Langgeng Sulistiyono tetap rakyat biasa

Posted on

Pangkatnya yang mayor jenderal dan jabatannya yang panglima komando daerah militer tak menghalangi Langgeng Sulistiyono senantiasa mengedepankan tepa selira.

Saat hendak pulang kampung ke Muntilan bersama keluarga besarnya, Lebaran lalu, dia justru memilih berbagi jalan dengan para pemudik lain meskipun konsekuensinya berlama-lama terjebak kemacetan.

”Saya kumpulkan dulu adik-adik saya. Saya tanya kepada adik-adik saya, ‘Saya sekarang Pangdam. Itu di depan ada mobil Pom akan mengawal kita. Adik-adik sebagai rakyat tidak usah malu-malu sama Mas, ini kita demokratis. Kita mau Lebaran di kampung sana, jalanan macet, perlu enggak nguing-nguing?” papar Langgeng menirukan percakapan mereka, kala itu.

Anaknyalah yang menurut Langgeng paling dulu menjawab, “Enggak usah Pak. Enggak penting. Karena ini keperluan pribadi!”

“Itu satu. Yang lain bagaimana?”

”Enggak usah Mas!” lanjut Langgeng menirukan penegasan salah seorang adiknya.

”Oke, ini suara rakyat. Maka kesimpulannya, ’Ajudan, kasih tahu mobil Pom, pulang. Terima kasih. Enggak usah dikawal.’ Saya ya melu untek-untekan. Ya macet tenan (Ya ikut berdesak-desakan. Benar-benar macet). Wong jalannya macet, ya melu kena macet (ya ikut terjebak kemacetan),” sambung Langgeng mengucapkan kembali instruksi kepada ajudannya, pagi itu.

Alhasil Langgeng terpaksa datang terlambat di kampung halaman. ”Ya saya minta maaf. Kalau bawa pengawal mungkin cepat, tetapi kan tidak mengedepankan tepa selira,” tuturnya.

Hidup susah

Langgeng Sulistiyono kenyang pahit dan getir hidup susah. Keterbatasan finansial sebagai cucu seorang penjahit dan anak seorang prajurit, membuat dia enggan jauh dari pola kehidupan rakyat kebanyakan. Sikap itu bahkan terpatri dalam benaknya hingga kini, saat dia menjadi pucuk pimpinan Kodam IV/Diponegoro, salah satu Kodam tua yang kerap menjadi persinggahan para perwira tinggi sebelum mengemban amanat menjadi pucuk pimpinan TNI.

”Bapak saya kan dari tamtama, jadi setinggi-tingginya kapten. Tidak ada wawasan dalam mendidik orang. Apalagi anak banyak, keluarga besar, tujuh bersaudara tapi yang satu meninggal dunia. Saya paling tua, sulung. Ya pasti yang paling menderita karena ketiban langsung apabila orangtua berhalangan,” papar suami Khairani, putri Aceh yang disuntingnya kala enam tahun dia mengemban tugas sebagai Komandan Peleton Zeni Tempur di Banda Aceh.

Kondisi itu, menurut Langgeng, membuatnya tak punya orientasi jelas dalam urusan sekolah. Bahkan kala belia dulu, dia mengaku bingung menjawab saat ditanya soal cita-cita. ”Sepertinya saya ndak ada cita-cita. Saya hanya berjalan hidup, bekerja. Apa yang saya hadapi, saya kerjakan dengan baik,” ujar dia soal sifat nrima ing pandum-nya.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit itu, mendorong Langgeng berpikir rasional. Dia memilih masuk Akabri setelah lulus dari Jurusan Kimia Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) Jogja. ”Kalau saya kuliah pasti Bapak saya tidak mampu. Kalau jadi tentara kan dibiayai negara. Kemudian saya bekerja jadi tentara, paling tidak saya neruskan bapak saya,” papar dia.

Lagi pula, sejak diam-diam mencoba baju seragam ayahandanya, Langgeng merasa patut tampil berseragam tentara. Disiplin yang ditanamkan ayahandanya kepada Langgeng kecil pun menjadi modal menempa diri di Akabri. ”Rambut saya bros terus selama di sekolah. Lah orang miskin, bapaknya tentara, pasti rambut panjang langsung dipangkas. Tapi maksudnya baik juga. Tertib dan disiplin itu bisa jadi modal,” tuturnya.

