Erma Ismail Choirun Nisa Pejuang perempuan miskin

Posted on Updated on

Punya niat baik tapi dibalas dengan ancaman pembunuhan di masa sekarang ini bukanlah omong kosong.
Tujuh tahun lalu, saat mengenalkan bank desa atau Grameen Bank seperti yang dilakukan Muhammad Yunus dari Bangladesh, Erma Ismail Choirun Nisa, 37, pun sudah merasakannya. Namun ancaman itu sama sekali tak mematahkan semangat Erma untuk memperbaiki nasib perempuan miskin. Hasilnya, terlihat sudah kini. 

Lewat Yayasan Mitra Usaha (YMU) cabang Klaten yang dipimpinya itu, ia sudah dapat melayani pinjaman sekitar 6.000 perempuan miskin di tiga kabupaten, Klaten, Sukoharjo dan Gunungkidul. Besaran kredit awal yang dikucurkan mulai dari Rp 100.000–Rp 500.000 yang dicicil selama 50 bulan dengan bunga 2,5 %. Sehingga total yang sudah digulirkan sebanyak 6,3 miliar. Hebatnya dengan NPL (Non Performing Loan) atau kredit bermasalah sebanyak nol persen.

Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Sardiyanto dan Maryamah itu mengenal konsep Grameen Bank berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu Erma hanya berniat menggantikan seorang teman di YMU untuk mengikuti pelatihan Grameen Bank selama tiga pekan di Rembang. Tetapi, baru tiga hari, Erma sudah tidak betah. Menurutnya konsep yang disampaikan tak ubahnya sistem kredit biasa. “Intinya tugas saya seperti tukang kredit. Tidak ada pendampingannya. Makanya saya hanya ikut tiga hari.”

Kecewa dengan pelatihan itu, ia menulis surat kepada pemimpin YMU kalaulah ia tidak sreg dengan konsep Grameen Bank. Dari sanalah justru YMU kemudian meminta Erma mengikuti pelatihan Grameen Bank di Jakarta yang diberikan langsung oleh murid Muhammad Yunus, Syukur Kasim dari Malaysia.“Ternyata Grameen Bank tidak seperti yang ada di Rembang,” kenangnya.Pasalnya, Grameen Bank adalah pendampingan bagi perempuan miskin untuk mendapatkan modal usaha tanpa jaminan tetapi prosesnya harus diperhatikan terlebih dahulu. Yakni sebelum mendapatkan kucuran modal, nasabah harus mengikuti pelatihan atau istilahnya sekolah terlebih dahulu selama lima hari. Sekolah itulah yang menguji kedisiplinan calon nasabah.

Tak ayal, selama sebulandi Jakarta Erma antusias mengikuti pelatihan. Bahkan oleh Syukur Kasim Erma diminta melanjutkan lagi pelatihan selama sebulan. “Dari 15 orang yang ditahan cuma dua. Saya nurut. Bolehlah ini kesempatan luar biasa,” ungkapnya. Seusai kembali ke Klaten, oleh YMU Erma pun diminta menerapkan Grameen Bank. Sempat terbesit keraguan, namun Erma ingat yang dikatakan Syukur Kasim, asal tidak keluar dari khitah Grameen Bank bisa diterapkan.

Tantangan berat

Jadilah setelah tiga bulan survei ke Bayat, Kemalang dan Manisrenggo, pada 6 Januari 2003 Erma mengenalkan pinjaman desa tersebut. Namanya juga sesuatu yang baru. Tak mudah memahamkan orang pada konsep gramen bank. Bahkan saat meminta izin untuk menyosialisasikan Grameen Bank kepada perangkat desa, Erma malah cemoohan. “ Hampir 80% tidak ada perangket desa yang mendukung. Komentarnya begini, itu duit apa tidak sayang untuk orang miskin. Program pemerintah saja tidak pernah sukses. Apalagi tidak memakai jaminan,” ujarnya.

