Setelah Pensiun Mengabdi di Dunia Pendidikan

Posted on

Setelah pensiun kelak, Alex Parjiya tetap tidak mau duduk berpangku tangan. Pengalamannya menjadi guru membuatnya ingin selalu mengabdikan diri di dunia pendidikan. Baginya, dunia pendidikan adalah tanggung jawab moral yang harus diemban sampai kapan pun.

“Usai pensiun nanti, saya akan ikut semacam lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan. Entah itu diminta atau tidak, saya tetap bertekad sampai kapan pun akan membaktikan diri pada dunia pendidikan,” katanya. Menurut Alex, tanggung jawab untuk mencerdaskan anak bangsa juga berada di pundak setiap generasi bangsa. Apalagi tanggung jawab pendidikan kepada putra putrinya. “Pendidikan sangatlah penting bagi anak-anak saya khususnya, dan bagi generasi penerus bangsa lainnya. Itulah alasan mengapa saya begitu berkomitmen memajukan pendidikan, terutama pendidikan yang mengajarkan budi pekerti,” ujarnya. Selain aktif di dunia pendidikan setelah pensiun kelak, Alex juga akan menyibukkan diri dengan memelihara hewan ternak. Baginya hewan ternak tidaklah asing, sebab ayah kandungnya dulu juga seorang peternak sapi yang terbilang sukses. Meskipun pada akhirnya peternakan tersebut ludes karena bangkrut.

“Selain kangen untuk beternak sapi, saya juga ingin mengulang sukses beternak oleh ayah saya dulu. Profesi beternak saya anggap sebagai hobi yang sudah mendarah daging, sehingga itu adalah impian yang ingin saya wujudkan,” terangnya.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Luncurkan Buku Biografi
Bagi Alex Parjiya jejak perjalanan hidupnya tidak ingin berlalu begitu saja. Dia sangat berharap liku-liku kehidupannya dulu hingga berbuah manis seperti sekarang bisa diketahui orang lain dan menjadi inspirasi. Sebuah buku tentang biografinya siap diluncurkan pada Februari mendatang.

Menurut Alex, buku setebal 3 sentimeter tersebut sebagian besar berisi kisah pilunya zaman dahulu. “Buku itu adalah gambaran hidup saya sewaktu masih kecil. Bagaimana dulu saya berjualan arang demi membantu meringankan beban orangtua, hingga kini duduk manis di ruangan adem. Itulah sebagian mimpi saya yang mungkin bisa jadi pil penyemangat bagi para pembaca,” kata Alex.
Diungkapkannya, orang hidup harus memiliki sebuah prinsip jika ingin berhasil. Selain itu semangat untuk terus berlari mengejar esok yang lebih baik harus terus berkobar. Prinsipnya, jangan menambah penderitaan orang yang sudah menderita, sebab kelak kita akan mendapat balasan. “Saya tekankan pada anak dan istri untuk selalu hidup berbagi dengan sesama. Jangan sekali-kali menambah penderitaan orang lain yang sudah menderita. Maka dari itu saya berharap anak-anak kelak tumbuh menjadi orang yang arif dan rendah hati,” terang  Alex.

Semua yang ada di dunia ini lanjut dia, hanyalah titipan semata seperti jabatan, rezeki, dan harta benda lainnya. Meski demikian, untuk mendapatkan itu semua harus melalui perjuangan dan penuh rintangan.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Berkarier dalam Kesederhanaan
Jika Anda mengenal pemilik nama Alex Parjiya, tentu akan sepakat mengatakan dia adalah sosok yang sederhana. Meski keseharian Alex terkadang mengendarai mobil mewah jenis Honda CR-V untuk ke kantor namun sikapnya selalu rendah hati. Itu pula yang membuatnya selalu disegani anak buahnya dan sebagian warga Solo.
Menjabat sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Banjarsari, Solo saat ini memang tak pernah Alex bayangkan sebelumnya. Pria kelahiran Yogyakarta, 2 Juni 1958 silam itu mengawali karier sebagai seorang guru SD pada tahun 1978 hingga 1992. Meski diakui kesehariannya serba kekurangan dengan gaji yang pas-pasan, hal ini tak membuatnya lantas menyerah dengan keadaan.
Berbincang-bincang dengan Joglosemar beberapa waktu lalu di ruang kerjanya, Alex mengaku sudah kulino urip rekoso (terbiasa hidup susah—red) sehingga tangguh menjalani hidup sesulit apa pun. Sebab dirinya memang terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Bahkan karena serba kekurangan, anak keempat dari lima bersaudara ini terpaksa berjualan arang ke warung-warung saat masih duduk di Sekolah Pendidikan Guru (sederajat dengan SMA—red) pada tahun 1974. “Ceritanya panjang, kedua orangtua saya dulu adalah pedagang sapi. Entah karena masalah apa, terpaksa semua sapi dan beberapa bidang pekarangan dijual. Kami sekeluarga pun akhirnya transmigrasi ke Lampung,” katanya. Menumpang

Kisah pilu seolah tak mau berhenti, baru beberapa bulan tinggal Lampung, semua anggota keluarganya sakit-sakitan. Mulai dari kakak, adik, hingga kedua orangtuanya sakit silih berganti. Akhirnya melalui musyawarah, keluarga besar Alex memutuskan untuk ke tanah kelahirannya Yogyakarta. Karena di Kota Gudeg tersebut tidak memiliki rumah, mereka semua menumpang di rumah saudara atau pakde yang ukurannya sangat kecil.
“Jika ingat masa lalu, selalu muncul perasaan sedih bercampur bangga. Pasalnya, dulu saya bersama adik dan kakak juga ikut membanting tulang mencukupi kebutuhan keluarga dengan menjual arang. Sebab kedua orangtua sudah tak memiliki apa-apa lagi,” ungkap Alex.
Ditambahkannya, saat pertama kali berjualan sempat merasa malu karena dilihat teman-teman sebayanya. Namun dengan niat ikhlas membantu orangtua rasa malu itu pun diabaikannya. Setiap harinya, ‘mantan pacar’ Ir Agustini Sri Sayekti ini ha’rus menempuh perjalanan jauh sekitar 40 kilometer untuk menjajakan arang.
Alex harus berjuang untuk bertahan hidup dengan berjalan kaki dari rumahnya di Cemani, Sidoharjo, Yogyakarta hingga Muntilan, Magelang. Meski demikian rasa lelah pun tak terpikirkan olehnya karena di pikirannya adalah bagaimana dapur selalu bisa ngebul.
Perjuangannya itu pun membuahkan hasil, dengan tercapai cita-citanya menjadi guru. Setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru Pangudi Luhur Magelang sekitar tahun 1974, Alex langsung mengajar di SD Dadapsari, Pasar Kliwon, Solo.
Seiring berjalannya waktu, karier Alex terus meroket mulai dari menjadi kepala sekolah, pengawas daerah, hingga kini menjadi orang nomor satu di Kecamatan Banjarsari, Solo. Sejak kepemimpinannya, beragam prestasi berhasil diraih, baik itu atas nama kantor UPTD atau pribadi. Yang paling baru, Alex sukses menyandang predikat sebagai Pelestari Kebudayaan Jawa.  n Bonus Wibowo Bramhartyo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s