Pengalaman hidup yang getir di masa kecil juga membuat Langgeng akrab dengan rasa syukur dan sikap ikhlas. Bahkan setelah masa depannya berubah terang-benderang setamat Akabri pada tahun 1980. ”Selalu Alhamdulillah. Ketika letnan sudah lewat, Alhamdulillah. Kapten lewat, Alhamdulillah lagi. Mayor terus begitu, sampai ke atasnya lagi. Apa yang terbaik dari Tuhan saya terima. Saya yakin Tuhan sudah menentukan jalan hidup saya, saya terus saja bekerja.”

Itu pula pasalnya, Langgeng mengaku tidak mau memelihara ambisi, menghindari sikut-sikutan. Bahkan kala dipercaya menjadi Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro, dia justru minta panglimanya waktu itu, Mayor Jenderal TNI Darpito Pudyastungkoro, segera menggantinya apabila ia dinilai tak becus dalam bekerja. Maklum saja, kala itu, pangkat Langgeng masih kolonel sehingga promosi tersebut sempat menjadi bahan pergunjingan banyak kalangan. ”Kasdam itu mesti Brigjen. Lah ini kok kolonel,” aku Langgeng.

Pilih Solo

Dalam perkara pangkat dan jabatan, Langgeng kerap mencatatkan prestasi mengejutkan. Padahal kalau sebagian kalangan kerap menghubung-hubungkan mulusnya karier militer seseorang dengan koneksi, Langgeng tak punya itu. Maka, sejak lulus Akabri, dia melanglang Nusantara, dari Aceh sampai Papua. Tawaran memilih wilayah tugas, baru ditujukan kepadanya setelah rampung bertugas sebagai Koordinator Sekretaris Pribadi KSAD Endriartono Sutarto.

”Saya pilih Korem Solo. Langsung ditanya, ’Mau cari apa kamu di Solo?’ Saya bilang mau istirahat sedikit. Karena rumah di Jogja, sehingga kalau malam Sabtu bisa pulang,” kisahnya.

Nyatanya bukan Solo yang dia dapatkan, tetapi Jogja sebagai Danrem 072/Pamungkas. Markas itu telah menelurkan sederet nama besar, seperti mantan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lompatan karier militer yang mengejutkan bukan hanya dicatatkannya saat menjabat sebagai Kasdam yang berpangkat kolonel. Setelah mendampingi tiga Pangdam, Langgeng langsung dipromosikan menggantikan mereka. Itu tak biasa. Biasanya, Pangdam IV/Diponegoro telah berpengalaman menjadi panglima di Kodam lain. Berdasarkan catatan sejarah, baru Bibit Waluyo yang kini Gubernur Jateng dan Langgeng yang langsung menjabat sebagai Pangdam IV/Diponegoro setelah mengabdi sebagai Kasdam di Kodam sepuh ini. – Oleh : Danie H Soe’oed, Rahmat Wibisono, Fetty Permatasari

Sampai mayor masih dimarahi kapten

Dibesarkan di tengah keterbatasan finansial tak membuat Langgeng meremehkan jerih payah orangtuanya.

Sebaliknya, dia sangat menghormati mereka. Keinginan mengabdi kepada negara lewat jalur militer, bahkan tak bisa dipisahkan dari pola pendidikan yang diterapkan ayahandanya.

”Kalau pangkat memang lewat. Tapi beliau kan kapten dari masa perjuangan. Lagi pula bapak saya dimakamkan di makam pahlawan, saya mungkin di makam biasa,” kata Langgeng tanpa menutupi rasa bangga saat berkisah tentang orangtuanya.

Tumbuh di barak—mulai dari Benteng Vadenburg yang waktu itu masih jadi asrama tentara hingga Asrama Militer Demakijo—serta didikan ayahandanya yang penuh kedisiplinan memang jadi faktor dominan pembentuk kepribadian Langgeng. ”Karena itu setiap saya naik pangkat satu tingkat, saya langsung berpakaian dinas ke makam pahlawan. Saya hormat ke pusara ayah, lapor ke ayah, saya naik pangkat lagi,” ujar Langgeng seraya mengangkat tangan, menghormat ala militer.

