Diana, Buktikan Kemandirian di Balik Tirai Batik

Posted on

Image putri Solo yang lembut dan lemah gemulai memang telanjur terpatri. Namun, image itu bagi Diana hanya menjadi label di balik kemandiriannya. Baginya putri Solo, harus tetap gesit, lincah, kreatif dan mandiri.
Tumbuh dari keluarga pebisnis, sejak kecil Diana dan ketiga saudaranya terbiasa melihat ayah dan ibunya bekerja di rumah. ”Ibaratnya, ketika membuka kamar saya sudah langsung lihat batik. Tempat ibu memilih batik pun berada di depan kamar saya. Saat libur sekolah pun, anak-anak terbiasa diajak berdagang,” cerita Diana.
Kendati hidup dalam lingkungan pebisnis yang sukses, Diana mengaku tak dibiasakan hidup dengan suasana kemewahan. Bahkan dia ditekankan untuk menganut pola hidup hemat dan menghargai jerih payah orang lain. ”Waktu kuliah pun, uang saku dari orangtua pun tidak berlebih alias mepet,” ujarnya.
Untuk hidup mandiri, menurut Diana, di keluarganya tidak pernah mendiskriminasikan antara anak laki-laki dan perempuan. ”Kami semua dituntut untuk hidup mandiri,” tegasnya.
Dari didikan keluarga yang menuntut untuk mandiri, Diana mengaku pantang untuk menengadahkan tangan untuk meminta pada orangtuanya. ”Kalau dikasih ya diterima, tetapi kalau tidak ya harus berusaha sendiri,” papar perempuan berusia 41 tahun ini.
Ikut mengelola bisnis keluarga di PT Danar Hadi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Diana. Putri kedua dari pendiri usaha batik Danar Hadi, H Santosa Doellah dan Hj Danarsih Santosa ada kesan tersendiri dengan batik. ”Produk perusahaan ini kan icon budaya dunia, yakni batik. Ada kesan bangga, bisa ikut mengelola usaha produk budaya ini,” akunya.
Hal penting lainnya yang membuat Diana bangga ikut mengelola bisnis batik, karena dia memiliki visi-misi untuk menyelamatkan batik sebagai warisan leluhur. ”Tidak jauh berbeda dengan cita-cita orangtua, yakni ingin menyelamatkan batik sebagai budaya bangsa, agar tidak hilang,” kata Diana. (Dwi Hastuti)

Istri dari Hariyadi BS Sukamdani ini selain sukses sebagai bos PT Kusumaputri Santosa, juga dikenal dengan hobi koleksi dan perancang fashion, Diana juga termasuk perempuan penggila traveling.
Maklum kedua hobi itu terkait erat satu sama lain dengan bisnisnya. Tak sembarang kota tujuan traveling Diana. Dia memilih kota-kota besar di Eropa dan Amerika yang menjadi pusat mode. ”Saya biasa traveling ke Amerika, Eropa, Singapura, Hongkong serta beberapa negara lain. Selain liburan, traveling juga bermanfaat untuk melihat-lihat model-model pakaian untuk dijadikan inspirasi dalam membuat rancangan desain,” ujar Diana.
Untuk traveling, Diana tidak sendirian. Dia biasa mengajak keluarga besarnya untuk menikmati waktu liburan bersama. ”Saya biasanya melakukan traveling untuk menghilangkan kejenuhan dalam bekerja,” kata Diana.
Untuk memperkaya inspirasinya dalam merancang desain, Diana juga sering membeli buku dan majalah fashion. Sama seperti naluri seorang perempuan, Diana juga mengaku hobi belanja. ”Saya sukanya belanja, he..he.., paling suka itu belanja tas dan sepatu. Sehingga tas dan sepatu saya itu banyak. Suami saya itu bilang `kayaknya kamu sudah punya tas putih kok beli lagi`,” kenang Diana sembari tertawa lepas.
Di balik hobinya itu, ternyata perempuan yang tinggal di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini mengaku takut dengan api. ”Ketika melihat api gitu takut, entah karena apa,” tuturnya.
Karena saking takutnya dengan api, Diana tak pernah mengunjungi ruang khusus untuk memasak yakni dapur. ”Saya tidak bisa masak, bahkan buat telur ceplok pun tidak bisa. Soalnya saya juga takut dengan kompor,” ceritanya.
Hal itu diakuinya sebagai salah satu kelemahannya sebagai seorang perempuan. Beruntung, sang suami tak begitu mempermasalahkannya. ”Kata suami saya tidak bisa masak tidak apa-apa, yang penting bisa kerja,” kata ibu dari Dhanadi Kusuma Wardana dan Ardian Kusuma Nusa sambil tersenyum. (Dwi Hastuti)

