Singgih Djuhartono Berawal dari berjualan obat keliling

Posted on

Impian Singgih Djuhartono menjadi apoteker kandas. Sekolahnya dilikuidasi. Namun, peristiwa itu justru membuat semangatnya terjun di dunia farmasi semakin melecut.
Hasilnya terlihat kini.
Ia bekerja tak jauh-jauh dari kefarmasian: Menjadi pengusaha apotek dan pemimpin Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Solo. Bahkan ia menjangkau aras lainnya, menjadi advokat.“Kalau boleh dibilang profesi saya advokat, usaha apotek dan pengabdian masyarakat saya di PMS,” ungkapnya saat dijumpai Espos di ruang kerja berukuran sekitar 2 m x 3 m yang menyatu dengan Apotek Subur, Jl dr Muwardi 34, Solo, Rabu (9/2).
Seperti pembawaannya yang sederhana, ruang kerjanya ditata minimalis. Tak ada pernik-pernik mewah yang menghiasi meja kerja maupun dinding ruangan itu. Hanya sebuah laptop berwarna biru metalik di mejanya yang tampak mewah. “Latar belakang keluarga sederhana dan dari dusun. Sehingga saya tercipta jadi orang yang apa adanya. Kalau istilah kerennya ya low profile,” ujarnya berkelakar.

Nyaris tentara

Meskipun jatuh hati pada dunia kefarmasian, Singgih kecil sejatinya bercita-cita menjadi tentara. “Sejak TK saya ingin jadi tentara. Saya ingat, saat perpisahan, memakai baju doreng dan menyanyi lagu Aku seorang kapiten,” kenangnya.

Setamat SMA, tahun 1970, ia mengejar cita-citanya itu. Ia mendaftar Akabri. Singgih sukses melewati tahap demi tahap tes di Makodam Diponegoro, Semarang. Bahkan saat dikirim pelatihan di Lembang Bandung, ia bisa melewati rentetan tes tanpa kendala. “Namun Tuhan menghendaki lain. Pada saat apel terakhir setelah Pantukhirpus, dari Jateng dinyatakan tidak lulus dua calon taruna. Saya salah satunya,” kenangnya.

Gagal menggapai cita-cita tentara, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Yasin Hadiwijaya dan Sugiharti yang bekerja sebagai pedagang sepeda angin ini terbesit kuliah di Jurusan Farmasi Universitas Atmajaya, Semarang. ”Baru menyelesaikan kuliah Tingkat I, sekolah dilikuidasi,” ujarnya sambil menunjukkan mimik kecewa.

Singgih lalu mencoba peruntungan lain, mendaftar di jurusan yang juga bertaut dengan farmasi: Kedokteran Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang. Lagi-lagi, baru menyelesaikan Tingkat I, ia kembali harus meninggalkan bangku kuliah. “Apa daya, Tuhan menghendaki lain, biaya tak memungkinkan, kondisi perekonomian waktu itu sulit, makanya tak mungkin sekolah, jadi harus kerja.”

Singgih banting setir. Orientasinya tak lagi kuliah, tapi bekerja. Ia pun melamar ke sejumlah perusahaan. Menurut Singgih, kala itu, pekerjaan sebagai medical representative sedang jadi trend. Tak ayal, ia pun melamar pekerjaan itu di sebuah perusahaan farmasi di Semarang. “Kalau sekarang istilah kerennya duta farmasi. Tapi ya bisa disebut seperti jualan obat keliling,” ungkapnya.

Pujaan hati

Menjadi medical representative menuntut Singgih berkeliling berbagai kota menawarkan produk dari perusahaannya. Padahal, kisah Singgih, kala itu alat transportasi belum sebanyak sekarang. Maka tak jarang ia harus berjalan berkilometer-kilometer saat tak ada angkutan umum yang lewat. “Suka dukanya banyak. Ada kalanya saat promosi, kita diterima dengan baik, tapi adakalanya diusir juga. Hikmahnya, saya lebih bersemangat,” ujarnya.

Terlebih lagi, kata Singggih, dari pekerjaan itulah ia menemukan pujaan hati, Yeni Kristiani —yang sama-sama bekerja sebagai medical representative— kala memromosikan obat di Rumah Sakit dr Oen, Kandang Sapi, Solo. “Walaupun di Semarang saya punya banyak teman perempuan, tapi gadis yang saya temui di Solo ini punya daya magnet tersendiri. Akhirnya, saya dapat mempersunting tahun 1981,” ungkapnya.

Sejak menikah itulah, Singgih memilih tinggal di Solo. Apalagi ia melihat peluang bisnis obat di Solo cerah. Alhasil tak lama setelah menikah, ia membuka toko obat. “Karena waktu itu dananya masih terbatas, belum bisa buka apotek,” ujarnya.

Terlebih, kata Singgih, perlengkapan perizinan membuka apotek tidak seperti toko biasa. Karena selain melengkapi persyaratan layaknya membuka usaha, juga harus mempunyai tenaga teknik kefarmasian sebagai penanggung jawab.

