Setelah Dua Tahun, Jadi Produsen Ekstrak Terbesar

Posted on

Keberhasilan, Junius dalam menembus pasar dunia dengan produk ekstrak jamu berlabel Javaplant bukan hal mudah. Sejak awal dirintis, Junius mencoba mengonsentrasikan Javaplant ke pasar lokal.
Tak ingin berlama-lama menjadi raja di pasar lokal, Junius menaikkan gengsi Javaplant untuk menembus pasar ekspor. ”Saat ini sekitar 80 persen dari total kapasitas produksi Javaplant dilempar ke pasar internasional. Javaplant juga memosisikan diri sebagai ahli ekstraksi atau manufaktur herbal yang menyuplai pasar domestik dan internasional,” katanya.
Untuk menempatkan Javaplant di kavling pasar global, Junius mengaku butuh waktu selama dua tahun. Jalan menembus pasar global itu, dia awali dengan aktif mengikuti berbagai pameran di luar negeri.
”Tahun 2003 kami mulai ikut pameran di luar negeri. Pertama kali di Malaysia. Beberapa kali ikut pameran, mulai terasa dampaknya meski masih sangat kecil. Baru pada tahun 2005 kami bisa mengekspor produk-produk ektraksi Javaplant secara besar-besaran,” akunya.
Kendati mengawali pameran di sejumlah negara Asia, Junius mengaku, pasar ekspor utama produk Javaplant justru di Amerika Serikat. ”80 persen ekspor Javaplant dilempar ke sana. Salah satu produk yang paling diminati adalah ekstrak kayu manis,” ujarnya.
Dalam setahun, kata Junius, Javaplant bisa memproduksi 70 ton ekstrak kayu manis yang sebagian besar menjadi konsumsi warga Amerika. Di negeri Paman Sam ini, ekstrak kayu manis banyak digunakan sebagai bahan tambahan ataupun bahan utama food supplement dan functional drink. Lainnya digunakan dalam industri nutrasutikal atau kesehatan.
”Selain ke Amerika kami juga mengekspor ke Jepang, Singapura, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara di kawasan Eropa Timur,” imbuhnya.
Pengekspor Jamu Terbesar
Dengan kapasitas produksi empat sampai lima ton ekstrak jamu setiap bulannya yang sebagian besar masuk pasar internasional, Junius mengklaim Javaplant sebagai produsen dan pengekspor ekstrak jamu terbesar di Indonesia.
Kesuksesan perusahaan yang berbasis di Karanganyar ini dalam menembus pasar ekspor khususnya Amerika dibuktikan dengan diraihnya sertifikat standar internasional, seperti GMI, ISO, dan juga FDA (Food and Drugs Administration) di Amerika.
Tidak hanya itu, menurut Junius, Javaplant sudah mengikuti standar-standar dalam CTPAT (Custom Trade Against Terrorism) yang ditetapkan Amerika Serikat. Berbekal CTPAT, Javaplant tetap akan mendapat pelayanan prioritas apabila terjadi kekacauan akibat adanya serangan teroris di Amerika. ”Karena dalam membeli produk, Amerika juga melihat segalanya dari mulai bahan, hingga prosesnya,” terang Junius. (dui)

Ciptakan Pasar Jamu di Amerika

Pendidikan di Australia dan Amerika bertahun-tahun, bos Javaplant ini justru memilih belajar autodidak dari para pengusaha. Hasilnya, dia berhasil menciptakan pasar jamu asli Indonesia di Amerika Serikat.

”Sekarang, orang-orang sudah kritis menyangkut soal kesehatan. Jamu dengan standar kualitas yang tinggi akan menjadi pilihan untuk menjamin kesehatannya.”