Diana Kusuma Dewati Santosa Kreatif saat Bisnis Terpuruk
Berawal dari rentetan keterpurukan, putri bos Danar Hadi ini justru menemukan jalan keluar yang menjadi titik awal karier bisnisnya. Rentetan keterpurukan yang sangat berat dalam hidupnya, hingga memaksanya tak bisa memilih lagi untuk berkarier di perusahaan lain, selain usaha rintisan keluarganya.
Diana Kusuma Dewati Santosa, nama lengkapnya. Namun dia lebih akrab disapa Diana. Saat ini dia aktif sebagai Managing Director PT Danar Hadi. Sebelum memangku salah satu posisi terpenting di PT Danar Hadi itu, Diana awalnya tak berminat untuk bergabung dalam perusahaan milik keluarganya itu. Dia semula justru berniat untuk meniti karier di sebuah perusahaan di Jakarta.
Sayang, niat untuk mandiri dengan memilih meniti karier di perusahaan orang lain itu toh akhirnya pupus, karena kondisi genting yang memaksanya untuk masuk dalam bisnis keluarganya itu.
Kondisi genting itu yakni, dua musibah yang tempo waktunya nyaris bersamaan. Di saat dia memulai berkarier di perusahaan orang, sang kakak, Diah Kusuma Sari Santosa, yang telah disiapkan keluarganya untuk mengelola PT Danar Hadi meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Tak berselang lama, musibah kembali menimpa, yakni, adiknya, Dian Kusuma Hadi Santosa, dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di Singapura. Lagi-lagi karena kecelakaan lalu lintas. ”Dua hal itu menjadi cobaan yang sangat berat dalam hidup saya,” ujarnya, saat berbincang dengan Joglosemar, di nDalem Wuryoningratan Solo pekan lalu.

Sempat Terpuruk
Di tengah cobaan hebat itu, dia berpikir, dua saudaranya yang menjadi harapan penerus bisnis keluarganya mustahil untuk diharapkan. Maka dari itu, tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan bisnis keluarganya selain bergabung di dalamnnya.”Karena hal itulah, saya kemudian mengundurkan diri dari perusahaan pilihan saya di Jakarta dan mulai bergabung dengan perusahaan milik keluarga,” tuturnya.
Mengurus PT Danar Hadi, diakuinya merupakan hal yang berat. Sehingga dia memilih untuk mendirikan perusahaan sendiri berlabel PT Kusumaputri, tahun 1995 meski memang tetap di-backing oleh sang ayah. ”Saya dengan sepupu mengelola Kusumaputri dengan memproduksi baju-baju kebaya dan pakaian kerja. Ya, tak jauh dari industri fashion juga,” katanya.
Cobaan belum juga berakhir. Kusumaputri yang dirintisnya dari awal tak berjalan mulus. Produk-produknya sempat ditolak di Metro, lantaran dinilai tak memenuhi standar mutu. ”Bahkan ongkos untuk sewa kantor yang kami keluarkan tidak tertutup dari pemasukan. Modal kami habis, malu mau minta lagi sama Ayah,” ujar menantu pengusaha hotel Sukamdani S Gitosardjono, tersebut.

Cara Kreatif
Kendati berasal dari keluarga pebisnis ditambah dengan bekal studi ekonominya, diakuinya belum cukup untuk mengurus usahanya. ”Tidak mudah menjalankan perusahaan keluarga. Tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, tinggal menjalankan karena perusahaan milik orangtua sendiri,” papar alumni sarjana ekonomi Universitas Trisakti Jakarta ini.
Di tengah-tengah keterpurukan itulah, Diana menemukan solusinya. Menurutnya, keterpurukan hanya bisa diatasi dengan bukti inovasi. ”Kalau orang pernah jatuh dalam berusaha, maka orang tersebut menjadi lebih kreatif,” tegas Diana.
Hampir setiap hari, waktunya kala itu, dia habiskan untuk menemukan cara-cara kreatif mulai dari terobosan desain fashion hingga cara jitu pemasaran produknya. Dengan bekal semangat menemukan hal yang kreatif itulah, usaha Diana dari tahun ke tahun mulai bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya sukses dan mampu bertahan hingga sekarang.
Tak salah, jika Diana yang sukses dengan menemukan cara kreatif untuk mengatasi keterpurukan itu berhasil menyabet penghargaan The Most Outstanding Woman dari Lippo Group. ”Intinya kita harus kreatif dalam kondisi apa pun, jangan mudah menyerah dengan keadaan,” ucapnya.
Dengan keberhasilan mengatasi keterpurukan bisnisnya, Diana akhirnya juga dipercaya untuk ikut mengelola PT Danar Hadi yang fokus pada usaha batik, sebagai Managing Director tahun 1996. Potensi putri bos Danar Hadi ini memang luar biasa, dengan bermodal berpikir kreatif, dia sukses mengelola dua perusahaan sekaligus.
Perempuan yang juga pernah menjabat sebagai Merchandising Manager di PT Sahid Noel Mitra Sejati Tahun 1992 hingga tahun 1996 itu kini banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. Hal itu karena, dia memilih lebih fokus pada ekspansi PT Danar Hadi ke beberapa kota besar di Tanah Air. ”Paling waktu luang itu hari Sabtu. Biasanya saya habiskan untuk mencari ide dari majalah-majalah, selain itu paling waktu saya habis untuk menemani suami dan anak-anak untuk jalan-jalan,” pungkasnya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s