Haksu Indarto Kembangkan Konghucu lewat dunia pendidikan

Posted on Updated on

Ruang keluarga berukuran sekitar 4 m x 5 m di Lantai II, sebuah rumah sekaligus toko di Jl Gatot Subroto 170 Solo itu terasa betul nuansa Tiongkok-nya.

Semua hiasan yang terpasang di dinding berhiaskan tulisan China. Buku-buku tebal yang memenuhi salah satu lemari juga semuanya beraksara China. Bahkan Rabu (26/1) siang itu, siaran televisi yang sedang ditonton pun berbahasa Mandarin. “Itu siaran televisi Phoniex Hongkong. Beritanya lebih bagus daripada China Television,” kata pemilik rumah, Haksu Indarto, sambil mengecilkan volume suara pesawat televisi dengan remote control.

Sebagai haksu atau pemuka agama Konghucu, aktivitas Indarto menjelang perayaan Tahun Baru Imlek memang meningkat. Tak sekadar menyiapkan keperluan sembahyang, Indarto juga turut menyiapkan pernik-pernik untuk memeriahkan Sin Cia atau Tahun Baru tarikh Imlek. Tak ayal, hari itu, di salah satu sudut ruangan pun bertengger kerangka boneka kelinci berbahan bambu yang belum dihias. Sementara itu, di salah satu kursi ada setumpuk pakaian tari untuk anak-anak. “Itu buat dipasang di Pasar Gede,” ujarnya menunjuk boneka kelinci yang belum jadi.

Walau kesibukannya bertambah, Indarto selalu meluangkan waktu jika diminta memberikan kuliah umum di perguruan tinggi. “Beberapa kali saya mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sayang waktunya cuma tiga jam,” ujarnya.

Indarto jatuh hati kepada dunia pendidikan lantaran menurut dia konsep pendidikan dalam ajaran Konghucu adalah yang paling hebat dalam ajaran agama itu. Bahkan, dia meyakini konsep pendidikan ajaran Konghucu lebih hebat ketimbang pendidikan ala Barat. “Ajaran Konghucu dan versi Amerika (konsep pendidikan ala Barat-red) sangat lain. Meskipun perbedaannya sederhana.”

Indarto lalu menerangkan ibarat rumah maka pendidikan ala Konghucu menitikberatkan kepada fondasi. Fondasi itu terletak pada pendidikan anak dari usia sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah tingkat atas. Pada masa itu, kata dia, anak mesti betul-betul digembleng. “Barulah saat mahasiswa bebas,” ujarnya.

Sedangkan pendidikan ala Barat, lanjut Indarto, justru sebaliknya. Penggemblengan dilakukan kala anak memasuki bangku kuliah. Ironisnya, pendidikan di Indonesia cenderung mengacu kepada konsep pendidikan ala Barat. “Fondasi dibikin seenaknya. Ya jelas lemah. Di sini saja letak perbedaannya.”

Konsep pendidikan yang ditawarkan Konghucu kepada murid-muridnya, menurut Indarto mencakup tiga aras. “Yang utama pendidikan moral, baru pendidikan fisik, lalu pendidikan dasar atau umum,” terang anak keenam dari tujuh bersaudara itu.

Keteladanan

Berbekal konsep pendidikan Konghucu itulah, Indarto berhasil membagikan wawasan dan pengetahuannya sehingga banyak anak didiknya yang kini menjadi pengusaha besar di Indonesia. “Meskipun tidak sekolah tinggi namun sukses. Karena fondasinya kuat. Mereka berhasil,” akunya.

Pendidikan moral, imbuh Indarto, tidak hanya bisa dibentuk di bangku sekolah formal tetapi juga di rumah. Salah satu caranya melalui keteladanan. Karena itulah Indarto masih ingat benar pendidikan moral yang dia dapatkan dari orangtuanya. Salah satunya, jika ia terlambat bangun pagi maka ibundanya akan memukul-mukul tempat tidurnya sambil marah-marah. “Wis bedug ndrandang, dasar balung kere,” ujar Indarto menirukan umpatan ibundanya kala itu.

Keteladanan itu, tegas dia, juga mencakup hidup disiplin dan kerja keras. Saat masih duduk di bangku SD itu pula, Indarto mengaku telah dilatih terbiasa membantu kedua orangtuanya yang berjualan bahan kebutuhan sehari-hari. Sepulang sekolah

Indarto biasanya diminta menuangkan gula pasir pada kantong-kantong kecil yang terbuat dari kertas koran.

