Syamsuddin Jusuf Souib Hobi Pelesir Antarkan Keliling Dunia

Posted on

Bisa berkeliling dunia sudah barang tentu merupakan impian banyak orang. Apalagi jika kepergiannya itu tanpa sedikit pun mengeluarkan biaya alias gratis. Hal itulah kiranya yang dialami Syamsuddin Jusuf Souib, General Manager Garuda Indonesia Solo.
Syamsuddin, begitu akrab disapa, adalah sosok yang bisa dibilang beruntung. Bagaimana tidak, hobinya yang gemar traveling akhirnya kesampaian setelah resmi bergabung sebagai karyawan di perusahaan BUMN sekelas Garuda Indonesia.

Dalam kesempatan berbincang-bincang dengan Joglosemar, Syamsuddin bercerita panjang lebar perihal kesuksesan yang sudah diraihnya sekarang. Butuh perjuangan keras dan panjang untuk meraih impiannya itu.

“Ceritanya panjang. Sejak saya bergabung di Garuda Indonesia pertengahan tahun 1989 lalu, perusahaan menyediakan tiket gratis ke luar negeri. Karena hobi dan waktu itu saya masih bujang, menjadi pengalaman yang tak terlupakan saat menginjakkan kaki pertama kali di Negara Amerika,” kata Syamsuddin.

Untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya itu memang tidaklah mudah. Usai lulus kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada tahun 1988, Syamsuddin akhirnya menjatuhkan pilihan bekerja di perusahaan Garuda Indonesia di tempat kelahirannya, Jakarta.

Awalnya Syamsuddin sempat pesimis saat pertama kali melamar di perusahaan milik pemerintah itu. Bayangkan, dari 750-an pelamar, perusahaan Garuda Indonesia hanya membutuhkan enam orang saja. “Namun dengan penuh keyakinan, tes yang cukup melelahkan akhirnya saya lewati. Dan puji syukur, Alhamdulillah saya diterima,” tutur suami dari Yeni Martini.

Genap satu tahun bergabung di Garuda Indonesia cabang Jakarta dan mengikuti pendidikan selama enam bulan, ia lantas dipindahtugaskan ke Surabaya sebagai sales representative. Di Kota Pahlawan, Syamsuddin mulai mengukir kariernya. Karena merasa cocok dengan pekerjaan yang digeluti, peraih predikat siswa terbaik selama proses pendidikan itu mulai menunjukkan taringnya.

Dikatakannya, selama hampir lima tahun berada di Surabaya, kinerjanya selalu mendapat respons positif dari perusahaan. Kemudian tidak berselang lama, bapak tiga anak ini lantas ditunjuk untuk menjabat sebagai Kepala Kantor Garuda Indonesia cabang Malang, Jawa Timur selama hampir tiga tahun.

“Sejak bertugas di Surabaya, dinas saya selalu berpindah-pindah. Mulai dari Malang, Singapura, Jepang, hingga ke China. Meski awalnya untuk keperluan dinas, namun semenjak menikah 10 Maret 1996 lalu, sang istri acapkali menemani saya ke mana pun pergi,” imbuh Syamsuddin tersenyum.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Bantu Promosikan Pariwisata Solo

Sejak pindah tugas di Solo awal tahun 2009 yang lalu, Syamsuddin Jusuf Souib memang betah berlama-lama di Kota Bengawan ini. Selain suasana lingkungan yang adem, suasana perbisnisannya pun cukup kompetitif. Hal ini yang membuatnya makin tertantang untuk bersaing secara sehat dengan perusahaan maskapai penerbangan yang ada.

“Di antara daerah lain yang pernah saya kunjungi, Kota Solo adalah daerah yang suasana bisnisnya paling kondusif. Artinya, persaingan bisnisnya terasa kental, tentunya ini memacu saya dan perusahaan untuk lebih meningkatkan kualitas kepada konsumen,” ujarnya.
Sehingga konsentrasi tingkat tinggi dalam menghadapi aura bisnis yang penuh persaingan ini meski dilakukan agar tidak berakibat fatal. Peran Pemkot Solo dalam hal ini menurutnya juga cukup mendukung.

