Farida Oetoyo Maestro Balet Indonesia

Posted on

Dialiri darah leluhurnya yang seniman musik dan film terkenal. Ayahnya, R Oetoyo Ramelan, adalah pegawai tinggi Departemen Luar Negeri. Kariernya meningkat menjadi Duta Besar RI untuk beberapa negara Asia dan Eropa. Ibunya Maria Johanna Margaretha Te Nuyl. seorang wanita berdarah Belanda. Farida mempunyai dua adik laki-laki, Fajar Alam dan Satria Sejati. Tetapi sejak lama kedua adiknya hingga sekarang menetap dan menjadi warga Negara Kanada. Sejak kecil Farida tinggal di luar negeri bersama orang tuanya yang Duta Besar RI di Singapura, kemudian berpindah-pindah ke berbagai Negara di di Asia dan Eropa. Ketika masa kanak-kanak, Fari kecil menyukai balet. Mula-mula belajar pada ‘Ballet Fine Arts of Movement, pimpinan Willy Blok Hansen. Di Singapura. Kemudian pindah ke Royal Academy of Dance di Canberra, Australia.

Masa remaja
Saat Fari menginjak usia remaja (14), mendadak ayahnya wafat akibat serangan jantung. Keadaan itu mengubah nasib keluarga yang ditinggalkan. Farida harus mampu hidup mandiri, Menerima realitas hidup yang serba sulit. Karena ia tak lagi sebagai anak Duta Besar yang menikmati fasilitas tetapi sebagai anak yatim. Keinginanya menjadi ballerina profesional terus menggebu. Beruntung ia mendapat tawaran beasiswa dari pemerintah Rusia, yang disambutnya dengan kegembiraan. Betapa tidak, Akademi Balet Bolshoi Moskwa, Rusia merupakan surga klasik dunia. Ini harus diterima.

Belajar di Akademi Balet Bolshoi
Selama empat tahun belajar di Akademi Balet Bolshoi, hampir setiap hari mulai pukul 09.00 sampai 21.00, Farida digembleng dan dilatih dengan penuh disiplin oleh gurunya Alla Mihailovna, wanita baya yang menurunkan ilmu balet klasik dengan penuh disiplin. Selain itu ia mendapat beberapa mata kuliah lainnya seperti sejarah kesenian, karakteristik, manjemen kesenian, drama pentas dan lain-lain

Farida Oetoyo, dinyatakan lulus Cum Laude setelah menempuh ujian di depan 50 pakar balet dunia yang mengujinya dengan pandangan dingin dan berwibawa. Sekaligus ia menyandang gelar “Artist of Ballerina”. Selain menguasai balet klasik, Farida juga memperdalam balet modern di Amerika Serikat. Ia berguru pada tokoh balet modern, Martha Graham dan pernah berguru pula pada Alvin Nicolais, penganut balet modern di Amerika.

Kembali ke Indonesia
Sukses Farida dapat dipahami mengingat koreografer yang juga dijuluki balerina dunia ini telah meraup segudang pengalaman pentas di dalam mau pun mancanegara. Upaya pembinaan terus dilakukan dengan membuka sekolah balet ‘Nritya Sundara’ bersama Yulianti Parani di Jakarta tahun 1957. Usaha ini memicu perkembangan balet di tanah air. Di samping meningkatkan frekuensi pementasan balet memungkinkan blantika balet di tanah air semakin kondusif.

Karya-karya
Setidaknya dua nomor balet berlabel Rama & Shinta dan “Gunung Agung Meletus” merupakan karya masterpiece koreografer Farida Oetoyo. Di samping kedua karya besar ini, masih ada karya lainnya yang bisa di catat sebagai karya handal monumental. Di antaranya balet “Carmina Burana”, “Putih-Putih” dan “Daun Fulus”. “Gunung Agung Meletus” dan “Rama & Shinta”, mendapat sambutan hangat saat dipentaskan di Teater Terbuka dan Teater Arena Taman Ismail Marzuki tahun 70-an. Tak heran bila angin segar menerpa penggemar balet di Indonesia. Publik sangat antusias menonton sajian berkualitas. Lima ribu tempat duduk yang tersedia di Teater Terbuka padat penonton. Bahkan kalangan pers juga mempunyai andil besar. Menyambut dengan menurunkan berirta dan artikel-artikel menarik dimedia cetak mereka.

Maestro balet
Tidaklah berlebihan bila Farida Oetoyo, yang pernah menjadi primadona di panggung balet dunia disebut sebagai “Maestra Balet” Indonesia, mengingat ia pernah bergabung dengan “Teater Bolshoi” di Rusia dan berpentas di sejumlah negara Eropa serta Amerika. Bahkan hingga sekarang masih aktif mengajar balet di sekolah balet “Sumber Cipta” miliknya di Ciputat Jakarta Selatan.

Dunia film
Selain balet, Farida pernah juga merambah blantika film nasional. Ia membintangi beberapa film layar lebar antara lain film Perawan di Sektor Selatan, Apa Jang Kau Tjari, Palupi?, Bumi Makin Panas. Ia mampir di dunia film atas ajakan suaminya, sineas Sjumandjaja.

Farida Oetoyo (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 Juli 1939; umur 71 tahun) adalah seorang maestro balet Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s