Namun, menurut lelaki berusia 57 tahun itu, rupanya kebutuhan masyarakat akan obat-obatan saat itu terus meningkat. Padahal, toko obat hanya bisa menjual obat bebas dan bebas terbatas. Sehingga pada tahun 1985, Singgih meningkatkan status toko obatnya menjadi apotek. “Awal buka Apotek Subur di Nusukan. Kami kembangkan lagi Apotek Jati Waluya tahun 1993 di Kottabarat. Kami kembangkan lagi 2003, Apotek Gajahan. Namun rencana Tuhan berbeda, baru saja, 2010, Apotek Gajahan dilepas untuk biaya perawatan istri di Singapura,” ujarnya.

Biodata

Nama : Singgih Djuhartono SH

Alamat : Jl Kapten Tendean 135, Nusukan, Solo

Lahir : Blora, 2 April 1953

Istri : Yeni Kristiani (Alm)

Anak : Willy Cahyono

Rony Wijaya

Pendidikan :

* SD Negeri 1 Randu Belatung, Blora (lulus 1964)

* SMP Katolik Blora (lulus 1968)

* SMA Theresiana Semarang (lulus 1970)

* Fakultas Hukum Jurusan Ilmu Hukum

Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo (lulus 1993)

* Pendidikan Profesi Advokat

Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo (lulus 1997)

Organisasi :

* Ketua Bidang Toko Obat

Gabungan Pengusaha Farmasi Solo(1987-1993)

* Bagian Kesejahteraan Masyarakat

LKMD Kelurahan Nusukan (1998-2003)

* Pengawas

Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) 2000-sekarang

* Ketua Gabungan Pengusaha Farmasi Solo (2009-2014)

* Bendahara RT3/RW III Prawit, Nusukan

Sumber: Wawancara fey – Oleh : Fetty Permatasari

Jadi advokat bak menyalurkan hobi

Suaranya bergetar, lalu sejenak ia menatap langit-langit. Singgih Djuhartono mengisahkan upaya pengobatan penyakit terhadap istri tercinta hingga Singapura.

“Rencana Tuhan tidak bisa diketahui manusia. Pada 1 September 2010, ia meninggalkan kita,” ujarnya.

Kepergian sang istri menjadi pukulan berat bagi Singgih. Terlebih lagi jika mengingat pertemuan pertama dengan sang istri saat sama-sama masih menjadi medical representative. Namun, ia tak mau larut dalam duka. Apalagi ia terlibat sejumlah kegiatan sosial yang butuh perhatian.

“Sejak 1997, advokat jadi side job. Karena saya bisa di bidang hukum, saya menolong di bidang itu. Bidang advokasi banyak fungsi sosialnya. Jadi meskipun banyak nombok-nya, tidak masalah. Itu dianggap hobi. Hobi untuk menolong orang lain,” paparnya.

Menurut Singgih, kasus yang cukup banyak ia tangani adalah sengketa tanah di kalangan masyarakat akar rumput. “Bersyukur, biasanya setelah saya pelajari segala sesuatunya lalu diproses, umumnya bisa berhasil,” ungkapnya.

Selain soal sengketa tanah, Singgih juga kerap menangani kasus yang berkaitan dengan dunia farmasi. Kasus yang paling umum ditangani Singgih adalah pelanggaran dari toko obat yang menjual obat keras. “Namanya farmasi ada aturan mainnya. Seringnya pelanggaran itu dan pernah pula kasus Narkoba tahun 2000 yang menyeret mahasiswa kedokteran. Dan waktu itu kasus Narkoba sedang jadi sorotan betul seluruh instansi pemerintah dan lembaga-lembaga sosial masyarakat,” ujarnya.

Meskipun terpikat dunia advokasi, namun Singgih muda rupanya lebih hobi olahraga. Mulai dari bela diri sampai tenis. Bahkan dua olahraga itu sampai membuat salah satu lututnya cedera. “Jadi kalau olahraga, sekarang yang boleh tinggal renang saja. Kalau membaca, saya lebih suka berita-berita aktual baik dari internet maupun majalah kefarmasian. Membaca majalah sekarang jadi hiburan malam,” ujarnya.

Fungsi sosial apotek tak boleh luntur

Persaingan usaha apotek semakin lama semakin ketat. Tak ayal, harga obat yang ditawarkan kepada konsumen antarapotek kian bersaing.

Sebagai pengusaha apotek, Singgih mengaku khawatir dengan fenomena semakin menjamurnya apotek itu. Dia khawatir fungsi sosial apotek akan kian luntur. Padahal, apotek tidak semata-mata bisnis belaka. Apotek juga tempat mengabdi apoteker melaksanakan profesi mereka.

“Jadi kalau sebagai tempat mengabdi, jelaslah kalau apotek tidak semata-mata mencari keuntungan belaka. Apotek tidak bersaing seperti toko-toko biasa. Apotek tempat pengabdian profesi. Sehingga dalam pengelolaan harus berhati-hati dan profesional,” ujarnya.

