Tempaan Keras yang Menuai Kesuksesan

Posted on

Minggu, 29/11/2009 11:00 WIB – Dwi Hastuti

Kisah perjuangan hidup seorang anak kecil yang bernama Lintang dalam film Laskar Pelangi yang disutradarai oleh Andrea Hirata memang banyak mengundang simpati banyak orang.
Tak terbayang kisah yang dialami oleh Lintang tersebut juga pernah dialami oleh orang nomor satu di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bambang Setiaji.
Perjalanan Bambang di waktu kecilnya tak jauh beda dengan apa yang ada di dalam film yang menjadi box office tersebut. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), putra kedua dari pasangan almarhum Harsono dan Tentrem ini sudah terbiasa hidup dengan penuh keprihatinan.
“Karena saudara saya itu delapan, jadi segala sesuatu harus dibagi rata. Sehingga kalau waktu makan tidak boleh nambah nasi karena kalau nambah, saudara lain tidak kebagian,” ungkap Bambang Setiaji saat ditemui Joglosemar di ruang kerjanya beberapa waktu yang lalu.
Meskipun demikian, tak membuat Bambang untuk patah semangat atau memberontak akan kondisinya terhadap orangtuanya. Dirinya tetap menjalani hari-harinya dengan membantu orangtua dan menempuh bangku pendidikan.
Perjalanan hidup Bambang dalam mengenyam bangku pendidikan tidak semulus yang kita bayangkan. Menginjak bangku SMA, Bambang harus menuju ke kota untuk bersekolah. Hal itu disebabkan daerah tempat tinggal di Tulaan, Pacitan tidak terdapat SMA.
Lalu Bambang harus ke Pacitan untuk menimba ilmu. Jarak antara rumah Bambang dan SMA relatif jauh yaitu 25 kilometer. Dalam menempuh jarak tersebut, Bambang menjalaninya dengan jalan kaki, bahkan medan naik turun pun sudah menjadi makanan setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan bukan karena tidak adanya kendaraan umum, namun karena tidak tersedianya uang untuk naik kendaraan.
“Jatah dari orangtua hanya cukup untuk makan saja, sehingga untuk naik kendaraan tidak ada jatah uang, jadi ya harus berjalan demi kelangsungan hidup,” imbuh bapak enam putra itu.
Tempaan keras dalam kehidupannya membuat Bambang semakin semangat dalam menjalani hari-hari kedepannya. Karier Bambang mulai gemilang sejak dirinya diterima menjadi dosen di UMS pada tahun 1984. Mulai dari situlah kariernya mulai naik tahab demi tahab.
“Saya memulai karier dari bawah. Dan semuanya keberhasilan tersebut saya dapatkan melalui usaha dan tempaan hidup yang cukup keras,” terang lelaki yang berasal dari kota Seribu Gua tersebut.
Dua Kali Kepemimpinan
Apa yang telah diraih tersebut tidak semata-mata karena kebetulan. Namun berkah keprihatinan, usaha serta berbagai prestasi yang dapat membuatnya menjadi sosok teladan.
Apa yang dilakukan oleh Bambang Setiaji tak hanya sekadar teori. Karena apa yang telah ia lakukan untuk dunia pendidikan pun mendapat apresiasi dari publik. Buktinya, Bambang diserahi tugas untuk menjabat kembali sebagai rektor di UMS untuk periode kedua.
“Kalau tidak dipercaya, pasti saya juga tidak dapat mengemban amanah ini lagi,” imbuhnya.
Berbagai kebijakan telah dibuatnya, salah satunya yaitu membuat peraturan akan kejelasan mengenai pensiun karyawan dengan baik.
“Sehingga bagi mereka yang tidak berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka untuk pensiun saya samakan dengan aturan PNS, yaitu pada usia 56 tahun serta untuk dosen ada yang 60 tahun dan 65 tahun tergantung pada pangkatnya,” ungkapnya.
Dari kebijakan tersebut membuat nasib para karyawan juga semakin jelas, karena para karyawan tersebut berstatus sebagai karyawan Muhammadiyah bukan berstatus sebagai PNS.
Berbagai tantangan silih berganti, namun amanah menjadi motivasi seorang lelaki berkacamata tersebut untuk terus maju dan maju. Terlebih saat ini dia harus menyiapkan UMS menuju World Class University.
Meski menurutnya sudah memberikan kepemimpinan yang terbaik, namun tetap saja masih terdapat kritik-kritik yang ditujukan kepada dirinya. Akan tetapi Bambang menanggapi kritikan tersebut dengan positif.
“Dengan kritik tersebut berarti orang yang mengkritik tersebut memperhatikan kita. Selain itu, saya menjadikan kritikan tersebut sebagai bahan untuk instropeksi diri,” tambahnya.
Terlebih yang dipimpim Bambang tidak hanya karyawan dan dosen, namun juga ribuan mahasiswa. Sehingga jika harus membuat kebijakan, maka sebisa mungkin kebijakan tersebut dapat diterima oleh semua kalangan.
“Kalau membuat kebijakan itu tidak sesuai, maka didemo oleh mahasiswa,” terangnya.
Untuk ke depannya, Bambang ingin terus menjadi sosok yang ingin lebih dekat dengan semua elemen masyarakat. Tidak hanya dikalangan akademisi saja, namun juga semua kalangan.
“Saya usahakan untuk tidak menutup diri untuk selalu membuka diri dengan siapa saja. Baik itu di kalangan akademisi maupun masyarakat umum,” tutur Bambang. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s