Upacara sederhana itu rutin dia lakukan setelah sang ayah meninggal dunia tahun 1996. Waktu itu, Langgeng tengah mengemban tugas sebagai Danden Intel di Papua, sudah perwira, melampaui ayahnya yang purnatugas dengan pangkat terakhir kapten. ”Tapi sampai mayor, saya masih dimarahi kapten,” tukas Langgeng dengan tawa terkembang.

Kala dia meraih pangkat mayor, ayahandanya yang berpangkat kapten belum pensiun. ”Apa iku, nukoni sing-sing. Ra usah! Ditabung duwit-nya!” seru Langgeng mencontohkan omelan ayahandanya.

Reformasi TNI

Sebagai anak tentara yang tumbuh di barak tamtama, Langgeng kafah dengan pola kehidupan anak buahnya. ”Hidup saya memang melalui jalan yang berliku-liku, berbatu-batu, panas dan sebagainya. Jadi sekarang tahu bagaimana rasanya jadi prajurit yang harus tidur di tempat tidur tumpuk.”

Maka tak mengherankan pula jika setelah menjabat sebagai Pangdam, Langgeng mudah memahami isi hati personel di jajarannya. Jitu memberikan petunjuk dan nasihat kepada mereka. ”Kepada anggota saya, saya bilang jangan mengatakan Anda sengsara sebab dari dulu sudah ada keadaan seperti ini. Bahkan gaji tentara sekarang sudah jauh lebih besar daripada tentara dulu,” tuturnya.

Karena tumbuh di lingkungan militer, Langgeng juga mafhum tuntutan masyarakat agar TNI mereformasi diri. Jika dulu tentara disegani masyarakat —bahkan ditakuti— karena berperan di garis depan peperangan, kini tentara tak bisa lagi bersikap sama.

“Karena militer merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, militer merasa aku yang paling tahu. Kepada elemen masyarakat lain seolah-olah mengatakan, ’kowe durung lair.’ Dalam perkembangan selanjutnya, ibarat anak-anak, mereka jadi sebaya, terutama di tataran kepemimpinannya. Kesetaraan militer dan sipil itu kini semakin terasa. Sekarang mungkin sikap militer yang seperti itu masih sedikit bersisa, tetapi sudah semakin tidak superior,” yakinnya. – Oleh :

Tak pernah sabar menunggu golf berakhir

Hukum relativitas rupanya berlaku kala Langgeng Sulistiyono bermain golf.

Sebab bukan hanya menunggu yang menjemukan, tetapi aktivitas apapun kala dilakukan tanpa sungguh-sungguh menikmati maka buntutnya adalah waktu yang terasa berlangsung kelewat lambat.

“Setiap kali main golf, saya justru selalu terus bertanya-tanya masih lama enggak ya? Kalau ikut turnamen, waduh masih berapa hole lagi? Jadi rasanya, aku sudah kelamaan di sini,” papar Pangdam yang ditemui Espos di Ruang Kerjanya di Kodam IV/Diponegoro, Watugong, Semarang, Kamis (22/9).

Bagi ayahanda Yuni Wahyu Rahmawati dan Sigit Kartiko Putro ini, empat hingga lima jam di lapangan golf adalah waktu yang terbuang sia-sia. Bercanda bersama anak-anak atau menonton televisi di rumah lebih mampu membuatnya kembali fresh. “Kalau istirahat ya istirahat. Kalau Sabtu-Minggu, kalau tidak di rumah, ya paling jalan-jalan ke pasar burung lihat burung-burung berkicau.”

Burung-burung berkicau, ayam berkokok, ikan-ikan yang berenang di kolam dan tanaman yang tumbuh subur diakui Langgeng amat menghibur hatinya. “Saya hobi adu ayam tapi enggak taruhan. Senang tanaman tapi enggak sempat bercocok tanam. Menikmati tanaman yang hijau ranum. Apapun pohonnya, semerbak daun yang muda terasa menyehatkan. Segar sekali. Ayem-tentrem jadinya,” ujar lelaki kelahiran Petinggen, Jogja ini.

