Ramah di Hotel, Religius di Rumah

Posted on

Sukses menerapkan strategi pelayanan ramah di Lorin, Mudia juga menerapkan pendidikan agama yang kuat di keluarganya. Tak heran, di sela-sela kesibukannya sebagai general manager, bapak tiga anak memberikan contoh langsung, praktik kehidupan religius di rumahnya, seperti salat dan berbagai ibadah lain.
Bagi Mudia, penanaman nilai agama sejak dini di keluarganya tidak bisa ditawar lagi. Pendidikan agama, kata dia, sebagai benteng dari kemajuan teknologi. ”Anak bersama orangtua tidak lama, selebihnya dia (anak-red) banyak bergaul di sekolah dan di luar. Tak ada salahnya dengan memberikan pemahaman agama terhadap anak supaya bisa menjadi benteng pertahanan diri,” ujarnya.
Contoh lain, penerapan kehidupan religius di rumahnya adalah, kebiasaan berdoa, sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. ”Anak-anak itu selalu saya ajari ketika mau belajar, mau makan, mau ulangan di sekolah harus berdoa. Supaya anak-anak itu tahu kalau manusia sukses bukan karena kepandaian saja, namun doa itu juga faktor utama,” jelasnya.
Bukan hanya itu, dalam kurun waktu sebulan atau dua bulan sekali, Mudia kerap  mengajak putra-putrinya berwisata rohani ke pondok pesantren. Tujuannya, kata dia, untuk mengajarkan putra-putrinya bersosialisasi di lingkungan berbasis keagamaan. ”Mereka akan paham, seperti apa kehidupan di luar dengan kehidupan di pondok pesantren. Ini pelajaran sederhana tapi bagi saya penting,” tuturnya.
Penerapan langsung pendidikan keagamaan lain yang diajarkan pada putra-putrinya adalah kebiasaan bersedekah. ”Melatih anak untuk tidak boros, juga mengajari untuk peduli dengan sesama,” ucapnya.
Kedekatan langsung terhadap putra-putrinya juga dia prioritaskan di samping kesibukannya mengelola hotel. Caranya sederhana, yakni dengan mengantar langsung ke sekolah dengan menyetir mobil sendiri.”Hampir selalu mengantar anak ke sekolah. Sambil saya nyetir saya tanya ke anak nanti pelajarannya apa? Lalu memberikan nasihat,” katanya. (dui)

Memacu Adrenalin dengan Touring

Salah satu hobi yang dijalani Mudia untuk menghilangkan penat, sekaligus menjalin kebersamaan dengan para relasinya adalah touring sepeda motor. Ia pun mengaku sudah lama bergabung dengan grup touring Lorin Ninja Club. ”Jadi hobi untuk mewadahi seluruh karyawan Lorin yang berhobi sama. Lumayan juga untuk refreshing,” katanya.
Grup touring yang jadi komunitasnya, rutin berkumpul setiap Sabtu malam, sehabis pekerkerjaan beres. ”Kadang kalau ingin rapat di luar, ajang touring ini biasa kami manfaatkan,” akunya. ”Bagi kami, rapat itu tak melulu harus formal di ruangan. Sambil nongkrong di mana gitu, supaya suasananya lain sering kami lakukan.”
Mudia mengaku, hobi touring dengan sepeda motor mampu memacu adrenalinnya, terlebih jika medannya cukup menantang. Beberapa lokasi yang pernah dia jelajahi dengan touring antara lain, Malang, Wonogiri, Magelang dan beberapa kota lain. ”Kadang istri khawatir, namun tetap diizinkan. Meski setiap waktu harus memberikan kabar lewat telepon atau SMS,” terangnya.

Strategi Tebar Senyuman, Jadikan Tamunya Raja

Salah satu strategi yang dia pakai adalah menerapkan tradisi tebar senyuman dan jabat tangan pada tamunya sebagai bentuk pencitraan positif di perusahaannya.

Oleh: DWI HASTUTI
Berjas hitam dengan dasi yang matching, pria ini senantiasa tersenyum dan memberikan jabat tangan pada siapa pun yang masuk di Lorin Business Resort & Spa Solo. Dialah Mudia Trianamaja, General Manager (GM) Lorin Business Resort & Spa Solo.
”Itu (jabat tangan dan senyum,-red) wajib, sebagai bentuk pelayanan,” katanya menjelaskan tradisi karyawan di Lorin Business Resort & Spa, saat berbincang dengan Joglosemar.
Layanan khas itu, bakal dirasakan setiap tamu yang masuk. Tradisi itu, bukan hanya berlaku untuk karyawan penerima tamu, namun bagi Mudia, yang sebagai GM wajib menjalankannya.
Tradisi itu, sebagai bentuk layanan bagi tamu yang dijadikan seperti raja. Menurutnya, cara seperti itu merupkan strategi yang ia jalankan agar memberikan kesan istimewa pada tamu-tamunya.”Dampaknya luas, ini bisa jadi sebagai bentuk pencitraan dari industri perhotelan,” terangnya.
Strategi itu, menurut Mudia, sudah lama dia jalankan. ”Sebelum di Lorin, cara seperti itu sudah lama saya praktikkan di berbagai hotel. Hasilnya sudah terbukti,” ujar pria kelahiran Cirebon 46 tahun silam ini. ”Bagi saya dengan senyum dan berjabat tangan dengan tamu, tidak menurunkan wibawa kita. Malah banyak yang didapat ketika kita murah senyum dengan siapa saja.”
Bukan hanya dengan tradisi jabat tangan dan tebar senyuman. Mudia juga menerapkan strategi open critical dari tamu, relasi, serta karyawan. ”Kalau untuk kritik dari tamu ada yang langsung disampaikan. Ada yang lewat telepon, ada juga yang lewat tulisan. Semua sudah kami sediakan di kamar,” paparnya.
Strategi tebar senyuman, ditemukan Mudia secara tidak sengaja. Ia mengaku teringat pada masa kecil, yang biasa diajarkan orangtuanya. ”Dulu selalu diajarkan, kalau kita bersikap dengan siapa saja, usahakan dengan jabat tangan. Dari itu, saya terpikir untuk menerapkan di pekerjaan,” akunya.
Hasil yang dia dapatkan dari didikan orangtuanya yang lain adalah, larangan membeda-bedakan seseorang dari jabatan dan pangkat. ”Dalam bekerja itu jangan hanya mengejar pangkat dan jabatan. Kalau yang dikejar itu hanya pangkat dan jabatan, bisa jadi menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keduanya dilakukan. Itu pesan yang saya ingat dari orangtua,” paparnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s