Harso Witono Menjadi Jutawan dengan Mengumpulkan Barang Rongsok

Posted on Updated on

Jangan takut atau malu, itulah pesan yang sering dilontarkan oleh pengusaha barang rongsok Harso Witono. Bayangkan, sejak berusia delapan tahun dia harus sudah bekerja membanting tulang dengan mengumpulkan barang bekas.
Aktivitas itu dilakoninya sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) hingga lulus SMP sekitar tahun 1950-an. Harso mengakui, tak sedikit orang yang mencibir pekerjaannya karena dianggap kotor dan rendahan. Namun dengan kegigihan dan kelapangan hati bapak sepuluh anak ini, usaha yang ditekuninya selama puluhan tahun itu kini berbuah hasil.
“Itulah modal awal orang mau berusaha untuk sukses, tak takut malu, jujur, dan tak lupa disiplin waktu. Orang boleh bilang itu hanya omongan biasa, namun pengalaman pahit saya dulu mampu mendewasakan untuk mengejar impian,” kata Harso.
Ia menambahkan, faktor kesuksesan yang berasal dari keajaiban hanya satu dari 1.000 orang. Cucuran keringat dan doa meski dilewati. Ketahanan dan keuletanlah yang mampu menjaga jalan menuju gerbang kesuksesan. Cacian, cibiran, dan makian diakui Harso, acapkali menghampirinya kala berkeliling mencari barang rongsok di perkampungan padat penduduk. “Entah apa yang membuat saya kuat menjalani hidup seperti kala itu. Mungkin keyakinan bahwa kesuksesan akan diraih jika kita bekerja keras,” candanya.
Harso berpesan, bahwa untuk memulai sebuah bisnis atau usaha yang berangkat dari nol, prinsip utamanya harus yakin dengan usaha itu. Kemudian kekonsistenan untuk menekuni bidang yang digeluti itu juga merupakan syarat untuk meraih sukses. n Bonus Wibowo Bramhartyo

Sekolahkan Anak hingga Jadi Pengacara
Dulu banyak orang yang menawari Harso Witono untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saat itu memang untuk menjadi PNS sangatlah mudah, tidak seperti sekarang. Namun tawaran itu oleh Harso ditolaknya karena dilarang oleh orangtuanya.
“Entah dengan alasan apa, orangtua saya dulu melarang keras saya jadi PNS. Meski sempat kecewa, larangan tersebut lama kelamaan saya jadikan cambuk untuk belajar mandiri,” tuturnya.
Diungkapkan Harso, pepatah Jawa yang mengatakan rezeki, jodoh, dan mati adalah rahasia Tuhan memang benar adanya. Tatkala hati merasa sumpek memikirkan masa depan kelak, garis takdir senantiasa mengikuti bagaimana usaha dan doa yang manusia lakukan.
“Disiplin waktu, jujur, dan telaten adalah kuncinya. Dengan usaha dan doa sesuai keyakinan masing-masing, niscaya apa yang semula tak mungkin kita raih, akhirnya bisa kesampaian,” imbuhnya.
Puji syukur selalu ia panjatkan atas limpahan rezeki yang telah diperolehnya. Meski usaha yang ia geluti tak sedikit orang yang menganggap remeh, tapi Harso bangga bisa mengantarkan kesepuluh anak-anaknya menjadi orang yang mandiri. Mulai dari meneruskan usaha rongsoknya hingga salah satu anaknya menjadi seorang pengacara.n Bonus Wibowo Bramhartyo

Banyak yang mengatakan jika barang-barang bekas (rongsok) tidak ada gunanya. Barang rongsok dianggap kumuh, bau, bahkan sumber penyakit. Tapi siapa sangka barang-barang bekas ternyata bisa menjadi sumber pundi-pundi rupiah. Itu pula yang ditekuni Harso Witono (77) dengan menjadi pengepul barang rongsok, hingga akhirnya menjadi jutawan seperti saat ini.
Sebenarnya Harso Witono terlahir dari lingkungan keluarga yang sangat sederhana. Saking sederhananya, dulu untuk makan sehari-hari dia harus bekerja keras dengan mencari barang bekas di tiap sudut kampung. Pekerjaan itu Harso lakukan sejak masih duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) setiap pulang dari sekolah.
“Begitu pulang sekolah, buku dan tas saya titipkan di sebuah warung. Dengan berjalan menyusuri tiap kampung saya berteriak-teriak, ‘rongsok-rongsoke bu, kawat-kawat, besi-besi bekas’. Itulah aktivitas saya sepulang sekolah sampai lulus SMP,” katanya beberapa waktu lalu.
Namun semua itu Harso lakukan dengan senang hati. Sehingga pekerjaannya tidak terasa berat dan rasa malu pun ia kubur dalam-dalam. Ulet dan telaten juga menjadi modal lainnya untuk menekuni pekerjaan itu. Kemudian dari kegemarannya mengumpulkan barang-barang bekas yang dijual lagi pada pengepul, membuat Harso makin mantap menekuni usaha itu.
Tak ayal, mulanya hanya kios reyot kecil yang berada di pinggir Jalan Prawit, Nusukan, Solo, kini berkembang pesat hingga memiliki gudang barang rongsok seluas 3 hektare. Bahkan, Harso masih memperluas usahanya dengan membangun gudang rongsok sejenis di daerah Mojosongo tepatnya di sebelah utara SMP 18 Solo. Dengan mempekerjakan rata-rata 30 orang di tiap gudangnya, Harso bisa meraup keuntungan per bulan mencapai puluhan juta rupiah.
“Dulu saya ditentang saat ingin menjadi PNS, dengan beragam alasan yang membuat hati dongkol. Akhirnya saya menekuni usaha rongsok dan bertekad pekerjaan ini bisa menjadikan saya sukses,” imbuhnya.
Dikatakan Harso, semenjak menikah dengan Trinem tahun 1958 silam, mereka berdua benar-benar memulai usaha rongsok dari nol. Meski beragam duka berkali-kali datang menghampiri, tekadnya untuk menjadi orang yang mandiri akhirnya tercapai.
Sebelum menekuni pekerjaan mengumpulkan barang-barang bekas, Harso juga pernah menjadi kernet truk selama tiga tahun. Namun setelah modalnya terkumpul, ia kembali menggeluti dunia rongsok hingga detik ini. Perlahan tapi pasti, pundi-pundi rupiah pun mulai menyesaki kantongnya hingga mengantarkan Harso jadi pengusaha rongsok ternama di Kota Bengawan.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Iklan

2 respons untuk ‘Harso Witono Menjadi Jutawan dengan Mengumpulkan Barang Rongsok

    dian said:
    April 18, 2012 pukul 2:00 pm

    succes y om?salut sama kerja keras nya!!!

    Aris Rushter said:
    Desember 31, 2013 pukul 1:19 pm

    mantap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s