Suratman Worosuprojo Sulap Krakitan jadi wisata pertanian

Posted on

Suratman Worosuprojo
Sulap Krakitan jadi wisata pertanian

Pria itu tak menaiki mobil mewahnya. Ia memilih kereta bendi yang ditarik seekor kuda. S

osok yang memiliki 90 lebih karya riset itu juga tak mengenakan jas mlipit dan bersepatu kantoran. Ia hanya berpakaian sorjan Jawa dan bertopi caping. Kedua kakinya pun melangkah kesana kemari tanpa alas kaki.

Padahal, saat itu, rumahnya di Krakitan Bayat Klaten sebentar lagi kedatangan orang nomor satu di daerahnya; Bupati Sunarna beserta rombongannya. Namun, bapak berputra tiga ini memiliki cara tersendiri dalam menyambut bupatinya itu.

Bersama warganya, ia sajikan menu makan seadanya dari hasil ladang dan sawahnya. Ada ubi-ubian, ketela, kacang tanah, jagung rebus, kelapa muda, rambutan, atau pisang rebus. Semuanya dikemas dalam balutan budaya rakyat kecil; tarian, salawatan, karawitan, musik lesung, hingga aneka dolanan anak-anak. “Kita ini bangsa agraris. Jadi, memang demikianlah sajiannya,” katanya merendah saat berbincang dengan Espos di sela-sela peresmian Museum Pertanian di kediamannya, Kamis (16/9) lalu.

Pria itu bernama Suratman Worosuprojo. Ia biasa dipanggil Suratman. Beberapa tahun terakhir ini, namanya begitu lekat di telinga warga Klaten, khususnya Desa Krakitan Bayat. Bukan soal gelar keprofesorannya atau seabrek karya risetnya yang telah memosisikan dia sebagai Pengurus Pusat Ikatan Geografi Indonesia (IGI). Namun, karena satu hal; kecintaan kepada desa kelahirannya.

Mendesain ulang desa

Terlebih, sang ayahanda, Suparlan, juga berwasiat agar Suratman melestarikan nuansa pedesaan Desa Krakitan. Wasiat itu ternyata begitu terngiang di telinga Suratman. Dan, dari pengalamannya menempuh pelbagai riset tentang tanah dan lingkungan yang mengantarkannya sebagai guru besar UGM, bapak kelahiran 6 Juni 1954 ini seperti terus terpanggil untuk mewujudkan mimpi ayahandanya itu. “Yang terpikir saat itu, betapa bapak saya sangat mencintai tanah desa. Tanah tumpah darahnya, tanah negerinya sendiri,” katanya.

Maka, tahun 2000 Suratman bertekad menyingsingkan lengan bajunya. Desa Krakitan yang sejauh mata memandang dipenuhi hamparan tegalan, kebun, perbukitan dan rawa seluas 180 hektare itu didesain ulang hingga mencitrakan kampung wisata nan eksotik. Rumah warisan orangtuanya, ia sulap menjadi Museum Tani Indonesia—satu-satunya museum di Klaten yang ia bangun dengan modal sendiri.

Ia juga menggarap home stay melalui rumah-rumah penduduk, menata infrastruktur praktik bertani, outbond di alam desa, memancing, upacara tradisi, festival tani serta upacara tradisi. Selain itu, ia juga membikin konsep agar wisatawan bisa terlibat langsung dalam berbagai permainan tradisional, tari-tarian, membaca di perpustakaan tani, serta memetik buah langsung dari pohon. “Setidaknya ada 25 kegiatan yang kami himpun dalam desa wisata ini. Semua itu di-sengkuyung oleh warga dan hasilnya juga dinikmati oleh warga,” urainya.

Tanah, di mata pakar geografi jebolan UGM ini bukanlah sesuatu yang sekadar menyimpan kekayaan alam. Namun, aneka budaya, pranata sosial beserta kearifan lokalnya juga tumbuh dan berkembang di sana. Itulah sebabnya, Suratman tak ingin membangun desa wisata hanya bertumpu pada potensi alam. Namun, harus dibangun berdasarkan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal. “Alam ini hanya mampu memenuhi kebutuhan manusia, tapi tak akan pernah mampu memenuhi kerakusan manusia. Kedepannya nanti, warga juga akan dilatih mengolah kotoran ternak untuk biogas,” kata dia mengutip ungkapan Mahatma Gandhi.

Alhasil, tanah peninggalan orangtuanya seluas dua haktare itu ia wakafkan demi terwujudnya museum pertanian. Sisa lahan di sampingnya, ia bangun taman bacaan, panggung mini untuk pentas budaya, serta budidaya ternak yang melibatkan warga setempat.

Warga di sekitarnya pun lantas membikin penangkaran burung Jalak Uren, beternak bebek, kambing, sapi, burung puyuh, hingga pembibitan aneka tanaman. Dia juga menggerakkan warga untuk bersama-sama merekayasa setiap jengkal tanah agar mampu mendatangkan manfaat. Bahkan, selokan sekali pun bagi Suratman jangan sampai disia-siakan. Sebab, masih bisa untuk budidaya lele atau diolah agar ramah tetap lingkungan.

