Rahayu Supanggah Dari penabuh gamelan jadi komponis dunia

Posted on

Penampilan Rahayu Supanggah menabuh gamelan dalam acara pembukaan Akademi Seni Karawitan Surakarta (ASKI) di tahun 1965, mengakhiri masa suram remajanya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu terkesima permainan gamelan Rahayu Supanggah. Ia lalu dipilih mengikuti misi kesenian ke Jepang, China dan Korea.Sejak itu, dari remaja berandalan, Rahayu Supanggah menjadi bintang karawitan. Kini, ia malah menjadi komponis dunia. Salah satu gubahan musik dalam film Opera Jawa yang disutradarai Garin Nugroho membuatnya menerima penghargaan Best Composer dalam ajang Hong Kong International Film Festival 2007. Ia menyisihkan 700 komponis dari berbagai belahan Planet Bumi.

Akhir tahun lalu, ia juga menerima tanda penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masih banyak lagi penghargaan bergengsi yang sudah diraih, tapi beragam penghargaan itu tak membikin lelaki yang khas dengan penampilan rambut kucir itu bangga.

Di rumah bercat hijau, di Jl Jayaningsih 13, Benawa, Ngringo, Jaten, Karanganyar, beberapa lembar sertifikat penghargaannya malah dipajang di dinding kamar mandi. “Karena dinding sudah penuh semua. Apa boleh buat, saya taruh saja di kamar mandi. Saya tidak mementingkan penghargaan,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa lembar sertifikat penghargaan yang ditempel di dinding kamar mandinya.

Sebagian sertifikat penghargaan lain tampak ditempelkan Rahayu Supanggah di dinding ruang tengah rumahnya, membaur dengan foto dan lukisan. Alhasil, rumah yang dilengkapi dengan pendapa berisi satu set gamelan itu lebih mirip galeri dari pada tempat tinggal.

Tak sengaja

Bagi anak semata wayang pasangan Gondo Saroyo dan Jami ini, memopulerkan gamelan ke seluruh penjuru dunia menjadi lebih penting ketimbang sekadar penghargaan. Tapi uniknya ketertarikan Panggah pada gamelan justru karena ketidaksengajaan.

“Ayah saya dalang. Nenek moyang saya sampai 10 turunan juga dalang. Rumah saya jadi tempat latihan murid-murid ayah saya. Makanya rumah saya seperti rumah sakit jiwa. Ada yang menyanyi maupun tabuhan. Dari situ, saya menjadi suka,” ungkapnya.

Melihat aktivitas murid-murid ayahnya itu, Panggah kecil mulai tertarik mendengarkan alunan gending. Tapi, ia lebih senang bergulat dengan pelajaran di sekolahnya. Apalagi Panggah tak pernah bercita-cita menjadi seniman. “Karena dulu seniman miskin. Semua nilai pelajaran saya baik. Kecuali satu yang jelek, pelajaran kerajinan tangan,” ujarnya.

Di bangku SMP tak berbeda. Prestasi Panggah di bidang akademik tak pernah mengecewakan. Walaupun saat itu, sebagai remaja SMP, Panggah nyambi menjadi buruh. Sepulang sekolah ia bekerja apa saja yang bisa menambah pundi-pundi keuangannya. Mulai dari buruh pencetak batu bata sampai tukang tambal ban.

“SMP saya ngenger. Saat itu kondisi ekonomi serba sulit. Saya SMP bahkan tidak punya seragam. Setiap Senin saya diskors di bawah tiang bendera. Masa kecil saya sangat menyedihkan. Tapi kata orang Jawa, bertapa saya di situ,” ungkapnya.

Setamat SMP, Panggah sukses menembus SMA terfavorit di Kota Solo. Cita-citanya saat itu, setamat SMA bisa melanjutkan di jurusan bergengsi seperti kedokteran di perguruan tinggi. Sayangnya, keinginannya masuk SMA Negeri 1 Solo kandas. Orangtua Panggah tak bisa menjangkau uang masuk SMA.

“Akhirnya saya disekolahkan di SMKI yang gratis. Tapi awal sekolah, saya stres. Saya jadi anak yang berandalan,” ungkapnya. Konsekuensinya, ia kerap dipanggil kepala sekolah untuk menerima petuah sekaligus hukuman.

Suatu ketika, ia merasa tak bikin kesalahan, namun ia tetap dipanggil kepala sekolah.”Rupanya saya diminta ikut misi Presiden ke Jepang, China, Korea. Saya ikut saja,” ujar lelaki yang di kalangan akdemisi lebih akrab disapa Rahayu itu.