Namun Erma tak ciut hati. “Yang penting sudah izin,” ujarnya. Alhasil tiga bulan pertama bergerilnya, Erma hanya dapat merangkul 15 orang yang dibagi dalam tiga kelompok di daerah Candi Wonosari. Itu pun Erma harus melewati kisah dramatis saat akan memberikan pelatihan kepada calon nasabah.

Hari pertama datang, belum sampai ke tempat pelatihan, Erma sudah dihadang tiga laki-laki yang mengaku dari petugas keamanan sebuah Parpol karena dicurigai bakal menyebarkan ideologi tertentu. “Tetapi saya bilang kalau saya bukan dari Parpol, bukan pula dari agama dan saya punya misi baik,” ujarnya kala itu meyakinkan. Agar tak dihadang pada hari berikutnya, meskipun memberikan pelatihan pukul 09.00WIB, pukul 06.00 WIB Erma sudah siap di tempat pelatihan. Namun, tiga lelaki yang menghadang hari sebelumnya justru mendatangi Erma dan mengancam akan membunuh Erma. Tapi Erma ngotot tetap memberi pelatihan.

Jadilah sejak hari itu selama memberikan materi sekitar satu jam, Erma ditunggui tiga lelaki yang menenteng golok. Pun pada hari ketiga dan keempat. Barulah hari kelima salah seorang dari mereka justru tertarik mengikutsertakan istrinya.

Dengan ketelatenan dan kesabaran konsep itu pun mulai diterima. Setahun kemudian Erma pun mulai dibantu seorang staf. Namun, hingga tiga tahun pertama yayasannya masih rugi. “Baru tahun keempat mulai lancar. Sekarang ada enam staf. Empat petugas lapangan dan dua akuntan,” ujarnya.

Setiap hari ia dan empat petugas lapangan berkeling menemui para perempuan miskin. “Satu orang bertanggungjawab pada 300 anggota. Sekarang masih ada 1.360 anggota.”

Sesekali Erma dan timnya pun memberikan pelatihan tambahan secara bergiliran. Untuk pengembangan usaha, biasanya Erma menyesuaikan potensi daerah. “Misalnya banyak kedelai ya memberikan pelatihan membuat susu kedelai,” ungkapnya.

Tak hanya itu Erma dan timnya juga memberikan pelatihan tentang pengasuhan anak, kebersihan rumah dan lingkungan sampai pengelolaan keuangan rumah tangga. Alhasil Erma dan timnya pun menjadi tempat curahan hati para perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) . “Tapi Alhamdulillah sejak ada pendampingan, jumlah KDRT mulai menurun. Karena mereka sebetulnya tidak sekadar butuh modal tetapi butuh didengarkan,” ujarnya.

Nama : Erma Ismail Choirun Nisa

Lahir : Klaten, 15 Januari 1973

Alamat : Perum Citra Gading Padova A4, Belang Wetan, Klaten Utara

Suami : M. Ali Syaifullah

Anak : Rizan Muhammad Ar-razy, 6 dan Efra elya Syahira, 1

Ayah : Sardiyanto

Ibu : Maryamah

Riwayat pendidikan

• Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM), Candirejo Klaten (lulus 1986)

• SMP 9 Muhamadiyah Klaten (lulus 1989)

• SMA 1 Muhamadiyah Klaten (lulus 1992)

• Diploma III Akadami Komunikasi Yogjakarta (AKY) Jurusan jurnalistik (lulus 1995)

• Strata 1 Fakultas Ilmu Sosial dan politik Jurusan komunikasi Massa Universitas Sebelas Maret (UNS) (lulus 1999)

Riwayat organisasi

• Sekretaris Senat Mahasiswa AKY (1993-1995)

• Anggota HMI Cabang Surakarta (1996-1998)

• Anggota Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Yogjakarta

• Pimpinan redaksi Gema Muhamadiyah Klaten (2000-2003)

• Sekretaris “ Forum Lintas Pelaku” Peduli Rakyat Klaten (2001-2006)