Salah satu kisah kesuksesan yang dirasakan warga Krakitan sejak dua tahun terakhir ialah berkembangnya budidaya burung Jalak Uren—mamalia dengan kemampuan bersuara 32 jenis. Hewan yang tergolong langka itu rupanya mampu mendongkrak penghasilan warga rata-rata Rp 2 juta per bulan. Gara-gara Jalak Uren ini pula, warga meraih penghargaan di bidang lingkungan dari pusat Penyuluhan Kehutanan Jakarta sekitar dua bulan lalu.

Begitulah kiprah Suratman. Ketika kebanyakan profesor “bertapa” di menara gading, Suratman justru turun gunung. Ia memilih kembali ke desa tempat dia dilahirkan untuk memperkuat jati diri desa. Ia menjadi pioner yang mampu menggali dan merangkum segala kemungkinan potensi desa yang ada.

Nama : Prof Dr Suratman Worosuprojo MSc

Lahir : Klaten, 6 Juni 1954

Istri : Siti Subekti Handayani

Anak : Sari Darmasiwi, Herlan Darmawan, Yoga Darmajati

Pekerjaan

Staf Pengajar Jurusan Geografi Fisik, Fakultas Geografi UGM (1980 – sekarang)

Pendidikan

SD Negeri Djimbung Klaten, lulus 1966

SMP Negeri 1 Klaten, lulus 1969

SMA Negeri 2 Klaten, lulus 1972

Sarjana Muda Geografi UGM, Jurusan Geomorfologi, lulus 1976

Sarjana Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), lulus 1980

Diploma Bidang Survei Geomorfologi di ITC, Enschede, Netherlands, 1984-1985

Strata 2 Bidang Survei Geomorfologi Terapan Di ITC, Enschede, Netherlands, 1986-1988

Srata 3 Bidang Geografi di UGM, lulus 2002

Organisasi

1. Anggota IGCP Untuk Kelompok “ Soil Formation In Karst Areas”

2. Anggota Masyarakat Konservasi Tanah Dan Air Indonesia (MKTI)

3. Anggota Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN)

4. Kepanitiaan Lustrum VI Fakultas Geografi UGM, 1993

5. Organizing Committee Dalam International Conference On Geography In The ASEAN Region, 1992

6. Panitia Pengelenggara Kursus Evaluasi Sumberdaya Lahan (ESL) di Fakultas Geografi UGM, 1992 dan 1993

7. Tim Dosen Pendamping Dan Pembimbing BPM dan SEMA Fakultas Geografi UGM, 1992

8. Bendahara Pengurus Pusat Ikatan Geografi Indonesia (IGI), 1998-2002

9. Sekretaris Pusat Ikatan Geografi Indonesia (IGI), 2002-2006. – Oleh : Aries Susanto

Prihatin dengan nasib petani

Bicara soal pertanian, Suratman selalu gundah. Bukan saja akan kondisi tanamannya, namun juga nasib petaninya yang tak pernah mujur.

Padahal, di negara-negara yang pernah dia kunjungi, nasib petani jauh lebih makmur ketimbang para pengusaha. “Di negara kita, beras saja impor. Padahal, negara kita kan negara agraris. Ini, pasti ada yang salah dalam kebijakan negara kita,” katanya.

Di sisi lain, petani juga selalu dihadapkan pada pilihan yang pahit. Karena keterbatasan pengetahuan tentang pertanian, mereka hanya bercocok tanam semampunya. Penggunaan pestisida yang tak terkontrol juga kian menimbulkan ketergantungan yang berlebihan. “Inilah pentingnya membangun pengetahuan dasar pertanian yang terpadu. Melalui pemutaran film, buku-buku, serta aneka eksperimen di laboratorium pertanian. Tujuannya, agar petani bisa maju,” paparnya.

Upaya membangun kesadaran itu tentu saja harus selaras dengan membangun karakter masyarakatnya. Warga, kata dia, juga harus dibangun melalui budaya, kesenian, serta pendidikan yang memadai. Warga harus mulai diajak mencintai desa, mencintai kekayaan lokal, dan sadar akan pentingnya hidup menyatu dengan alam.

“Inilah kenapa, saya tampilkan menu hasil bumi yang diolah secara alami, aneka kesenian rakyat, nilai-nilai kearifan lokal, serta pemanfaatan lingkungan ramah lingkungan,” terangnya.

Wajarlah, jika kemudian Suratman terus mengampanyekan transportasi yang menyehatkan, seperti membiasakan mengayuh sepeda atau memanfaatkan transportasi andong. “Suasana seperti ini, tak akan pernah ditemui di kota yang penuh polusi, saling berkejaran, dan tak ramah.”

 

Sunudi
Modifikator potensi desa

Kedatangan Suratman ke tengah-tengah masyarakat Krakitan Bayat bak oase yang menambah mata air kehidupan.

Hal itulah yang dirasakan betul oleh Sunudi, Kepala Desa Krakitan Bayat. Sunudi mengandaikan bahwa tanpa Suratman, bisa jadi banyak potensi desa yang tak tergali.