Banyaknya gula yang harus dimasukkan ke dalam kantong membuat Indarto selalu memutar otak agar pekerjaan itu cepat kelar. “Ya kadang malas juga. Karena teman-teman sebaya umumnya main,” ungkapnya.

Alhasil, biar cepat selesai, Indarto biasanya menata kantong-kantong itu berjajar lalu menuangkan gula pasir serempak menggunakan ciduk besar. “Dari pekerjaan itu, saya dilatih kerja efisien dan sabar,” ungkapnya.

Keteladanan akan kerja keras dan kesabaran itu pula yang menurut Indarto juga ditunjukkan oleh guru-gurunya. Jika siswa-siswanya mengalami kesulitan memahami pelajaran maka guru-gurunya pada masa itu selalu meluangkan waktu mereka untuk memberikan tambahan pelajaran. “Dulu les tidak ada. Tapi kalau siswa kesulitan, lalu ke rumah guru, tidak bayar,” kenangnya.

Dengan sikap guru yang demikian tak heran jika Indarto dan teman-temannya kala itu menjadi gila ilmu. Terlebih, peralatan laboratorium di sekolahnya juga lengkap karena semua didatangkan dari China. “Makanya saat di SMA saya suka sekali dengan Kimia dan Fisika. Karena semua buku berbahasa Mandarin, saya fasih bahasa Mandarin. Saya juga hobi Matematika,” paparnya.

Pulang kampung

Kegemaran akan mata pelajaran eksakta itulah yang merangsang Indarto menyukai gambar mesin. Jadilah setamat SMA ia memilih jurusan Teknik Elektro di Universitas Respublika yang kini menjadi Universitas Trisakti, Jakarta. Sayangnya baru lima semester menempuh kuliah, tragedi G30S memaksanya pulang kampung. Universitasnya ditutup. Di Solo, ia pun kembali membantu bisnis orangtua. “Lima semester, saya dapat Fisika umum, Matematika dan Elektronik. Meskipun tidak sekolah lagi, tapi saya di rumah belajar terus. Tradisi belajar sudah mengakar,” katanya.

Alhasil kemampuannya di bidang Elektronika pun tetap terasah. Sehingga setelah menikah pada tahun 1973, Indarto meraih sukses kala membuka toko komponen elektronika di Kratonan. “Tokonya masih. Kecil. Ukurannya cuma 6 m x 7 m. Tapi karena pengetahuan saya waktu itu cukup tinggi, banyak montir yang datang ke rumah saya. Lama-lama toko saya ramai. Karena pelayanan dan harga juga pas.”

Sembari mengelola bisnis itulah, Indarto juga konsen mengajar di Yayasan Tri Pusaka. Dalam menjalankan dua aktivitas itu, Indarto selalu menerapkan ajaran Konghucu. Oleh karena itulah, bisnis komponen elekronikanya tetap eksis hingga kini. Bahkan Indarto juga telah memiliki pabrik perakitan komponen elektronika sendiri.

Soal karier bisnisnya, Indarto mengaku tak banyak menemui hambatan. Bahkan kala tokonya menjadi sasaran amuk massa pada kerusuhan tahun 1998 pun dia anggap musibah itu sebagai tempaan kecil dalam hidup. Baginya, apa yang sudah ia raih kini, sudah lebih dari cukup. Kini dia hanya ingin anak-anaknya bisa membangun bisnis dengan tetap berlandaskan ajaran Konghucu.

Biodata

Nama : Indarto (Tan Gik Hin)

Lahir : Solo, 16 Juli 1940

Alamat : Toko Oriental Audio, Jl Gatot Subroto 170 Solo

Istri : Tan Mei Lan

Anak :

Santi Anggraeni

Kartika Agustina

rawan Suryanata

Erika Susanti

Pendidikan

* SD Wakung Solo

* SMP Wakung Solo

* SMA Socong Solo

* S1 Teknik Elektro Universitas Respublika Jakarta (tidak selesai)

Organisasi

* Pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin)

* Pengurus Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Solo

* Pengurus Yayasan Pendidikan Tri Pusaka Solo

* Anggota Perhimpunan Indonesia Tionghoa

Sumber: Wawancara (fey)

Tak gentar membakar semangat pemuda

Diskriminasi terhadap warga keturunan China khususnya penganut Konghucu di era Orde Baru memang begitu kentara.

