Ahli Farmasi, Sukses Kelola SPBU

Posted on

Kombinasi unik muncul dari kehidupan pengusaha Solo, Achmad Purnomo. Menjadi seorang pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah daerah, membuat hidupnya berkecukupan. Namun, sejatinya, menggeluti bisnis bahan bakar minyak (BBM) itu bukan pilihan pertamanya.
Karier pertama pengusaha ternama di Solo ini sebenarnya tak jauh-jauh dari bangku pendidikan. Ya, Achmad Purnomo selama ini juga dikenal sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Selain sebagai dosen, dia juga serius pada karier yang dia rintis dari jenjang pendidikan yang ditempuh yakni Farmasi. Hasilnya, pria yang besar di keluarga pendidik ini juga sukses mendirikan berbagai apotek di sejumlah daerah.
Saat berbincang dengan Joglosemar, Jumat (17/12), Achmad Purnomo, mengisahkan awal perjalanan karier dan usahanya. Menurutnya, dia terlahir dari keluarga pendidik di Kebumen. Dia anak keempat dari tujuh bersaudara.
Sang Ayah, kata dia, berprofesi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sang Ibu, berprofesi sebagai pedagang kecil-kecilan. Demi meraih impian, mengenyam pendidikan tinggi, pengusaha yang akrab disapa Purnomo ini rela merantau ikut kakaknya. Karena keterbatasan biaya dari orangtua.
”Saya SMA harus ikut kakak saya yang pertama di Sidoarjo, Jawa Timur. Ketika kelas tiga SMA juga ikut kakak satunya lagi di Purwokerto,” kata Purnomo, di kediamannya, di Jalan Bhayangkara No. 23 Solo.
Perantauan bersama kakaknya, tidak sia-sia. Gelar sarjana farmasi dari UGM tahun 1973 diraihnya. Keberuntungan memang berpihak pada Purnomo. Pasalnya, usai meraih gelar sarjana farmasi, dia dipercaya menjadi staf pengajar di almamaternya.
Belum puas dengan gelar sarjana, impian mengenyam pendidikan tinggi terus dia kejar. Hasilnya, tahun 1988 Purnomo berhasil menyandang gelar Doktor di bidang farmasi, di kampus yang sama.
Sebagai bukti, hasil pendidikan tingginya tidak terpaku di lembaran ijazah saja, Achmad Purnomo, yang kini ahli farmasi kemudian mendirikan berbagai apotek di sejumlah daerah.
Jejak usahanya di Solo dia mulai, setelah  mempersunting Saraswati. Berbagai apotek di Solo yang dia bangun di antaranya, Apotek Fajar dan Apotek Aria. Usaha apotek juga tidak membuatnya puas. ”Kalau apotek kan harus detail kontrolnya. Harus datang ke lokasi. Kalau saya di Solo, tak ada masalah, tapi ketika harus mengajar,  kan harus ke Jogja, jadi menyita waktu,” ujarnya.
Pemikiran revolusionernya muncul sebagai solusi bisnis yang cocok. Kali ini, bisnis yang dia kelola tidak terkait dengan keahliannya sebagai ahli farmasi. Achmad Purnomo memutuskan berbisnis membangun SPBU di sepanjang jalur yang biasa dia lewati, yakni Solo, Yogyakarta hingga Kebumen. ”Kebetulan adik saya juga memiliki bisnis serupa di Jakarta, jadi saya belajar dari adik saya,” imbuh pengusaha yang kini menjadi Pembina Solo Bersama Selamanya (SBS) ini.
SPBU yang dikelola Purnomo terdapat di berbagai titik jalur utama, seperti di Jalan Bhayangkara, Pabelan Kartasura, Klaten hingga di Kebumen. Setidaknya ada 10 SPBU yang telah dia bangun. ”Pekerjaan saya sebagai pendidik tetap menjadi prioritas utama. Sekarang anak-anak saya sudah membantu saya di usaha SPBU,” tuturnya.n Dwi Hastuti
hastuti_uns86@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s