Waldjinah, Buka Sekolah Keroncong Gratis

Posted on Updated on

Lama tak terdengar suara maestro keroncong asal Solo, Waldjinah. Bagaimana kabar dan aktivitasnya saat ini? Ternyata pelantun lagu Walang Kekek ini kian gencar menggeluti seni musik kerocong. Selain mengaku masih aktif menyanyi di salah satu stasiun TV lokal di Solo, diam-diam dia menyiapkan generasi penyanyi keroncong yang ia besut sendiri.
Ditemui di kediamannya  di Jalan Parang Cantel 31, Mangkuyudan, Purwosari, Laweyan, Solo Waldjinah menunjukkan sekolah gratis untuk penyanyi keroncong di garasi rumahnya. Sekolah gratis itu, dia bangun khusus untuk anak-anak yang gemar dengan musik keroncong. Tujuannya ia ingin ada yang meneruskan kariernya sebagai maestro musik keroncong.
”Saya ingin ada Waldjinah-Waldjinah baru nantinya. Murid saya mencapai puluhan, awalnya susah banget ngajari anak-anak karena mereka pada tidak tahu keroncong,” ujarnya kepada Joglosemar.
”Jadi dari awal saya ajak mereka nyanyi lagu kesukaan mereka. Misalnya lagu pop apa gitu lalu saya keroncongkan. Setelah itu baru saya kenalkan keroncong,” sambung dia.
Mendirikan sekolah gratis untuk penyanyi keroncong, menjadi kebanggan tersendiri bagi penyanyi yang berobesi membuat lagu khusus untuk Walikota Solo, Joko Widodo ini. ”Saya itu senang sekali kalau anak-anak itu antusias dalam mengikuti sekolah keroncong. Ketika saya melihatnya seperti akan lahir penyanyi-penyanyi keroncong yang akan meneruskan saya,” harapnya
Dia terlahir dengan nama asli Waldjinah, dan hingga kini ia tak berminat merubah nama pemeberian orangtuanya itu layaknya penyanyi lain. Saat ini, usianya sudah 65 tahun. Usia yang dibilang susah untuk tampil secara intensif sebagai entertainment di panggung hiburan.
Waldjinah mengaku terlahir dari keluarga yang tidak berdarah seni. ”Saya lahir dari keluarga pedagang, dibesarkan bersama sepuluh saudara,” tuturnya.
Selain tidak memiliki bakat seni dari orangtua, Waldjinah juga mengaku tak berpendidikan tinggi. Ia hanya mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) selama enam tahun. SR kata dia, setaraf SD sekarang ini.
Dari mana dia kemudian sukses menekuni seni musik keroncong? Ternyata, sang kakak, Munadi di balik kesuksesannya sebagai pelantun dan pencipta lagu keroncong. ”Sejak kelas dua Sekolah Rakyat, saya sudah mulai belajar menyanyi lagu-lagu keroncong. Kakak saya yang mengajari,” kenang Waldjinah.
Ratu Kembang Kacang
Dari sang kakak, Waldjinah awalnya belajar olah vokal. Lambat laun kemudian dia mendalami seni musik keroncong. Untuk membuktikan hasil belajarnya, Waldjinah mulai mengikuti kontes menyanyi pada tahun 1958 yakni saat kontes Ratu Kembang Kacang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan Perfini. ”Kontes tersebut diselenggarakan sebagai respon popularitas soundtrack film Delapan Penjuru Angin yang berjudul Kembang Kacang,” tuturnya.
Dalam kontes tersebut Waldjinah memperoleh gelar Ratu Kembang Kacang. Sejak itulah Waldjinah sukses melenggang ke dapur rekaman.
Dalam rekaman itu, dia memiliki pengalaman yang tidak bisa ia lupakan.” Saat itu karena masih kecil, mulut tidak sampai mik, maka, saya menggunakan alat bantu dingklik  untuk menambah tinggi badan dan menjangkau mik,” kenangnya sembari tertawa lepas.
Tahun 1965, Waldjinah menerima piala langsung dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Hal tersebut dikarenakan Waldjinah mendapatkan juara satu bintang radio tingkat nasional untuk kategori keroncong.
Kemudian, tahun 1968, Waldjinah kembali memasuki dapur rekaman dengan menyanyikan lagu  Walang Kekek. Konon, kabarnya lagu berjudul Walang Kekek yang dinyanyikannya laris di pasaran pada saat itu. ”Hingga sekarang, sekitar 1700-an judul lagu telah saya nyanyikan,” akunya.
Layaknya penyanyi profesional, mulai tahun 1971, Waldjinah mulai show ke beberapa kota di Indonesia. Tidak hanya tingkat nasional, Waljinah pada tahun tersebut sudah mulai merambah ke dunia internasional. Beberapa negara telah dikunjunginya, di antaranya adalah Singapura, Suriname, Malaysia, Jepang, China, Belanda, Yunani serta beberapa negara lain. ”Yang membuat saya  kagum itu, ternyata orang luar negeri juga suka keroncong,” terangnya.
Selama berkarier di bidang musik, Waldjinah tercatat sukses berkolaborasi dengan penyanyi lain. Sebut saja almarhum Chrisye. ”Yang paling berkesan ketika berkolaborasi dengan almarhum Chrisye, karena lagunya itu enak, cocok dengan suara saya. Pokoknya memiliki kesan yang mendalam,” ujarnya.
Memasuki usia senja, Waldjinah mengaku sudah tidak lagi menjajaki dapur rekaman. ”Sejak lima tahun yang lalu,  saya mulai berhenti rekaman,” katanya.
Kendati demikian, ia tak begitu saja meninggalkan dunia musik keroncong. Waldjinah mengaku tetap aktif show di beberapa kota dan di media. ”Saya masih nyanyi, serta setiap seminggu sekali saya masih tampil di salah satu stasiun televisi swasta di Solo,” tandasnya.
Dengan kesibukannya tersebut, pihak keluarga pun tetap memberikan dukungan kepadanya. Bahkan suaminya selalu tampak menemani ke manapun dia tampil.”ada teman setia, yakni suami saya. Dia ada setiap saya tampil,” paparnya.
Untuk ke depannya, Waldjinah berharap keroncong akan tetap eksis di sepanjang zaman. Meski musik-musik modern telah banyak beredar di pasaran, namun dirinya berkomitmen selalu mempromosikan keroncong hingga akhir hayatnya. ”Pokoknya saya tetap akan melstarikan musik keroncong selagi saya masih diberi kesempatan,” tandasnya.
(Dwi Hastuti)