“Menyimak dan mengikuti alur bisnis di Kota Solo membutuhkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi. Jika tidak, sedikit saja lengah bisa berakibat buruk bagi perusahaan. Untuk itu, beragam pelayanan terbaik kami usahakan demi kemajuan bersama,” imbuh Syamsuddin.

Sementara itu, ketertarikan Syamsuddin akan Kota Bengawan juga terlihat lewat curahan perhatiannya pada dunia pariwisata. Diakuinya, sejak bertugas di Solo dua tahun lalu, ia turut aktif membantu Pemkot Solo dalam mempromosikan pariwisata dan budaya lokal.
“Saya ingin bersama-sama dengan masyarakat dan Pemkot Solo mempromosikan bidang pariwisata. Ini salah satu bentuk kepedulian saya untuk kota yang sudah banyak memberi pelajaran berharga tentang dunia bisnis,” terang Syamsuddin.  n
Bonus Wibowo Bramhartyo

Bercita-cita Masuk Akabri namun Gagal

Posisi sebagai General Manager Garuda Indonesia Solo saat ini, memang bukan cita-cita Syamsuddin Jusuf Souib sewaktu kecil. Semasa kecil ternyata Syamsuddin sangat ingin mendaftar di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dan gabung menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bahkan Syamsuddin menyebut, menjadi prajurit TNI adalah cita-citanya sejak masih di dalam kandungan. Sehingga suatu ketika untuk mewujudkan cita-citanya, dia bersama rekan-rekannya nekat mendaftarkan diri di Akabri Magelang, Jawa Tengah.
“Setelah lulus SMA, saya bersama teman-teman satu angkatan pergi ke Magelang untuk daftar Akabri, tanpa pamit kedua orangtua. Namun sayang, setelah beberapa kali lolos seleksi, saat tes pantokir saya justru gagal,” sesalnya.

Diakui Syamsuddin, kegagalannya kala itu sempat membuatnya frustrasi. Sempat terpikir olehnya, kegagalan ini gara-gara tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Bahkan kejengkelannya kala itu sempat ia tumpahkan bersama rekan-rekannya di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan membuat onar.

“Ya harap maklum, saya dan teman-teman waktu itu kesal lantaran tak lolos di Akabri. Padahal, kurang beberapa langkah lagi kami bisa diterima. Mungkin karena waktu itu diberlakukan batas maksimal penerimaan anggota di tiap provinsi, akhirnya kami kalah bersaing,” ungkap Syamsuddin.

Akhirnya, dari kegagalan itu baru dia putuskan melanjutkan kuliah di UII Yogyakarta. Untuk menutupi rasa malunya karena gagal masuk Akabri, dia memutuskan untuk indekos di Kota Gudeg itu. Selama kurang lebih empat tahun, Syamsuddin bersama sejumlah rekannya akhirnya memantapkan diri menempuh bangku perkuliahan Fakultas Ekonomi.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Sekolahkan Anak hingga Jadi Pengacara

Dulu banyak orang yang menawari Harso Witono untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat itu memang untuk menjadi PNS sangatlah mudah, tidak seperti sekarang. Namun tawaran itu oleh Harso ditolaknya karena dilarang oleh orangtuanya.

“Entah dengan alasan apa, orangtua saya dulu melarang keras saya jadi PNS. Meski sempat kecewa, larangan tersebut lama kelamaan saya jadikan cambuk untuk belajar mandiri,” tuturnya.

Diungkapkan Harso, pepatah Jawa yang mengatakan rezeki, jodoh, dan mati adalah rahasia Tuhan memang benar adanya. Tatkala hati merasa sumpek memikirkan masa depan kelak, garis takdir senantiasa mengikuti bagaimana usaha dan doa yang manusia lakukan.
“Disiplin waktu, jujur, dan telaten adalah kuncinya. Dengan usaha dan doa sesuai keyakinan masing-masing, niscaya apa yang semula tak mungkin kita raih, akhirnya bisa kesampaian,” imbuhnya.

Puji syukur selalu ia panjatkan atas limpahan rezeki yang telah diperolehnya. Meski usaha yang ia geluti tak sedikit orang yang menganggap remeh, tapi Harso bangga bisa mengantarkan kesepuluh anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Mulai dari meneruskan usaha rongsoknya hingga salah satu anaknya menjadi seorang pengacara.n Bonus Wibowo Bramhartyo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s