Pencapaian seorang perintis jamu herbal asli Indonesia berhasil, setelah menembus pasar internasional. Pencapaian itu tidak instan, karena nyaris ilmunya dia timba dari bangku pendidikan di luar negeri.
Berkat tangan dingin Junius Rahardjo, jamu asli Indonesia mendapat ruang istimewa di Amerika Serikat. Kisahnya cukup panjang. Junius, yang merupakan putra dari Purwanto Rahardjo, salah seorang pemilik perusahaan jamu terkenal di Tanah Air, awalnya mengenyam pendidikan di bangku SD di Tegal.
Karier Junius mungkin sudah disiapkan sang ayah. Karena lulus SD, Junius hijrah ke Australia untuk melanjutkan studi di bangku SMP dan SMA. Menimba ilmu di Negeri Kanguru rupanya belum cukup bagi seorang Junius. Amerika Serikat (AS), akhirnya yang dia pilih untuk menggali ilmu di bangku perguruan tinggi.
Menimba ilmu di University of Oregon, Amerika Serikat, Junius tidak menggantungkan hidupnya dari bantuan orangtua. Sambil merampungkan studinya di AS, dia sudah mampu mengendalikan perusahaan teh di Pekalongan.
Tak berselang lama, tahun 2000 Junius Bersama Ayah dan Kakak-nya berhasil mendirikan perusahan ekstrak jamu berlabel Javaplant di Jalan Raya Solo-Tawangmangu Km 32 No. 33 Gedangan Salam, Karangpandan, Karanganyar. Kini Junius menyandang sebagai Chief Operating Officer (COO) yang sukses menembus pasar Amerika Serikat. ”Kalau usaha ini sebenarnya lain dengan studi yang saya tempuh,” ujarnya saat berbincang dengan Joglosemar di Hotel Novotel Solo, pekan lalu.
Junius mengaku belajar berbisnis justru secara autodidak dari orangtua dan pebisnis lain. ”Saya mengamati dan mengikuti, bagaimana mereka memilih bahan baku, memprosesnya menjadi produk berkualitas, hingga memasarkannya secara jitu. Jadi lebih ke belajar langsung,” katanya. Sembari belajar itulah, perlahan jiwa kewirausahaannya terbentuk.

Meneliti Tanaman
Dari pengalaman awal hingga sukses menduduki kursi sebagai COO Javaplant, Junius mencatat kunci keberhasilannya adalah kesabaran dengan menjalankan konsep yang realistis.”Intinya bekerja harus dijalani dengan sepenuh hati,” terangnya.
Bukan sekadar berbisnis, Junius dalam membangun Javaplant, juga memiliki misi untuk meneliti tumbuhan asli Indonesia yang bisa diolah menjadi produk jamu herbal.”Kita ini kaya dengan tanaman herbal. Jadi untuk memproduksi jamu, tidak perlu impor dari luar negeri. Dan salah satu semangat yang diusung Javaplant adalah ingin membawa jamu herbal asli Indonesia ke pasar internasional,” jelasnya.
Semangat itu dibuktikan Junius dengan mengembangkan produksi ekstrak jamu di perusahaan Javaplant, sejak tahun 2003. ”Jamu merupakan salah satu peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia sejak berabad-abad lalu. Ternyata dari yang kami teliti tanaman asli Indonesia itu baik untuk vitalitas, kebugaran, maupun kesehatan,” paparnya.
Sebagai seorang peneliti dan pengusaha yang sukses menembus pasar internasional dengan produk jamu herbalnya, Junius memiliki definisi sendiri tentang jamu. ”Apabila beberapa tumbuhan tertentu bisa di-blend menjadi satu kesatuan yang saling bersinergi, akan menghasilkan sebuah produk yang memiliki khasiat dan manfaat luar biasa. Itulah jamu,” katanya.
Bagi Junius, jamu asli Indonesia sulit ditandingi khasiatnya oleh produk yang sama dari berbagai negara lain. Potensi inilah yang membuatnya optimis pasar jamu yang ia rintis di Amerika dan sejumlah negara lain akan terus berkembang sampai kapan pun.
Potensi lain yang menguatkan keyakinannya bahwa jamu akan menjadi primadona untuk masa mendatang, karena semakin ramai muncul kesadaran dari masyarakat yang kembali memilih produk herbal demi kesehatannya. ”Sekarang, orang-orang sudah kritis menyangkut soal kesehatan. Jamu dengan standar kualitas yang tinggi akan menjadi pilihan untuk menjamin kesehatannya,” ujarnya.
Javaplant di tangan Junius fokus mengembangkan ekstrak jamu.”Karena keunggulan dari ekstrak jamu ini bisa terukur dan bisa dirasakan langsung manfaatnya. Ekstrak itu artinya mengambil sari dari tanaman yang diolah. Dengan bantuan mesin ekstraksi, produk jamu kami jauh lebih efektif dan efisien,” tuturnya.
Selain sukses menciptakan pasar jamu asli Indonesia di Amerika, Junius kini juga sibuk kampanye pada masyarakat Indonesia, agar mengonsumsi ekstrak jamu untuk menjaga kesehatan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s