Selama mengikuti misi kebudayaan bersama Kepala Negara tersebut, Panggah diperlihatkan semua ragam kesenian terbaik di tiga negara itu. Terang saja, sepulang dari Jepang, China dan Korea, pikiran dan hati Panggah terbuka. Panggah jadi terkagum-kagum pada dunia seni.

Ia menjadi sadar betapa kesenian amat memengaruhi peradaban suatu bangsa. ”Saya langsung berpikir. Mungkin jalan hidup saya di kesenian. Saya bisa jadi orang dengan menekuni kesenian. Kuncinya adalah kesenian itu harus bermanfaat, selalu kontemporer, harus selalu mengikuti zaman,” ungkapnya.

Sejak itu, semangat berkesenian Rahayu Supanggah pun meletup-letup. Ia menjadi optimistis lewat berkesenian dirinya dapat mencapai kehidupan lebih baik daripada saat masa kecilnya. ”Keluarga miskin. Saat saya masih dalam kandungan, hidup keluarga berpindah-pindah,” ujarnya.

Karena itu pula, kisahnya, setelah lahir ia diberi nama Panggah Rahayu yang berarti tetap selamat. ”Rahayu nama pemberian nenek dari ibu yang tinggal di Teras. Yang Supanggah pemberian dari nenek dari bapak di Sambi,” pungkasnya. – Oleh : Fetty Permatasari

Karya seni unggul lahir dari riset

Sebuah karya seni mestinya tak sekadar lahir dari intuisi dan imajinasi penciptanya. Karya seni unggul lahir setelah melewati proses panjang penelitian.

Prinsip itulah yang membuat setiap karya Rahayu Supanggah selalu khas dan unik.

“Yang penting dalam membuat karya adalah penelitian. Misalnya saat saya membuat I La Galigo. Saya harus membaca bukunya. Makanya saya membuat karya selalu tidak kurang dari dua tahun,” ujarnya.

Agar karya lebih objektif, Panggah selalu mengorelasikan muatan cerita dengan realitas masa kini. Taruhlah saat akan membuat musik untuk cerita Ramayana. Semua karakater tokoh harus ditelaah kembali. Terlebih tokoh Rama. Karena tokoh tersebut sudah tak ideal dengan era kini.

”Rama itu mengorbankan rakyatnya, mengorbankan harta bendanya, hanya untuk dirinya sendiri demi membebaskan Sinta. Sekarang ini seperti itu sudah tidak penting,” ungkapnya.

Penyesuaian dengan kondisi masa kini itulah menurut Panggah yang membuat sebuah karya bisa disebut modern. Jadi, agak salah kaprah jika ada yang masih menganggap sebuah karya seni baru masuk sebagai karya seni modern ketika bersentuhan dengan teknologi. “Jadi modern itu ketika karya menjadi kredo. Tidak sekadar fisik,” ujarnya.

Oleh sebab itulah, wayang kulit baru bisa disebut modern oleh Panggah jika cerita yang dituangkan berkorelasi dengan masa kini. Tidak sekadar mengawinkan dengan alunan campursari maupun berbagai teknologi terkini. ”Kalau yang pakai tambahan seperti itu namanya musik baru. Tapi intinya juga tergantung niat atau tujuannya. Kalau jadinya aneh namanya sensasional,” paparnya.

Seni yang berlandaskan riset, menurut Panggah sebetulnya telah diajarkan seniman terdahulu. Salah satunya seperti Ronggowarsito. Karena lewat riset, seniman melakukan pendekatan kepada manusia secara komprehensif. ”Dalang yang hebat juga seperti itu. Mereka melakukan riset, melakukan pendekatan kepada manusia sepenuhnya. Makanya dulu dalang sampai di panggil Ki,” ujarnya.

Tapi Panggah mengaku memang tak mudah membuat karya macam itu. Lantaran di Indonesia jumlah seniman tak diimbangi dengan jumlah kritikus yang menjadi penjembatan antara kesenian dan publik. ”Kalau ada kritikus jadi tahu, kesenian itu ngene lo, sing apik ngene, sing elek ngene. Sayangnya kalau di sini kritikus dimaknai tukang nyacat,” tukas dia.

Tak punya banyak mimpi

Dari sekian banyak cerita pewayangan, Rahayu Supanggah mengaku terkesima dengan cerita Dewa Ruci. Buah kecintaan kepada Dewa Ruci itu pula yang menginspirasinya membangun gapura ISI dengan bentuk perahu.

“Sayang yang membuat kapal salah, sebab harusnya di badan perahu dilengkapi bentuk semacam pena. Di ujung itu buah manggis. Buah manggis itu kejujuran. Di luar jelek tapi di dalam putih,” terangnya.

