H Danar Rahmanto Sahabat orang kampung

Posted on

Rumah bercat putih yang salah satu bagian dindingnya tersemat papan bertuliskan Pusat Penjualan Tiket PO Timbul Jaya di sebelah timur Pasar Ngadirojo Wonogiri, Selasa (5/10) siang itu seperti tak pernah sepi dari tamu.

Baru saja ada yang masuk ke ruang tamu, tak berapa lama kemudian sudah ada yang datang kembali dan menunggu di kursi teras. Begitu seterusnya. Bahkan baru 10 menit berbincang dengan si empunya rumah, Danar Rahmanto, sudah tiga orang tamu datang menyela.

Mulai dari yang meminta agar Danar hadir di acara pertemuan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), memberi sambutan acara di kampung sampai mengharap kehadiran Danar di pesta pernikahan.

Di sela-sela menerima tamu, telepon genggam Danar yang diletakkan di mejanya pun tak berhenti berderit-derit dan berteriak-teriak. Meskipun demikian, air muka Danar tetap saja sumringah. Senyum selalu menyungging dari bibirnya.

Bahkan tanpa menunggu lama, dengan berkendara mobil BMW 318i warna merah bernomor polisi AD 1745, ditemani sopir dan dua asistennya, Danar segera meluncur ke tempat pertemuan PKK di sekitar waduk gajah mungkur (WGM) dan dilanjutkan menyambangi tiga acara pesta pernikahan. “Kalau jagong sekarang sudah sedikit. Sebelum Lebaran, sehari bisa sampai 34 undangan,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Kebiasaan lama

Danar mengaku rutinnya mendatangi beragam kegiatan tersebut bukan lantaran karena ia turut mengisi bursa pencalonan kepala daerah Wonogiri. Jauh sebelum itu, bapak tiga anak tersebut sudah kerap mendatangi kegiatan-kegiatan di kampung. Tak hanya urusan kondangan melainkan juga layatan sampai kegiatan kepemudaan. Bagi Danar bisa berkumpul dengan masyarakat kampung dan berbagi cerita adalah kenikmatan tersendiri.

Itulah mengapa Danar Rahmanto yang pada Pilkada 16 September lalu terpilih menjadi Bupati Wonogiri periode 2010-2015 selalu berusaha memenuhi berbagai undangan tersebut. Rupanya, kedekatan emosional Danar dengan warga Wonogiri yang sudah terjalin lama itu membuatnya tak sulit memenangkan Pilkada. “Menghadiri acara seperti jagong adalah investasi politik yang murah,” kelakarnya.

Namun demikian, kedekatannya dengan masyarakat akar rumput sebetulnya juga tak lepas dari latar belakang keluarganya. Sejak kecil anak keempat dari empat bersaudara pasangan Atmo Wiranto dan Sutamti itu sudah turut malang melintang mengikuti kedua orang tuanya yang berbisnis hasil bumi dan pjasa angkutan.

Itulah mengapa, di usia belianya ia sudah turut terjun langsung menangani bisnis keluarga. Bahkan cita-cita Danar sejak kecil meneruskan bisnis keluarga. Bukan menjadi dokter, insinyur dan cita-cita idealis lazimnya anak kecil.“Sejak SD tidak ada cita-cita lain kecuali meneruskan bisnis keluarga,” tegas lelaki yang paling suka memakai celana berbahan denim ini.

Meskipun turut sibuk membantu mengisi pundi-pundi keluarga, namun tak berarti prestasi Danar di sekolah dasar dan menengah jelek. Penggemar karya Jalaludin Rumi dan Bung Karno ini tetap menorehkan angka-angka yang menggembirakan.

Jika menilik surat tanda tamat belajarnya di bangku SMP misalnya, Danar meraih nilai sembilan pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan agama. Hanya satu mata pelajaran keterampilan saja yang mendapat nilai cukup karena mendapatkan nilai enam.

Danar juga mengaku tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Momentum paling mengesankan baginya yakni ketikan hari Sabtu. Karena pada hari tersebut di sekolah diadakan acara krida atau kerja bakti. “Kalau hari itu saya memakai hand body lotiondari ampas kelapa,” kenangnya.

Pasalnya, saat kerja bakti ia harusmengambil batu kerikil di sungai untuk menutup genangan-genangan air di halaman sekolahnya. “Biar tidak gatal,” ujarnya.

Setamat SMA keinginannya berbisnis di bidang angkutan kian meluap-luap. Alhasil sembari berkuliah di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) ia menekuni bisnis jasa angkutan.

Sayang, ia lterlampau larut menekuni bisnisnya itu. Makanya, di semester III Danar memutuskan meninggalkan kuliah dan konsen menggeluti usaha jasa angkutan. Apalagi saat itu persaingan belum begitu ketat. Namun demikian, krisis ekonomi 1998 turut menghantam bisnis Danar. Danar kolaps. “Bisa dikatakan saat itu bangkrut,” ungkap pemilik PO Timbul Jaya ini.