Tak heran jika waktu itu banyak umat Konghucu hijrah ke agama lain. “Saya bertahan dengan Konghucu. Karena dulu sebenarnya bukan masalah agama tapi masalah politik. Hubungan Indonesia dengan China dan konsep pembauran yang keliru,” ungkapnya.

Pasalnya, kata Indarto, pada era 1960-an sempat tercetus konsep pembauran yang diusung seorang Letkol angkatan laut Tionghoa bernama Sindunata. Menurut Indarto, Letkol tersebut berpendapat jika warga keturunan China mau eksis di Indonesia maka harus membaur. ”Konsep membaur itu tidak jelas. Apakah kawin campur atau seperti apa. Tapi, selama orang China lebih banyak bosnya kemudian dianggap selalu tidak berbaur,” terangnya.

Padahal, kata Indarto, pembauran itu semestinya alami dari kedua belah pihak. “Sekarang mulai terwujud. Karena orang Jawa kini menerima budaya China dan warga keturunan China mengikuti budaya Jawa,” ujar kakek delapan cucu yang gemar mengakses informasi terbaru dari internet ini.

Hanya, kata Indarto, menggerakkan kembali semangat pemuda Konghucu sekarang memang tidak mudah. Sebab mental generasi penerus masa kini, menurutnya sudah sangat dipengaruhi oleh mental santai. “Padahal tradisi orang Konghucu adalah belajar. Karena saat ada kesulitan, Tuhan tidak menutup jalan. Tinggal mau berusaha atau tidak,” katanya.

Oleh karena itulah, ia tak menyerah membangkitkan semangat ajaran Konghucu kepada generasi muda Konghucu melalui berbagai lini kehidupan. Sebab, menurutnya, pendidikan dan penanaman nilai tak hanya di ruang kelas. “Tapi di rumah, di ruang olahraga dan di masyarakat,” ujarnya.

Terlebih lagi, tambahnya, umat Konghucu diberi kebebasan mengartikulasikan ajaran agama sesuai perkembangan zaman. “Banyak hal yang berbeda, tapi semangatnya tidak berubah. Seperti semangat rajin belajar dan menghargai guru sampai sekarang tidak akan berubah,” ujarnya.

Di Kelenteng, umat Konghucu berdemokrasi

Demokrasi tak hanya menggema di ruang-ruang politik. Di kelenteng, umat Konghucu pun berdemokrasi.

Betapa tidak, hampir sebagian kelenteng yang tersebar di Indonesia digunakan oleh tiga kepercayaan sekaligus: Konghucu, Buddha dan Taoisme. Meskipun pendukung budaya kelenteng itu banyak yang menganut Konghucu namun ciri khas Buddha dan Taoisme di kelenteng-kelenteng itu umumnya lebih dominan ketimbang ciri khas Konghucu.

Seperti di Kota Solo sendiri, kelenteng di Pasar Gede cenderung Buddha. Sedangkan di Coyudan cenderung Taoisme “Di Indonesia yang murni Konghucu cuma ada dua. Satu di Kapasan Surabaya, Kelenteng Bun Bio dan satu lagi baru saja dibangun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sekarang bisa mendirikan kelenteng. Tidak seperti dulu. Jangan kata membangun kelenteng, pakai yang lama saja tidak boleh,” ujarnya.

Bukan itu saja, lanjutnya, kini umat Konghucu pun bebas beribadah di kelenteng dan bebas merayakan Sin Cia atau Tahun Baru tarikh Imlek. “Jadi perayaan Imlek itu hari besar agama. Bukan budaya,” tegasnya.

Meskipun berdemokrasi di kelenteng, namun menurut Haksu Indarto ada hal yang berbeda dari Konghucu, yakni Konghucu tidak mau terjebak dalam simbolisme pemujaan figur yang diwujudkan dengan menyembah patung. Alasannya, Konghucu hidup 2.500 tahun lalu sehingga jika dilogika tak ada yang tahu persis wujud Nabi Kongcu kala itu. “Seperti dalam Islam, Muhammad tidak boleh dilukis. Saya setuju itu. Ini sama dengan Konghucu. Cukup ditulis nama saja. Simbol figur Konghucu itu sebetulnya tidak ada. Ajaran Khonghucu itu tidak menyuruh seperti itu. Lalu objek kerohanian itu apa?” paparnya.

Konsep Tuhan

Indarto menjelaskan objek kerohanian Khonghucu intinya ada dua jenis. Pertama, karena setiap orang pasti berpikir asal-muasal keberadaan semesta alam maka munculah konsep Tuhan yang disebut Tien. Kedua, objek spiritual agama Konghucu adalah leluhur. “Oleh karena itulah, pada malam Sin Cia, selain sembahyang kepada Tuhan juga sembahyang kepada leluhur,” tambahnya.