Konser untuk Amal
Menjadi superstar dia sadari betul tidak akan abadi. Di antara rekan-rekan penyanyi yang mulai sakit-sakitan kian menyadarkannya, bahwa kepedulian antarseniman tetap dibutuhkan.
Istri dari Hadiyanto ini, tak bisa tinggal diam, melihat rekan-rekan sesama penyanyi terkapar di ranjang, karena sakit dan usia lanjut. Keprihatinan itulah yang menguatkannya untuk tetap aktif menyanyi, hasilnya dia dedikasikan untuk kesembuhan rekan-rekannya.
”Di dalam hidup kan kita tidak hanya mementingkan diri sendiri, kita juga harus berbagi dengan yang lain,” tutur Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Republik Indonesia (HAMKRI) Solo ini.
Selain melakukan konser amal untuk para seniman, bersama rekan-rekan seniman yang lain Waldjinah juga melakukan konser amal untuk korban bencana alam. Seperti pascatsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa di Padang, banjir Situ Gintung hingga yang paling hangat dalam beberapa waktu yang lalu yaitu koin untuk Prita serta untuk beberapa bencana lainnya.
Waldjinah berharap, apa yang dilakukan bersama teman-temannya dapat meringankan beban penderita. ”Konser amal ini dilakukan untuk membantu masyarakat, termasuk para seniman musik. Dengan ini semoga dapat menumbuhkan kepedulian dengan sesama,” ujarnya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s