Namun, tempaan pengelaman berbisnis dari kedua orang tuanya sejak kecil membuat Danar tetap berdiri tegak. Naluri bisnisnya tetap mengembang dan akhirnya sekitar dua tahun berjalan usahanya bisa bangkit kembali.

Sampai pada 2004, Danar kepincut dengan dunia politik. Ia pun kala itu menjadi Wakil Ketua I DPC PDI Perjuangan Wonogiri. Dari sanalah Danar mulai mempersiapkan diri menjadi calom pemimpin Wonogiri. Dan kini tercapailah sudah. “Karena jika ingin melakukan perubahan dengan menjadi pemimpin memang harus disipakan. Tidak bisa dengan cara instan. Saya ingin hidup jaya dan mati pun sempurna,” ujarnya. – Oleh : Fetty Permatasari

Siap bersinergi dengan Soloraya

Meskipun belum resmi dilantik, namun beragam persiapan dan strategi untuk menebus janji selama masa kampanye oleh Danar dan pasangannya sudah mulai disusun.

Tak heran jika semakin mendekati hari pelantikan, tamu yang datang ke rumah Danar makin berjibun. “Yang jelas untuk memajukan Wonogiri, saya akan memberikan ruang seluas-luasnya kepada dunia investasi. Ijin akan saya permudah. Saya juga akan menyiapkan katalog produk dan potensi yang up to date dari tiap wilayah serta menata birokrasi,” urainya.

Konkretnya dalam penataan birokrasi, Danar ingin menempatkan seseorang sesuai dengan bidang keahliannya. Sebab, masalah klasik yang menghinggapi birokrasi salah satunya yakni karena tidak menempatkan orang sesuai dengan komapetensi yang dimiliki.

Tak kalah penting, ia ingin membangun karakter orang-orang yang ada di birokrasi. Seperti pandangan Stephen R. Covey tentang penciptaan karakter bahwa Taburlah gagasan, petiklah perbuatan; taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan; taburlah kebiasaan, petiklah karakter; taburlah karakter, petiklah nasib.

Artinya, pembinaan karakter kepada pegawai sebagai pelayan masyarakat, akan dilakukan secara berkesinambungan. “Semangat saya bisa menanamkan karakter beragama,” ujarnya.

Dan untuk membentuk itu semua, tak sekadar membutuhkan perencanaan matang belaka melainkan juga perlu didiukung komunikasi politik yang tepat. Serta bersinergi dengan daerah di Soloraya.

Pasalnya, tanpa adanya sinergi, perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan akan kurang maksimal. Karena akan meletupkan sifat keegoan wilayah dengan saling menonjolkan potensi kewilayahan masing-masing saja. “Mudah-mudahan bisa bersinergi. Secara informal saya pun sudah mulai berkomunikasi dengan dengan kepala daerah di Soloraya,” tandasnya.

Penggemar jazz dan keris

Memang tak ada korelasi langsung antara musik jazz dan keris.

Namun demikian, bagi Danar Rahmanto, keduanya selalu beririsan dalam hidupnya.

Baginya, jazz dan keris sama-sama memikat. Alunan musik jazz yang tak banyak digemari orang, menurut Danar, memberikan nuansa dan karakter tersendiri dalam dalam beraktivitas.”Penyanyi jazz favorit saya Nichole Cool,” ungkapnya.

Meskipun demikian, tak berarti Danar alergi dengan aliran musik lain seperti dangdut, keroncong, pop bahkan campur sari. Malahan, Danar mengaku kini lebih sering menikmati jenis musik selain musik jazz. “Pokoknya mengikuti seleta pasar,” ujarnya sembari tertawa lepas.

Makanya, saat kampanye lalu, iseng-iseng menyalurkan hobi menyanyi, Danar membuat media kampanye yang eksentrik. Danar mencipta, mengaransemen dan menyanyikan sendiri lima buah lagu. Ada yang berbuansa pop dengan lirik bernada sarkastis, tetapi ada pula yang berirama campursari nan romantis. “Ada yang sudah diupload di facebook juga lho, haha,” ujarnya.

Bukan hanya soal melantunkan lagu belaka, pengetahuan Danar soal keris juga sangat mumpuni. Maklum saja, sejak remaja Danar sudah mengumpulkan puluhan keris. Tetapi Danar membantah kegemarannya itu tersangkut paut dengan urusan klenik. “Saya menyukai keris karena faktor eksoterinya bukan isoterinya,” tegasnya.

Faktor eksoteri, urai Danar, terkait dengan sesuatu yang kasat mata pada keris. Baik itu ditengok dari bahannya maupun lekukan indah tubuh keris. Karena dari sanalah, menurut Danar seseorang bisa menengok tingginya peradaban bangsa Indonesia. Sebutlah pada tahun 1.600-an, pembuatan keris sudah menunjukkan cita rasa seni yang tinggi.

