Dewi Setyowati Sosok yang Tegas dan Disiplin

Posted on Updated on

Di balik tutur katanya yang halus, Dewi Setyowati ternyata adalah sosok yang tegas, disiplin dan mandiri. Sikap ini dia peroleh dan diajarkan oleh keluarga.
Orangtua Dewi selalu mendidik putri-putrinya dengan penuh kedisplinan. Sehingga sejak kecil putri tertua dari lima bersaudara tersebut sudah terbiasa dengan pola didikan yang penuh dengan kedisiplinan.
“Karena anaknya ibu saya itukan perempuan semua. Padahal mendidik anak putri tersebut memiliki tantangan tersendiri. Menjadi seorang perempuan tak hanya lemah lembut tetapi juga harus memiliki ketegasan dan kemandirian,” kenang Dewi.
Sikap mandiri ditanamkan oleh keluarganya. Lantaran kedua orangtuanya sibuk bekerja. Sikap mandiri ini pun dia bawa ke dalam aktivitas bekerjanya. Dibuktikan dengan kesukesannya berkarier.
Berkat kedisiplinan tersebut, kini keempat saudaranya cukup terbilang sukses. Hal tersebut menunjukkan bangku kedisiplinan yang dibangun oleh orangtuanya dapat dikatakan berhasil.
Kini, Dewi mempraktekkan apa yang telah didapat dari orangtuanya untuk diterapkan dalam mendidik putra-putrinya. Meski Dewi disibukkan dengan segudang aktivitas, namun dirinya tetap memprihatinkan perkembangan putra-putrinya.
Hal ini dia lakukan untuk menepis anggapan bahwa seorang ibu yang sibuk bekerja pun bisa mendidik anaknya dengan menuai keberhasilan. Tal hanya dari sisi akademis tetapi juga dari perkembangan kepribadiannya.
“Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa disiplin, maka untuk seterusnya maka akan dengan sendirinya memiliki sikap disiplin,” ungkap Dewi.
Didikan mandiri dan disiplin darinya pun menuai keberhasilan. Salah satu putra pertama Dewi ini mendapat predikat lulusan terbaik di kampusnya.
“Anak saya itu adalah seorang aktivis kampus, namun meskipun aktivis dirinya tetap mendapatkan predikat terbaik,” cerita Dewi.
Namun sempat juga  putranya tersebut “memberontak” kepada ibundanya. Saat Dewi tidak dapat hadir dalam wisuda. “Wah, dulu itu sempat marah, karena pas dia (anaknya-red) wisuda saya tidak datang. Bahkan dia (anaknya-red) sempat marah-marah,” pungkas perempuan alumnus dari Fakultas Ekonomi UGM itu.
Namun lama-kelamaan putra-putrinya sudah mulai memahami akan kesibukan orangtua tersebut. Karena semakin bertambahnya usia membuat pola pikir anak itu matang dan mampu memahami apa yang dialami oleh orangtuanya. (lea/dui)

