Abdullah Faishol Menulis Buku Hingga Miliki Perpustakaan Pribadi

Posted on

Kemahiran Abdullah Faishol dalam menghasilkan karya tulis ilmiah semakin dimatangkan dengan menulis beberapa judul buku. Salah satu judul buku karyanya adalah Membumikan Ajaran Islam Melalui Yasinan dan Tahlilan.
Melalui karya-karyanya itu, Faishol mencoba berdakwah Islam secara santun melalui tulisan, tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Karyanya tersebut diharapkan bisa menjadi referensi dalam kehidupan dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

“Alhamdulillah, buku tentang pembumian Islam tersebut booming, dan kini hasil terbitannya tak tersisa lagi. Namun, saya berencana untuk mencetak lagi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” ujar Faishol di kediamannya, Kranggan Kulon 54 RT 3/II Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo.

Saking cintanya pada dunia tulis menulis, Faishol juga mempunyai perpustakaan pribadi. Koleksi-koleksi bukunya yang beragam diharapkan mampu memberikan inspirasi untuk terus berkarya. “Kita tahu, buku adalah jendela dunia. Sehingga dengan membaca buku, kita dapat mengetahui segalanya. Meskipun kini telah ada internet namun keberadaan buku akan tetap bermanfaat,” pungkas suami dari Munaworah ini.

Buku-buku koleksi pribadi Faishol itu juga untuk mendukung disertasinya, khususnya dalam bidang keagamaan. Sehingga perpustakaan pribadinya kian hari terus berkembang dengan terus bertambahnya koleksi bacaannya. “Saat ini buku koleksi saya memang masih belum tertata seperti perpustakaan pada umumnya. Namun secara perlahan akan terus saya kembangkan agar ke depannya dapat dimanfaatkan oleh orang lain,” tuturnya.

Menjadi Pengajar Adalah Cita-citanya Sejak Kecil

Sejak tahun 1994, Abdullah Faishol telah menetap di Solo setelah sebelumnya berdomisili di Yogyakarta. Selama 17 tahun di Solo, dirinya menjadi dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Surakarta yang kini menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta.

Sebelum menjadi dosen, di Yogyakarta sejak tahun 1990, Faishol telah menjadi guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) PP Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dan sempat menjadi kepala sekolah di Madrasah Aliyah (MA) PP Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Menjadi pengajar memang cita-cita Faishol sejak kecil. Sebab profesi itu dianggap sebagai wujud nyata pengabdian pada masyarakat. “Dengan menjadi guru saya dapat terus belajar dan berbagi ilmu, sehingga harus diusahakan agar cita-cita tersebut dapat tercapai. Alhasil, dengan segala usaha dan doa, profesi menjadi seorang pendidik dapat saya diraih,” pungkas Faishol sedikit tersenyum.

Dari keluarga sendiri, dukungan agar Faishol menjadi pendidik juga sangat kuat. Anak kesembilan dari 10 bersaudara ini juga sering mendapat motivasi agar cita-citanya menjadi guru tercapai.

Hasil Penelitian untuk Cegah Konflik Agama

Selama ini, penelitian yang dilakukan oleh beberapa pelaku akademik kerap hanya sebatas menghasilkan sebuah teori atau wacana. Namun itu tidak berlaku bagi Abdullah Faishol, sosok peneliti yang mampu mengaplikasikan karyanya di kehidupan nyata. Berprofesi sebagai dosen di STAIN Surakarta, hasil-hasil penelitiannya tentang sosial kemasyarakatan mampu digunakan sebagai “senjata” untuk mengabdi pada masyarakat.

Tak heran pula jika karya Faishol, kerap ia disapa, berjudul Kesadaran Pluralitas di Surakarta menjadi pemenang dalam Penelitian Terbaik Nasional Tahun 2008. Pada penelitian itu, dia menggunakan Participatory Action Research (PAR) atau melakukan penelitian dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sehingga hasil dari penelitian itu mampu diaplikasikan pada masyarakat Kota Solo.

Setelah sukses menjadi peneliti terbaik, kini Faishol dipercaya menjadi seorang trainer atau pelatih pada pelatihan penelitian di beberapa kota di Indonesia. Separuh lebih kota besar di Indonesia telah ia datangi dalam rangka memberikan pelatihan tentang penelitian masyarakat.

Saat berbincang dengan Joglosemar belum lama ini, Faishol mengaku butuh ketekunan dan pengamatan mendalam perihal kondisi masyarakat saat melakukan proses penelitian. Sehingga untuk meraih kesuksesannya itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

“Ketika melakukan penelitian harus mengetahui kebutuhan masyarakat sebenarnya dan tindak lanjutnya. Tidak hanya menghasilkan sebuah teori, namun harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hasil penelitian tentang kesadaran pluralitas di Surakarta tahun 2008 silam sampai saat ini masih dimanfaatkan untuk mengelola sebuah pluralitas di kota budaya ini,” tutur Bapak empat anak ini.

Saat ini, Faishol bergabung dengan Komunitas Interaksi Solidaritas Antar Elemen Masyarakat (Insan Emas) Surakarta dalam rangka mengaplikasikan hasil penelitian, khususnya dalam mengelola pluralitas agama di daerah. Pihaknya kerap melakukan dialog dan menggelar kegiatan bersama dalam forum lintas agama.

“Melalui forum lintas agama, kerusuhan dan konflik antaragama dapat diantisipasi. Kita tahu, Solo adalah kota pluralis akan agama dan aliran. Sehingga harus ada upaya-upaya khusus dalam mencegah konflik, agar peristiwa Pandeglang, Temanggung, dan di kota-kota lain bisa dicegah,” pungkas Faishol yang menggemari olahraga badminton ini.

Dijelaskan Faishol, dalam mencegah konflik agama harus ada kesadaran pada tiap individu masyarakat yakni saling memahami, saling mengenal, dan berdialog. Melalui langkah-langkah tersebut, potensi konflik maupun kerusuhan bisa diminimalkan. “Sebuah konflik di masyarakat sebagian besar bukan murni dari masyarakat, namun karena diciptakan oleh oknum tertentu,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s