pertimbangan, Agus akhirnya memutuskan untuk keluar dari perusahaan perkebunan kopi itu setelah genap setahun bekerja. Dia kemudian pindah kerja di Surya Hotel, sebuah hotel kenamaan di Jawa Timur.

Akan tetapi, pekerjaan baru yang Agus lakoni di hotel itu tidaklah semulus yang dibayangkan. Posisi jabatan yang ia inginkan dalam surat lamaran kerja ternyata meleset 180 derajat. Pimpinan hotel malah menginstruksikan lowongan kerja yang cocok untuknya adalah sebagai pencuci piring.
Awalnya rasa malu sebagai tukang cuci piring kerap menghampiri. Tapi jika teringat diri yang menganggur dan keluarganya butuh makan, rasa itu ia buang jauh-jauh. Akhirnya, hampir satu tahun Agus tak pernah jauh dari benda-benda seperti sabun, air, dan sisa-sisa makanan dari tamu hotel.
“Lucu memang jika teringat suka duka sebagai si pencuci piring. Padahal niat awal melamar kerja di sana adalah melihat landscape (pemandangan—red) taman bunga yang begitu Indah. Siapa tahu bisa jadi maintenance, lha kok malah nyuci piring,” ucapnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, karier pria kelahiran Trenggalek ini terus menanjak. Meski sempat naik jabatan sebagai kapten atau supervisor di Surya Hotel, tapi baru beberapa bulan Agus memilih angkat kaki dan meneruskan pendidikannya di dunia perhotelan. Dia memilih Surabaya Hotel School sebagai pelabuhan untuk menimba ilmu. Kemudian setelah lulus langsung mengadu nasib dengan melamar pekerjaan di sejumlah hotel di Yogyakarta.
Pelan tapi pasti, tepat pada bulan paling buncit di tahun 1993 kariernya terus merangkak naik. Hingga akhirnya, penghobi jalan-jalan ini dipercaya untuk menjabat sebagai General Manajer Omah Sinten Solo pada awal tahun 2010.
“Alhamdulillah, sejak memperdalam ilmu perhotelan waktu itu, pengalaman saya lebih luas dan tajam dalam menemukan celah demi memberikan kontribusi positif bagi perusahaan,” tegas Agus.

Jalani Pilihan dengan Penuh Semanga
Kepenatan dan rasa bosan dalam menjalani rutinitas pekerjaan wajar dialami setiap orang. Namun rasa menjengkelkan itu jangan sampai membawa efek buruk terutama terkait dengan profesionalitas.
Diakui Agus Sunarto, saat dirinya bekerja di perusahaan perhotelan tekanan yang diberikan perusahaan berbeda dibandingkan dengan rekan-rekannya. Semakin tinggi jabatan yang diemban semakin tinggi pula tanggung jawab yang dipikul dan tekanannya juga semakin besar.
“Bekerja di bawah pressure memang membuat kita tak nyaman. Kontribusi pada perusahaan nol dan kita tidak berkembang. Untuk itu segeralah eksekusi apakah pengin bertahan atau segera pindah kerja. Jika pingin bertahan maka solusinya diskusikan persoalan itu dengan orang yang bisa dipercaya,” kata Agus.
Dari pengalamannya saat bekerja, tekanan demi tekanan pernah ia rasakan. Namun, semua itu dijalaninya dengan penuh semangat karena sudah menjadi pilihan. Sebab sejak awal, Agus mengaku sudah senang alias hobi dengan pekerjaan yang ditekuninya sehingga dijalani dengan mudah.
“Saya tak mengartikan semua pekerjaan harus sesuai dengan hobi. Namun, benang merah yang bisa diambil di sini yakni bidang pekerjaan yang dilakoni sebaiknya adalah bagian dari kegemaran kita. Terlebih jika itu hobi kita sendiri,” terangnya.

Keluarga adalah Motivator Utama
Meskipun super sibuk, Agus Sunarto selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan keluarganya yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur. Sekecil apapun kabar tentang anak dan istrinya ia tak mau ketinggalan. Hampir setiap hari Agus selalu menghubungi anak dan istrinya via telepon. Dia tak perlu menunggu rasa kangen datang jika sekadar ingin mengobrol atau bersenda gurau. Bahkan kecintaannya pada keluarga ia jadikan motivasi dalam mengemban amanah pekerjaan.
“Mereka (keluarga) semua memotivasi saya dalam bekerja. Hampir setiap kali mau tidur dan bangun pagi mesti saya telepon mereka. Tanya bagaimana kabar keluarga, bagaimana sekolah anak-anak dan masalah pribadi lainnya,” ujar bapak dua putra ini. Agus menegaskan, semuanya itu dilakukan semata-mata karena kesuksesannya tak lepas dari dukungan dan motivasi yang diberikan keluarga. Selain juga karena faktor ketulusan dalam bekerja yang juga merupakan kunci kesuksesannya.
“Bekerja untuk diri sendiri, keluarga, dan perusahaan tetap kita kerucutkan pada sang pencipta di atas. Apapun risiko hingga upah yang kita terima harus tetap kita syukuri,” tandasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s