Keseimbangan Kepedulian Dewi Setyowati
Budaya dan ekonomi adalah dua ranah yang bertolak belakang. Tetapi tidak bagi sosok Pemimpin Bank Indonesia Wilayah Solo, Dewi Setyowati. Selama ini, Dewi terkenal dengan kebijakan dan perhatian yang lebih terhadap keberadaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) khususnya untuk wilayah Solo.
Berbagai hal dilakukan untuk memajukan  UKM yang ada di Kota Bengawan. Sehingga tidak salah jika selama ini Dewi dikenal dekat dengan para pelaku UKM yang ada di Kota Solo ini.
Perhatian Dewi tidak hanya terbatas pada UKM saja, namun secara diam-diam juga peduli dengan budaya tradisi yang mau tak mau harus diakui terpinggirkan.
Bisa dilihat dengan kepeduliannya pada nasib para pemain ketoprak di Sriwedari. Dewi yang pernah menjadi pemain dalam ketoprak di Sriwedari, sangat memperhatikan nasib pemain, dengan mengkuliahkan pemain wayang orang yang tidak mampu untuk melanjutkan studinya.
“Bagi saya, para pelestari seni itu patut kita hormati dan kita perhatikan, kalau tidak kita yang memperhatikan lalu siapa lagi?,” ujar perempuan kelahiran Yogyakarta, 1 Juni 1960.
Selain itu juga dapat dilihat bagaimana ia ikut andil dalam membenahi bangunan Gedung Wayang Orang Sriwedari yang memang sudah tak layak untuk disebut sebagai gedung pertunjukkan.
“Beberapa dekorasi di Gedung Wayang Orang sudah mulai dibenahi, “ tutur ibu dua putra tersebut.
Jika ingin membuktikannya, tengoklah bagaimana kondisi GO Sriwedari yang jauh lebih berbeda dibanding dulu. Dengan kondisi kamar mandi dan kondisi lantai dan korden yang bersih paling tidak bisa membuat gedung tersebut terlihat lebih enak dipandang dan digunakan.
Tak hanya itu, Dewi pun juga kepedulian budaya dengan melesatrikan heritage. Apa yang dilakukannya dengan cara yang cukup sederhana, mengkoleksi peranti etnik.
Misalnya ukir-ukiran, lesung, gebyok serta barang-barang unik seperti tempat kinang juga menjadi bagian benda yang dikoleksinya. “Saya mengoleksi benda-benda tersebut karena saya itu sakit hati ketika melihat benda-benda tersebut berada di museum luar negeri,” sesal Dewi.
Koleksi Batik Tulis
Kepeduliannya pada dunia budaya tak hanya berhenti sampai di situ. Tetapi Dewi yang memiliki hobi olahraga voli ini juga nguri-uri batik. Dengan cara mengkoleksi batik tulis.
Sampai saat ini koleksinya sudah mencapai 350 lembar kain batik tulis. Batik ini dia pesan dari para pembuat batik tulis di Solo yang usianya sudah mulai tua.
“Kain batik tulis ini dibuat oleh mereka. Kemudian saya meminta agar ditulis jenis dan coraknya, “ tutur Dewi.
Hobi sederhana yang dilakukan olehnya tentu saja bukan tanpa alasan. Karena hobi ini adalah salah satu wujud untuk mengetahui beragam jenis corak batik. Lagipula bisa menjadi dokumen budaya yang sangat penting untuk perkembangan budaya itu sendiri.
“Batik tulis yang dikoleksi ini pun bermanfaat ketika capek. Karena ketika memandang koleks-koleksi tersebut rasanya anyes dan menyejukkan hati. Jadi rasa penat pun rasanya hilang, “ tutur alumnus Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Yogyakarta.
Selain itu masih ada satu hobi unik yang masih ada kaitannya dengan local wisdom yang digeluti Dewi yaitu teh produksi lokal.
Sampai saat ini, Ibu dari Gumilang Aryo Sahadewo dan Candida Ayu Merisca ini ternyata memiliki 90 jenis teh yang berasal dari berbagai macam daerah.  “Ternyata jenis teh yang beredar di pasaran tersebut banyak sekali, hingga nama-namanya pun masih terdengar asing di telinga saya,” papar Dewi.
Dewi memiliki motivasi tersendiri ketika memilih teh sebagai kegemarannya. Ternyata selain mengangkat produk-produk lokal baginya hobi ini dilatarbelakangi oleh kecintaannya pada minuman teh.
“Saya lebih memilih teh daripada minuman yang seperti kopi atau yang lainnya,” imbuh perempuan yang menyukai kuliner tersebut.
Meski aktivitasnya cukup padat bukan berarti Dewi pun selalu meluangkan sedikit waktu untuk membersihkan serta menata teh-teh yang dikoleksinya tersebut.  “Ya  mau nggak mau harus saya rawat, karena saya mendapatkan teh tersebut melalui perjuangan yang keras yaitu beli dari daerah ke daerah lain,” imbuhnya. (Dwi Hastuti/Cisilia Perwita
Setyorini)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s