Terlebih, tambah Singgih, kini ada Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pelayanan Kefarmasian. “Dengan peraturan tersebut, apoteker dituntut berperan lebih aktif dalam pelayanan kefarmasian,” ujarnya.

Meskipun, lanjut Singgih, pengusaha apotek sekarang memang serba sulit. Lantaran semakin banyak apotek, omset yang diperoleh semakin kecil. Padahal biaya operasional terus melejit. “Boleh dibilang berdasarkan pengalaman saya sendiri omset dropping. Mulai terasa sejak bergulir Otonomi Daerah dan izin pendirian apotek dibebaskan. Terasa betul-betul sejak tahun 2005. Turunnya sampai 40 %,” papar dia.

Oleh karena itulah, Singgih berharap izin apotek bisa diperketat. Perlu deregulasi perizinan berdasarkan kepatutan, kelayakan serta rasio jumlah apotek sehingga batasan-batasan lingkungan, jumlah penduduk dan jarak antarapotek satu dengan yang lain menjadi pertimbangan saat akan dibuka apotek baru.

Selain itu, demi menertibkan jalur distribusi obat di Solo dan mencegah peredaran obat palsu, menurut Singgih, GP Farmasi juga mewacanakan agar pendirian apotek baru harus mendapatkan rekomendasi dari GP Farmasi setempat.

“Tapi kendalanya Dinas Kesehatan juga belum punya payung hukum untuk itu. Namun jika bisa terealisasi semua pengusaha farmasi bisa satu wadah, instansi terkait bidang kefarmasian akan lebih mudah memantau,” ujarnya.

Dengan demikian, seluruh pengusaha farmasi di Soloraya bisa terdeteksi. Pasalnya, kata Singgih, dari 145 perusahaan farmasi di Soloraya, baru 76 perusahaan yang bergabung menjadi anggota GP Farmasi Soloraya. “Sementara dari 70-an toko obat, baru 18 toko obat yang bergabung,” ungkapnya.

Perhatian terhadap bawahan

Suwarno mengenal Singgih Djuhartono lantaran istri Singgih adalah muridnya kala ia mengajar di SMK Farmasi Nasional Solo.

Perkenalan Suwarno kian intens kala Singgih mulai bergabung di organisasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Solo. “Dari sana saya tahu kalau ia pengusaha ulet yang mulai dari nol,” ujar Ketua Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Solo saat dijumpai Espos di Apotek Hidup Sehat, Jl Honggowongso, Kawatan, Solo, Jumat (11/2).

Selain itu, kata Suwarno, dalam mengelola usaha, Singgih amat perhatian pada bawahannya. Salah satu buktinya, karyawan yang bekerja di apoteknya tak cepat berganti. Sebagai pemimpin, Singgih menurutnya, memang senantiasa mampu menyembulkan urgensi loyalitas pada karyawannya. “Saya lihat karyawannya di apotek sebagian besar awet,” terang pensiunan guru dari SMK Farmasi Nasional Solo ini.

Tak ayal, dengan kemampuan kepemimpinannya itu, ia kini dipercaya memimpin GP Farmasi Surakarta yang merupakan komponen penting dalam dunia kefarmasian. Seperti halnya perhatiannya pada karyawannya, dalam mengelola organisasi kata Suwarno, Singgih selalu mengedepankan komunikasi. Maka, tiap kali ada permasalahan terkait farmasi di Soloraya, Singgih akan merangkul semua elemen untuk mencari solusi bersama. “Pak Singgih selalu jadi penjembatan,”

Pelindung yang objektif

Singgih di mata Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Solo, Partana, merupakan pribadi yang mengesankan.

“Orangnya itu welcome sekali dan kalau menyelesaikan masalah amat mementingkan mediasi,” ujar Partana saat ditemui Espos di ruang kerjanya, Rumah Sakit Jiwa Daerah, Solo, Sabtu (12/2).

Sebutlah ketika ada permasalahan di GP Farmasi maupun masalah lain yang berkaitan dengan tugasnya sebagai advokat. Singgih selalu memaksimalkan jalur mediasi. “Jika persoalan berkaitan dengan dinas, beliau itu juga akan dengan sigap menjembatani untuk menggelar pertemuan,” katanya.

Dalam memimpin organisasi, Singgih menurut Partana, juga senantiasa objektif. Jika anggotanya salah, ia tak segan menegur. Tetapi jika benar, ia pun akan berusaha maksimal untuk melindungi dan membantu anggotanya. “Dalam membina jaringan dengan orang-orang yang terkait farmasi juga bagus. Saat menjalankan tugasnya sebagai advokat juga tidak komersil,” paparnya.

Menurut Partana, keterlibatan kerja sama dengan Singgih biasanya lebih banyak pada kegiatan-kegiatan yang berbau seminar. Bahkan kali pertama Partana bertemu Singgih pada 1995 juga dalam sebuah forum bertajuk Sosialisasi Undang-undang Perlindungan Konsumen. “Yang jelas, dalam pergaulan Pak Singgih serba baik. Saya sering tidak bisa seperti dia,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s