Gusti Moeng Masa Kecil Prihatin di Tengah Label Bangsawan

Posted on

Loyalitas Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Murtiyah atau yang kerap disapa Gusti Moeng terhadap Keraton Surakarta memang tak dipertanyakan lagi. Hal tersebut sudah terlihat sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Hal itu berawal saat situasi dan kondisi keraton pada waktu itu sangat memprihatinkan.
“Sebagai seorang anak seorang penguasa pada waktu itu (ketika Gusti Moeng masih SD-red), saya tidak rela kalau raja itu dinilai feodal seperti Belanda. Sehingga saya ingin membuktikan bahwa raja itu tidak sewenang-wenang terhadap rakyat,” tutur Gusti Moeng.
Sejak saat itu, Gusti Moeng selalu ingin mencari permasalahan apa yang sedang melanda Keraton Surakarta. Karena waktu itu, keraton sudah mulai turun pamornya.
“Saya sering berdiskusi dengan almarhum bapak saya (almarhum SISKS Paku Buwono XII-red) tentang perkembangan keraton. Dari diskusi tersebut saya mulai belajar memecahkan permasalahan yang sedang melanda keraton,” urainya.
Meskipun putri bangsawan, dirinya tidak hidup mewah seperti apa yang dibayangkan oleh sebagian orang. Hidup prihatin pun sudah menjadi temannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Ayah saya itu pernah tidak memiliki uang sama sekali untuk membiayai sekolah anak-anaknya,” kenangnya.
Dari keprihatinannya tersebut, menjadikannya untuk lebih dekat dengan Sang Kuasa. Setiap sepertiga malam terakhir, Gusti Moeng selalu terbangun dari tidurnya untuk melakukan Salat Lail serta berdzikir supaya selalu diberi kemudahan dalam menjalani hidup.
Hal tersebut dilakukannya tidak hanya sekali atau dua kali, namun hingga sekarang pun sudah menjadi rutinitas tersendiri.
“Kewajiban manusia itu beribadah, karena segala sesuatunya Tuhan lah yang menentukan,” imbuhnya.
Hingga sekarang Gusti Moeng memiliki keinginan untuk tetap mengembalikan pamor keraton yang saat ini dinilai sudah hampir kehilangan pamornya. “Saya memiliki tanggung jawab yang besar akan keberadaan Keraton Surakarta ini,” terangnya.
Bahkan walaupun sekarang ini dirinya sedang menjabat anggota DPR RI, namun dirinya masih tetap menyempatkan waktunya untuk memberikan kontribusi terhadap Keraton Surakarta. (dui)

Perjalanan Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Murtiyah Dari Keraton ke Senayan
Isu gender yang sangat kuat mampu menembus tembok besar keraton. Dulu keraton dengan simbol patriarkhi-nya dengan mengukung keberadaan perempuan sebagai kanca wingking sudah tidak berlaku lagi.
Keraton yang juga merupakan simbol budaya mulai terbuka dengan modernisasi. Salah satunya isu gender, tak sedikit perempuan ningrat yang mulai terjun ke politik. Di mana dunia tersebut dianggap tabu untuk perempuan.
Salah satunya adalah putri dari almarhum Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XII, Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Murtiyah atau yang kerap disapa Gusti Moeng. Perempuan ini mulai tahun 1999-2004 dan 2009-2014 menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Kemampuannya berpolitik sudah dia rintis sejak duduk di bangku kuliah. Meskipun keturunan darah biru, tidak membuat Gusti Moeng hanya berdiam diri di dalam benteng keraton.
Ketika masih kuliah, Gusti Moeng sudah mengikuti organisasi kemahasiswaan. Walaupun lebih menyukai organisasi yang berbau seni namun hal itu juga bagian dari belajar politik.
“Pada dasarnya berpolitik itu dapat mempengaruhi orang lain, sehingga di organisasi kemahasiswaan pun juga dapat berpolitik,” tutur perempuan yang kini menjabat sebagai anggota Komisi II DPR RI saat ditemui Joglosemar beberapa waktu yang lalu di kediamannya.
Ketika aktif di organisasi kampus, Gusti Moeng selalu mengajak teman-temannya untuk ikut berpartisipasi ke dalam organisai kampus. “Saya sering mengajak teman-teman untuk ikut berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan, supaya dapat mengaplikasikan ilmu yang kita dapat dari meja perkuliahan,” imbuh perempuan kelahiran Surakarta, 1 November 1960 itu.
Dari situlah Gusti Moeng mulai belajar perpolitikan. Gusti Moeng mengaku apa yang dilakukan saat kuliah tersebut sangat bermanfaat. ”Walaupun keturunan raja namun saya tidak hanya membanggakan kedudukan orangtua saya. Ketika kuliah pun saya juga seperti orang pada umumnya,” tambah Gusti Moeng.
Senayan
Sehingga ketika sekarang menjabat sebagai anggota DPR RI untuk kedua kalinya sudah memiliki sedikit bekal dari pengalamannya berorganisasi.
“Pada tahun 1999 saya mulai terjun langsung di dunia politik dengan diusung oleh salah satu partai politik. Dan, Alhamdulilah saya diberi amanat menjadi anggota DPR RI pada waktu itu (tahun 1999-2004- red)” kata putra kesembilan dari pasangan Almarhum SISKS Paku Buwono XII dengan Almarhummah Kanjeng Ratu Ageng.
Bahkan kesempatan untuk menjadi anggota Dewan tidak hanya sekali, pada tahun 2009 hingga 2014 mendatang, Gusti Moeng juga mendapat kepercayaan lagi untuk duduk di kursi yang membesarkan namanya tersebut. “Saya memiliki tanggung jawab besar karena memegang amanah rakyat untuk duduk di kursi Dewan,” tuturnya.
Walaupun Gusti Moeng mengaku tidak memiliki latar belakang mempelajari ilmu politik, namun ia tidak mengalami kesulitan ketika harus berkecimpung dalam roda perpolitikan. “Saya dulu membantu ayahanda untuk menyelesaikan permasalahan keraton baik itu masalah yang menyangkut politik atau tidak. Dari situlah saya mulai terbiasa menghadapi masalah politik,” ungkapnya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s