Bagi Panggah, Dewa Ruci layak menjadi inspirasi karena menjadi simbol pengembaraan Bima mencari makna hidup. Dalam cerita itu, Bima berguru kepada Durna yang ahli strategi perang. Bima pun disalahkan oleh keluarganya. Terlebih lagi, Durna adalah musuhnya. Tapi Bima tetap setia mencari makna hidup dengan berguru kepada Durna. “Jadi, siapa pun bisa menjadi orang jika setia kepada guru dan profesinya. Jika profesi itu ditekuni, ya bisa menjadi luar biasa. Saya sendiri penabuh gamelan, tapi saya tekuni, ya jadi seperti ini,” ungkapnya.

Dari filosofi Dewa Ruci itu, meski sudah berkeliling ke berbagai penjuru dunia, Rahayu Supanggah tetap bersemangat mengembara. Tujuannya satu, memapankan kredo atau filosofi hidupnya. ”Makanya, saya sejak dulu tidak pernah punya impian muluk. Saya berjalan menurut kehendak Tuhan. Kalau punya impian muluk, saya nanti kecewa,” ujarnya.

Meski demikian, impiannya membuat gamelan mendunia telah terwujud. Menurut Supanggah, di Amerika Serikat kini telah ada 600 set gamelan dan di Inggris Inggris 100 set gamelan. ”Dulu gemelan di lesehan gini, tapi sekarang gamelan di gedung teater paling bergengsi di dunia.”

Kini, di usia senjanya, Supanggah ingin berbuat baik untuk semakin banyak orang. Ia ingin terus menularkan virus berkesenian yang mengindonesia dan tidak berorientasi ke materi belaka. Sebab menurutnya, ketika kesenian digunakan untuk politik maka iming-iming yang paling terasa adalah uang. ”Siapa yang tidak butuh uang. Apalagi kalau di Jawa itu ada pilihan yang susah dipilih, ‘jeneng atau jenang?’ Sebetulnya jika jeneng sudah dicapai maka jenang akan mengikuti,” ujarnya.

Dalam berkesenian, seseorang menurut dia juga tak boleh menghalalkan segala cara. Sebutlah seperti membuat karya yang bernapaskan pornografi. ”Tetap ikuti norma. Ya memang yang sok-sok ora nduwe kanca, tapi kadang-kadang akan mendapatkan tempat yang sangat indah.”

Empu karawitan yang jenius

Di mata Suprapto Suryodarmo yang oleh para seniman lain akrab disapa Mbah Prapto, Rahayu Supanggah adalah sosok jenius yang mampu memadukan nilai-nilai tradisi dengan berbagai cabang seni.

“Ia betul-betul empu karawitan,” ujar seniman yang juga menjadi pimpinan Sanggar Lemah Putih itu saat dihubungi Espos,Minggu, (20/2).

Sebagai sesama seniman, Suprapto mengaku kagum akan kemampuan Supanggah menentukan pemikiran seni dalam ranah objektif. Taruhlah saat berkolaborasi dengan seniman berkaliber internasional, ia tetap bisa menampilkan karya yang berkarakter nasional. ”Ia tidak pernah meninggalkan unsur tradisi,” tegas Prapto.

Di dunia akademis, Suprapto menilai Rahayu Supanggah pun amat mumpuni. Itulah sebabnya, Suprapto berharap seniman-seniman muda Kota Solo intens menggali ilmu dari Rahayu Supanggah.

Low profile walaupun jadi orang top

Sederhana dan jujur. Begitulah kalimat yang meluncur kali pertama dari bibir RB Soewarno Notowijoyo, 62, sahabat satu kos Rahayu Supanggah selama menjadi tenaga honorer di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo.

”Sampai sekarang tetap low profile. Walaupun sudah jadi orang top tapi kehidupannya biasa. Beliau bisa menjadi teladan saya. Perjuangannya betul-betul dari nol,” ujarnya saat dijumpai Espos di rumahnya,Jl Ki Hjar Dewantoro 52,Pangungrejo, Solo, Sabtu (19/2).

Sebagai seorang yang mengenal Rahayu Supanggah sejak tahun 1966, Soewarno banyak menyimpan kenangan tentang sahabatnya itu. Kenangan yang tak terlupakan yakni saat Supanggah menjadi guru honorer di SMKI. Setelah mendapat honor, biasanya Soewarno selalu diajak ke hik. ”Nanti kami makan sate kikil. Beliau paling suka sate kikil. Tapi kalau sekarang,karena kesehatan,sudah mengurangi.”

Menurutnya, salah satu resep tetap awetnya persahabatannya dengan Rahayu Supanggah adalah karena mereka bersikap saling terbuka satu sama lain. ”Kami selalu berusaha mengucap syukur dalam keadaan apapun,” ungkapnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s