Barulah kemudian, kata Indarto, objek selanjutnya, mengingat orang-orang yang sangat berjasa. Sementara itu, menurutnya, dalam konsep mengembangkan agama, Konghucu, juga tidak mengenal konsep menyebarkan apalagi sampai membangun kekuatan politik. Hal tersebut, kata Indarto, lantaran orang China suka berpikir surga dunia atau hidup nyaman di dunia. “Ini ajaran Konghucu. Jadi tidak berpikir hidup nyaman setelah mati. Bar mati nyang endi?.Embuh. Sing penting urip nyang dunyaa sing penak, dadi wong apik, sing bener sing pinter, sing rajin,” tandasnya.

Guru yang sukses berwiraswasta

Perkenalan Mulyadi, 65, dengan Indarto terjadi secara tidak sengaja.

Kala itu, pada tahun 1993, digelar konferensi agama Konghucu di Peking, China. Dari konferensi itulah, ia dan Indarto berada dalam satu rombongan kontingen asal Indonesia.

Sepulang dari pertemuan itu, Mulyadi lantas aktif di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Solo. Selama di Makin Solo, ia kemudian mengenal sosok Indarto lebih dekat. “Beliau itu sederhana dan kalau bicara to the point, apa adanya,” ungkapnya saat dijumpai Espos di rumahnya, Jl Gotong-royong 141, Kampung Sewu, Solo, Sabtu (29/1).

Menurutnya, hal itu mungkin tak lepas dari latar belakang pendidikannya sebagai orang teknik. Itu jua, kata Mulyadi yang memengaruhinya selalu berpandangan global. Bagi umat Khonghucu seperti Mulyadi yang masih pada tingkat causing, pola pikir itu turut berpengaruh pada paradigmanya. “Termasuk dalam hal bisnis,” ujar pengusaha rumahan pembuat dupa ini.

Pasalnya, ia memandang Indarto sebagai sosok guru yang sukses berwiraswasta. Usaha yang dirintis dari nol membiak cepat. Hal itu, katanya karena Indarto juga sosok pembelajar sejati. “Haksu In (panggilan akrab Mulyadi kepada Indarto-red) selalu semangat belajar,” ujarnya.

Oleh karena itulah, saat memberikan khotbah, tambah Mulyadi, apa yang disampaikan selalu kontekstual dengan realitas masa kini. “Kalau memberi contoh detail dan mendalam,” ungkapnya.

Selalu detail mengurai materi agama

Jika diminta menyebutkan nominasi pemuka agama Konghucu di Kota Solo yang paling detail menguraikan materi, nominasi pertama yang diajukan, Sunarijati, 78, jelaslah Haksu Indarto.

“Orangnya itu cerdas. Kalau ceramah mendalam sekali. Orangnya ramah,” ujarnya saat dijumpai Espos di rumahnya Jl Dewi Sartika RT 1/RW X, Danukusuman, Solo, Kamis (27/1).

Menurut perempuan pemilik nama China The Giok Lan yang akrab disapa Mak Lan ini setiap materi yang disampaikan oleh Haksu Indarto mudah dicerna di otak dan mudah menyusup ke hati. Apalagi, katanya, Haksu Indarto selalu mengorelasikan materi dengan kondisi masa kini. Keterampilan berceramah nan memikat itu, kata Mak Lan, bisa jadi lantaran Haksu Indarto sejak muda sudah menjadi guru di sekolah Yayasan Tri Pusaka .

“Bahkan habis lulus SMA kalau tidak salah juga langsung mengajar. Saya kenal sudah lebih dari 40 tahun. Jauh sebelum jadi haksu,” ungkapnya.

Selain itu, kepribadian lain yang menonjol dari Haksu Indarto adalah sifat tegasnya. Menurutnya,jika ada kegiatan di Makin Solo dan kebetulan Haksu Indarto yang menjadi koordinator, ia selalu meminta umat untuk bekerja total. Makanya, kata Mak Lan, jika ada kegiatan bersama hampir semua umat Khonghucu di Solo yang turut berkontribusi, selalu terpacu untuk mengerahkan semua kemampuan.

“Seperti saya, karena bisa memasak, saya selalu kebagian memasak dari dulu sampai sekarang,” pungkas perempuan yang selama 25 tahun mengelola usaha rumahan pembuatan kue keranjang ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s