• Ketua Pemberdayaan perempuan Karang taruna kab. Klaten (2002-2006)

• Anggota Aliansi peduli perempuan Klaten (APPK)

Pengalaman Kerja

• Wartawan Tabloid “Karanganyar Pos” (1999-2001)

• Tenaga Pengajar Luar Biasa Akademi Komunikasi Yogjakarta (1999-2002)

• Reporter radio “UNISI” Jogja (2001-2002)

• Voulentir LSM PERSEPSI Klaten (2000- sekarang)

• Trainer CORBODA HRD Klaten (2003 – sekarang)

• Manager Mitra Usaha Mandiri (bank For The Poorest) Replikasi Grameen bank Cabang Klaten (2000-sekarang) – Oleh : Fetty Permatasari

Senang bermasyarakat sejak belia
Kalau dulu saya tidak bandel mungkin tidak bisa seperti ini,” begitu kelakar Erma Ismail Choirun Nisa.
Menurutnya, kecintaannya terjun dan bermasyarakat lalu mengikuti kegiatan sosial sudah diminatinya sejak belia. Terlebih kedua orang tuanya juga aktif di sejumlah kegiatan sosial. Itulah sebabnya, saat berada di Pondok Pesantren Ngruki misalnya. Erma tak jarang sengaja melanggar kedisiplinan agar bisa keluar pondok. Mulai dari makan di kelas sampai membaca novel saat pelajaran ia lakukan. 

“Saya masih ingat, dulu sering dihukum disabet memakai sajadah,” kenangnya. Pemberontakan itu tak lain karena Erma ingin bersekolah di SMP dan bisa setiap saat membaur dengan masyarakat. Tetapi, ayahandanya ingin agar Erma bersekolah di sekolah yang berbasis agama agar kelak Erma bisa menjadi guru agama. Alhasil, Erma pun harus pindah sekolah empat kali sampai kemudian bersekolah di SMP Muhammadiyah. Begitu lulus SMP, ayahanda Erma meminta agar Erma sekolah di Madrasah Aliyah. Erma masih ingat sampai-sampai ijazahnya pun disembunyikan. “Saya nekat. Saat ayah tidak ada saya ambil dan saya mendaftar di SMA,” ujarnya.

Pemberontakan perempuan yang selama SMA aktif di organisasi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) ini masih berlanjut. Ketika diminta kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), ia malah memilih berkuliah di Akadami Komunikasi Yogyakarta.

Setamat kuliah, Erma sempat menjadi wartawan dan penyiar radio. Namun, keinginannya bekerja sembari beraksi sosial tetap menggelora. Dan, rupanya lewat pelatihan Grameen Bank, hatinya tertambat untuk terus memperjuangkan nasib perempuan miskin. “Keluarga amat mendukung dengan apa yang saya lakukan,” ujarnya.

Bermimpi bisa layani hingga seluruh Jateng
Berawal dari mimpi tak sedikit orang menciptakan sebuah karya besar.
Demi semakin banyak melayani perempuan miskin, Erma Ismail pun tak berhenti bermimpi. “Obsesi saya, YMU bisa menjadi bank yang khusus melayani perempuan miskin hingga pelosok Jawa Tengah,” ujarnya. Namun menurutnya memang butuh ketelaten ekstra dari tim. Terlebih saat menjalani prosesi untuk menjaring calon nasabah. 

Kali pertama, Erma dan tim biasanya melakukan survei terlebih dahulu dengan pendekatan personal. Survei tersebut mulai dari kondisi rumah, tingkat pendapatan sampai seberapa banyak lembaga keuangan mikro yang sudah pernah diakses oleh sebagian besar warga di daerah yang menjadi sasaran. Barulah kemudian, Erma dan tim menggelar pertemuan umum di salah satu rumah warga. “Biasanya setelah pertemuan umum, hanya ada beberapa saja yang mendaftar. Bahkan sampai sekarang pun juga begitu. Jadi setelah itu melakukan pendekatan personal lagi agar yang mendaftar bertambah.”