Murid paling bagus yang suka mesem

Semua bermula pada April 2006. Siang itu, tiba-tiba rumah Saidi, 67, guru Langgeng Sulistiyono di bangku SD didatangi dua personel TNI dari Koramil Sendangsari. Saidi bingung.

Tetapi rupanya dua personel TNI tersebut membawa kabar gembira lantaran mantan siswanya yang telah menjadi Danrem 072/Pamungkas Yogyakarta akan berkunjung. “Saat itu, dua personel tentara tadi juga meminta foto saya,” kenangnya saat dijumpai Espos di rumahnya Parakan Kulon RT 7/RW XX, Sendangsari, Minggir Sleman, Sabtu (2/10).

Sekitar dua pekan kemudian, kata Saidi, sekitar 30-an orang personel TNI datang ke rumahnya. Beberapa di antara mereka menurunkan seperangkat meja kursi tamu dari truk besar TNI dan ada seorang tentara membawa fotonya yang dibingkai berukuran 30 cm x 20 cm. “Karena rumah terlihat penuh oleh pasukan TNI, sampai-sampai tetangga mengira kalau saya ini kena ciduk,” ujar ayah satu anak ini.

Ketika Saidi berdiri di pintu untuk menyambut semua tamu, tiba-tiba sesosok tegap yang tak lain Langgeng Sulistyono, menghampirinya dan memeluknya erat.

Dari perjumpaan mengesankan itu, Saidi pun menjadi tahu banyak kiprah Langgeng. Ia pun jadi tahu kalau Langgeng mengerahkan sejumlah anak buahnya untuk mencari rumahnya itu. Namun, ia masih belum juga tahu mengapa Langgeng begitu terkesan padanya. Karena Saidi merasa tak pernah memerlakukan siswanya itu secara istimewa. Hanya, saat perpisahan di Kelas VI SDN Demakijo 2 di Kaliurang, Saidi pernah menggendong Langgeng karena Langgeng pingsan. “Kalau melihat sekarang saya sulit menggambarkan perasaan. Yang jelas dulu Langgeng murid saya yang paling bagus, cerdas dan murah senyum. Suka mesem,” ujarnya.

Dik Yono penggemar lodeh terong

Sebagai sesama anak yang tinggal di asrama TNI Demakijo, pada 1960-an, Sri Hastuti, 55, mafhum betul tingkah polah Langgeng Sulistiyono kecil.

Apalagi rumah yang ditempati keluarga Sri Hastuti persis bersebelahan dengan rumah yang ditempati keluarga Langgeng.

Dengan kondisi demikian, tak mengherankan jika kala itu Langgeng akrab dengan keluarga Sri. Bahkan keakraban itu masih terjalin hingga kini. Saat pelantikan Langgeng menjadi Pangdam misalnya. Sri dan keluarganya pun diminta hadir.

Saat berkunjung ke Jogja, Langgeng juga selalu menyempatkan bertandang ke rumah Sri. “Dulu kalau pas makan bareng Dik Yono paling suka sayur lodeh terong,” ujar Sri saat dijumpai Espos di Modinan RT1/RW XX, Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (28/9).

Sri memang memanggil Langgeng dengan sapaan akrab Dik Yono. Maklum, nama kecil Langgeng Sulistiyono, menurut dia hanyalah Sulistiyono. Nama itu ditambah kata “Langgeng” setelah ada kejadian tak terlupakan bagi mereka.

Kala itu, Langgeng masih duduk di Kelas II SD. Lazimnya anak-anak kecil yang suka bermain kejar-kejaran. Sampai kemudian saat akan menyeberang jalan raya, Langgeng tertabrak truk.

Warga setempat heboh, keluarganya panik. Beruntung, Langgeng ternyata masuk ke kolong truk dan hanya mengalami luka benjolan di kepala. “Sejak itulah lantas namanya ditambahi Langgeng,” ungkap Sri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s