Apalagi, warga Krakitan telah terbiasa pasrah bercocok tanam dengan kondisi alam yang terhampar itu. Namum, kedatangan Suratman mampu membuat cara bercocok tanam warga terus dikembangkan hingga mampu menjadi potensi wisata.

Begitu pula soal budidaya aneka ternak warga. Di mata Suratman, aneka budidaya itu menjadi lebih kreatif dan lebih efisien. “Jadi, Pak Suratman itu adalah sang perangkum dan pemodifikasi potensi yang ada. Dari sana, ditemukan potensi-potensi baru lainnya,” katanya.

Dalam hal kesenian dan budaya, Suratman juga tak hanya mencoba melestarikannya, namun juga memformat kesenian sehingga tampil lebih segar. Sebut saja kiprahnya dalam melestarikan tradisi musik lesung, upacara pertanian, atau aneka dolanan anak-anak. Lewat rumus-rumusnya ia mampu memikat dan mendorong warga di desanya kian betah dan mencintai tradisi warisan leluhurnya itu. “Ya salah satunya dengan menambah daftar bacaan tentang kesenian tradisional, mengenalkan aneka peralatan tradisional, hingga menampilkan budaya dalam pementasan kecil-kecilan,” paparnya.

 

Sugiyanto
Rajin puasa Senin-Kamis

Suratman kecil sebenarnya tak jauh berbeda dengan kawan-kawan lainnya.

Ia tak begitu menonjol dalam pelajaran sekolahnya. Pun demikian dalam hal kemampuan secara umum. “Namun, Suratman itu orangnya suka prihatin dan rajin puasa Senin-Kamis,” kata Sugiyanto, saudara satu trah dengan Suratman.

Jika malam hari, terang Sugiyanto, Suratman biasanya jalan-jalan sendirian di sekitar Rawa Jombor di desanya. Kadang, Sugityanto pun turut menemani Suratman jalan-jalan. “Hingga sekarang pun, Suratman itu masih terbiasa laku prihatin, biasa puasa Senin-Kamis,” tukasnya.

Mungkin karena laku prihatin itulah, kata Sugiyanto, Suratman menjadi lebih matang dalam hal kedewasaan dibanding rekan-rekannya yang lain. Ia menjadi lebih tekun, lebih sabar, dan lebih bisa menerima keadaan apa adanya. “Makanya, meski ia telah menjadi orang sukses dan pernah berlabuh ke berbagai negara maju, pola hidupnya tetap tak berubah seperti kecilnya yang sederhana itu,” urainya.

Begitupun dalam hal makanan, di mata Sugiyanto, Suratman adalah tipikal orang yang tak neka-neka. Meski tersaji berbagai menu hidangan mewah, Suratman selalu memilih makanan dari hasil bumi langsung yang diolah secara alami. Mungkin dia meyakini betapa tanaman yang tumbuh dari tanah ini sebenarnya menyimpan rahasia yang sanggup menjaga dan menyeimbangkan metabolisme tubuh manusia. “Kalau makan jagung, kacang tanah, atau ketela pendem, ya yang direbus langsung bersama kulitnya.”

 

Ditangkap aparat gara-gara membawa sabit

Museum Pertanian Indonesia itu tidak dibangun dalam sekejap mata.

Melainkan, melalui perjalanan panjang nan berliku. Pertengahan tahun 2005, ketika Suratman nekat berburu alat pertanian tradisional di Poso Sulawesi Tengah, dia nyaris celaka. Bahkan, membuat dadanya nyaris tertembus peluru.

Pasalnya, maksud hati mencari bangku-sejenis alat pertanian tradisional berwujud sabit milik Suku Bare, ia justru dituduh membunuh seorang warga Poso yang terlibat konflik horizontal. Alhasil, Suratman malah meringkuk di pos keamanan semalaman. “Soalnya saat digeledah, petugas menemukan sabit Suku Bare yang rencananya untuk koleksi saya di museum,” kenangnya.

Beruntung, salah seorang temannya di Poso berhasil meyakinkan petugas bahwa Suratman adalah seorang kolektor barang pertanian. Cerita mendebarkan itu rupanya juga pernah ia alami saat berburu koleksi alat pembuat makanan tradisional di daerah Manokwari Papua Barat. Di sana, ia sungguh tertantang.

Bagaimana tidak? Ia harus menembus pedalaman hutan tempat tinggal warga Manokwari yang juga menjadi habitat nyamuk malaria nan mematikan. Namun, demi memuaskan rasa penasarannya akan strategi suku Manokwari dalam memertahankan hidup, Suratman pun rela masuk ke rimba raya hutan itu. “Awalnya khawatir juga. Tapi, demi koleksi museum, ya nekat,” kenangnya.

Tak hanya di Nusantara, demi mengobati kehausannya akan pengetahuan pertanian Suratman juga rela menjelajah mancanegara. Negara-negara yang pernah ia singgahi antara lain Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan juga Thailand. “Di sana, saya juga belajar cara bercocok tanam petani,” terangnya. – Oleh : asa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s