Dari yang mendaftar itulah lalu dibentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri lima orang. Lima orang itu wajib mengikuti pelatihan selama lima hari selama satu sampai satu setengah jam. “Selama lima hari itu datang tidak boleh telat dan tidak boleh diwakilkan. Termasuk saat penerimaan pinjaman,” ujarnya.

Setelah lima hari selesai, Erma dan tim melakukan uji kelayakan mencakup beberapa hal seperti pendapatan per hari, jumlah anak sampai kondisi tempat tinggal. Tujuannya untuk menentukan besarnya pinjaman awal sebesar Rp 100.000 – Rp 500.000 yang harus diangsur setiap minggu. “Pinjaman tersebut tidak boleh ditutup di tengah-tengah. Kalau pinjam Rp 100.000 setiap minggu selama 50 minggu harus mengangsur Rp 2.600.”

Kalau sudah lunas selama setahun atau 50 minggu, anggota bisa meminjam lagi sebanyak dua kali lipat

Sosok perempuan tangguh
Di mata Asri Nur Rohmani, 36, sosok Erma Ismail tak sekadar teman biasa.
Lebih dari itu, baginya Erma adalah teladan yang membuatnya juga tertular semangat menjadi perempuan tangguh. “Karena saya orangnya agak manja dan Erma turut membentuk karakter saya menjadi lebih baik,” ujar teman SMA Erma itu saat dijumpai Espos di kompleks Rumah Sakit Islam Klaten, Sabtu (27/11). 

Bagi Asri semangat yang ditularkan teman yang sering mengajaknya nongkrong di belakang terminal sambil menyantap nasi kucing itu, begitu berarti baginya. Ia pun bangga pernah bisa bekerja satu tim dengan Erma di YMU selama tiga tahun. Karena dari sanalah, Asri mengaku benar-benar merasakan tantangan hidup. Namun, menurut Asri, di bangku SMA, Erma bukanlah siswa istimewa. Hanya, sejak kelas I, Erma

memang sudah aktif mengikuti berbagai organisasi.

Itulah pasalnya, sejak namanya sering muncul di media, tak sedikit teman-teman SMA Erma yang kaget. “Erma yang dulu culun itu ya,” begitu kata Asri komentar dari teman-temannya. Menurut Asri, komentar itu muncul cukup beralasan. Karena saat SMA, Erma memang selalu tampil sederhana dan apa adanya.

Getol berorganisasi
Menjadi guru sekaligus pembina IRM di SMA 1 Muhammadiyah Klaten medio 1990-an membuat Agus Cahyono ingat betul kiprah Erma Ismail di SMA baik di kelas maupun di organisasi.
“Sejak kelas I potensi dalam berorganisasi kelihatan sekali,” ujarnya saat dijumpai Espos di SMA 1 Muhammadiyah Klaten, Sabtu (27/11). 

Oleh sebab itulah, di IRM, Erma tak hanya menjadi pengurus di sekolah melainkan juga menjadi pengurus IRM daerah. Meskipun demikian, Erma saat itu juga aktif di ekstrakurikuler karya ilmiah remaja dan jurnalistik. “Tapi kalau pelajaran tidak terlalu menonjol. Karena sedikit celelekan,” ujar pria 48 tahun itu sambil tersenyum.

Melihat kiprahnya kini, sebagai guru, Agus turut bangga. Ia berharap, Erma tidak akan melupakan almamaternya SMA 1 Muhammadiyah Klaten serta terus memotivasi adik-adik kelasnya kini. Selain itu, ia pun berharap Erma tetap pandai membagi waktu antara apekerjaan dengan keluarganya. Karena bagaimana pun , keluarga tetap harus menjadi prioritas. “Saya sering ingatkan demikian. Karena sekarang Erma makin sibuk, sudah seperti artis, haha.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s