Ketegaran & Kemandirian Ala Prahastiwi Utari

Posted on

Nama Prahastiwi Utari sudah tak asing lagi di dunia akademisi Solo. Keberadaannya dikenal lantaran kepeduliannya pada isu dan permasalahan gender.
Prahastiwi Utari atau yang kerap disapa Tiwi adalah salah satu perempuan yang berjuang untuk keseteraan gender.
Dirinya sangat concern dengan isu gender lantaran melihat kondisi perempuan yang ada saat ini. Tak hanya menjadi korban dari konstruksi sosial tetapi posisinya sebagai second line yang juga dijustifikasi oleh struktur budaya.
Apa yang diperoleh oleh Tiwi, saat ini ternyata tidak dia dapatkan dengan mudah. Keberhasilannya menuntut ilmu tak semudah membalikkan tangan atau berjalan lurus.
Sejak kelas enam Sekolah Dasar (SD), Tiwi sudah ditinggal oleh ibunda. Ibu Tiwi dipanggil oleh Sang Pencipta di saat usianya masih terbilang muda, menginjak 37 tahun.
Sehingga Tiwi bersama keenam saudaranya hidup dalam dekapan seorang ayah tanpa kasih sayang ibu.
“Hidup mati manusia itu kan tidak ada yang tahu, mau tidak mau saya harus ikhlas melepas kepergian ibu saya,” kenang Tiwi sambil mengusap mata mengenang almarhumah ibundanya saat ditemui Joglosemar di ruang kerjanya.
Walaupun sempat down, akan tetapi Tiwi berusaha untuk tidak lengah. Dengan ketegaran hati serta semangat hidup yang tinggi, putri keempat dari pasangan Suradmo dan almarhum Siti Syamsiar tersebut melewati hari-harinya dengan sang ayah.
“Ya kalau sedih pastilah sedih, namun kita tidak boleh larut dalam kesedian tersebut. Kita harus segera bangkit untuk menapaki kehidupan kita di masa yang akan datang,” tandas Tiwi.
Sejak itu Tiwi dididik oleh seorang ayah yang penuh dengan kedisiplinan. Ayah Tiwi merupakan sosok militer yang selalu mendidik putra-putrinya untuk memiliki mental yang keras. Dengan didikan seperti itulah, akhirnya Tiwi dan saudaranya memiliki pribadi yang mandiri dan pantang menyerah.
Mandiri
Hidup berpindah-pindah merupakan hal yang sudah terbiasa dilalui oleh seorang perempuan yang kini tinggal di Perumahan Jaten Permai III, Jalan Sembungan Raya No. 83, Jaten, Karanganyar.
Ayahnya bekerja sebagai seorang tentara, sehingga harus memaksa sering mendapat tugas berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain.
Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD) di Palembang, Tiwi bersama ketiga adiknya mengikuti ayahnya ke Kalimantan.
“Karena pada waktu itu Ayah dinasnya dipindah, sehingga ketiga kakak saya ada yang kuliah di Jakarta dan Yogyakarta, sedangkan saya dan ketiga adik saya ikut ke Kalimantan,” cerita Tiwi.
Setelah menempuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kalimantan, Tiwi harus berpisah dengan ayahnya karena harus menempuh studi ke Yogyakarta.
“Saya benar-benar harus mandiri, bahkan kalau waktu liburan saya harus pulang ke Kalimantan sendiri tanpa dijemput oleh ayah,” kenang Tiwi.
Setelah lulus dari SMA Stellladuce Yogyakarta, Tiwi melanjutkan studi di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas  Sebelas Maret Surakarta (UNS).
Sejak itulah, Tiwi mulai menjalani kehidupan dengan penuh kemandirian. Tiwi mulai bekerja untuk mencukupi biaya kuliah serta untuk kehidupannya sehari-hari.
“Saya sejak semester 1 kerja sebagai penyiar radio di Sas-FM serta mencari beasiswa supaya beban orangtua menjadi ringan,” ujarnya.
Tiwi sangat bersyukur dengan apa yang telah ditanamkan oleh ayahnya. Dengan pola didikan tersebut berhasil menuai keberhasilan. Setelah lulus dari kuliah, Tiwi diterima sebagai dosen di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS.
Hingga akhirnya Tiwi menempuh Strata 2 di Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1993. Lalu Tiwi tidak hanya puas ketika hanya sampai jenjang S-2, akhirnya Tiwi mendapatkan kesempatan untuk menempuh S-3 di Australia.
“Ya itu saya lakukan karena karena tuntutan bahwa seorang dosen harus mencapai S-3 atau bahkan hingga profesor,” tutur Tiwi.
Ketika menimba ilmu di Negeri Kanguru ini, Tiwi dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit menjelang keberangkatannya ke Australia. “Saya bingung apa saya harus mengajak suami dan anak atau saya harus berangkat sendirian,” tandasnya.
Lalu dengan melalui musyawarah bersama keluarga, akhirnya suaminya memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya dan mendampingi Tiwi ke Australia. Dengan keputusan yang diambil tersebut, akhirnya suami dan anak Tiwi ikut pergi ke Australia.
“Alhamdulilah suami saya dapat bekerja di Australia, sehingga dapat meringankan beban pengeluaran keluarga,” tambahnya.
Hingga saat itu, kami bertiga hidup di Australia selama 4 tahun. Selama hidup di Australia, saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dan sangat berkesan.
Saya disana menjadi relawan sebagai penyiar radio berbahasa Indonesia di Australia. Sehingga saya bertanggungjawab penuh atas program bahasa Indonesia. “Pada waktu memperingati hari kemerdekaan, ketika lagu kebangsaan tersebut diputar maka akan tersentuh hati ini,” kenang Tiwi.
Membagi Waktu
Sebagai ibu rumah tangga, dosen sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS tentu saja menyita waktunya.
Baginya, ketiga hal haruslah berjalan bersama dengan penuh keseimbangan. Oleh sebab itu, dirinya berusha untuk bisa membagi waktu.
Meski sibuk mengurusi berbagai hal kebutuhan dari Jurusan Ilmu Komunikasi tetapi dirinya tetap menomorsatukan mengajar. “Walaupun secara struktural sebagai ketua jurusan, akan tetapi mengajar tetap menjadi pekerjaan utama saya,” ujar ibu dari Iqbal Satrio Nindito dan Aiko Nayla Putri.
Tak hanya itu meski menjadi dosen dengan jam terbang tinggi, di tengah-tengah kesibukannya Tiwi tetap menomorsatukan urusan mahasiswa.
“Saya selalu memberi waktu khusus buat mahasiswa saya untuk melakukan konsultasi atau untuk kepentingan yang lain,” katanya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s