Maka, Danang cukup mafhum jika diminta menilai keris, mulai dari bahannya maupun tahun berapa keris itu dibuat. “Karena ada bukunya atau babonnya maka saya bisa tahu detail,” ujarnya.

Sementara jika hanya melihat keris dari nilai isoterinya, kata Danar, maka orang biasanya akan terjebak pada sesuatu berbau klenik.

Misalnya saja, kata Danar ketika seseorang ingin menjadi pejabat, maka harus banyak bersentungan dengan keris Singobarong dan masih banyak mitos lainnya seputar keris. “Kebetulan saya memang penggemar Singobarong tetapi saya sama sekali tidak melihat dari sana,” jelasnya.

Nah, selain meluapkan pada dua hal tersebut, Danar rupanya juga sosok avonturir atau berjiwa petualang. Itu ia aktualisasikan dengan mengikuti kegiatan terbang layang dan memancing. “Sampai sekarang saya masih suka mancing.”

Jago voli, suka menraktir

Wajah Badri, 46,yang kesehariannya bekerja sebagai pembuat jok mobil itu tampak berseri-seri begitu diminta berkomentar nostalgia masa SD-nya bersama Danar.

Bak memutar mesin waktu, Badri pun mengisahkan beragam cerita mengesankan selama enam tahun bersama Danar di bangku SD. “Sepulang sekolah, dulu biasanya suka bermain ke Hutan Gebang mencari burung,” ujarnysa saat dijumpai Espos di rumahnya, Manggis Nagdirojo Kidul RT 3/RW II, Sabtu (9/10).

Kalaulah tidak ke hutan, kenang Badri biasanya latihan renang di sungai. Namun, tak berarti kegiatan di sekolah juga tak diikuti ia dan Danar. Terlebih jika bermain voli. Karena di antara olah raga lainnya Danar paling suka bermain voli. “Dan senangnya kalau habis olah raga Mas Danar yang sering menraktir,” ujarnya.

Kegemarannya menraktir, kata Badri bahkan berlanjut sampai SMP. Tak heran meskipun di bangku SMP tak pernah sekelas, namun keakraban dengan teman-teman yang satu SD-nya tetap terjalin. “Malah sampai sekarang. Karena Mas Danar orangnya santai,” ungkap Badri.

Lihat saja, lanjutnya, meskipun telah terpilih menjadi Bupati Wonogiri, Danar tetap tak canggung berkumpul bersama dengan teman-teman lamanya di pinggir jalan. Dalam berpenampilan juga tetap biasa saja. Sama sekali Danar tak mau menunjukkan kesan pejabat. “Harapan saya Mas Danar sukses memimpin periode ini bahkan sampai dua periode,” pungkasnya.

Merakyat sejak belia

Usia Sutiman memang tak lagi muda. Namun, ingatan kakek delapan cucu ini pada medio1974-1975 kala ia menjadi guru yang mengajar Danar Rahmanto, masih terekam kuat.

Di mata Sutiman, Danar kecil sudah menunjukkan sifat kepemimpinannya. “Kalau pandai tidak pandai sekali tetapi Mas Danar dalam pergaulan bagus. Tidak membeda bedakan teman. Sudah merakyat sejak kecil,” ujarnya saat dijumpai Espos di rumahnya Kaliampo RT 2/RW I Ngadirojo Kidul Ngadirojo Wonogiri, Sabtu (10/10).

Sifatnya itu, kata lelaki yang akrab disapa Mbah Timan ini, terlihat betul saat acara Krida atau kerja bakti bersama pada hari Sabtu. Tak hanya giat mengambil bebatuan kecil di sungai untuk menutup halaman sekolah yang becek. Tetapi Danar kala itu juga mampu menggerakkan teman-temannya.

“Dalam bergaul, Mas Danar jarang sekali membuat keributan di sekolah,” ungkapnya.

Sifat menghargai kebersamaan tersebut, kata lelaki berusia 68 tahun itu semakin terlihat setelah dewasa. Salah satu yang paling menonjol yakni Danar selalu siap menghadiri apapaun acara yang digelar di kampung. “Ya njagong, layat, ngantar manten semua didatangi. Tak peduli saat itu hujan atau tidak,” ujarnya.

Yang bikin makin berkesan, Danar hingga kini juga tidak lupa dengan guru-guru di masa sekolah dasarnya. Bahkan beberapa waktu lalu ia menggelar reuni dan semua guru SD yang masih sehat diundang.

Makanya, kata guru yang mengajar Danar di akelas IV dan V SD tersebut, pantaslah jika kemudian ia dipilih menjadi orang nomor satu di Wonogiri. “Semoga setelah menjalankan tugasnya nanti, Danar juga tetap bisa merangkul semua elemen masyarakat,” ujarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s