Resep Sukses ala Sumartono

Posted on Updated on

Minggu, 17/01/2010 11:00 WIB – Dwi Hastuti

Ketika melihat sosok keturunan etnis Tionghoa, anggapan yang muncul hanya kata sukses, khususnya di sektor usaha dan bisnis. Namun, ketika menilik lebih dekat, Anda senantiasa terkejut, karena kesuksesan yang mereka dapat benar-benar dari nol.
Salah satu pengusaha berdarah Tionghoa yang cukup terkenal di Solo adalah Sumartono Hadinoto. Dia dikenal sebagai pengusaha aluminium dan kaca arsitektur yang besar di Solo. Namun ketika ditanya soal kesuksesannya, dia menyatakan, semunya tak datang secara tiba-tiba, namun butuh proses panjang. Proses itu justru menjadi kebanggan tersendiri ketimbang hasil yang diraih saat ini. Proses dari kerja keras itulah yang dia tawarkan sebagai resep untuk meraih kesuksesan.
Proses panjang yang mengantarkannya sebagai orang besar dia ceritakan mulai dari awal. Di usia remaja, putra kedua dari Winarso Hadinoto dan Kusmartati mengaku pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya.
Hasrat Sumartono di kala remaja cukup fantastis, dia ingin bersekolah ke luar negeri. Kala itu dia baru menikmati pendidikan di bangku SMP. Sayang, harapan itu pupus, ketika satu-satunya harapan keluarganya, yakni sang ayah, meninggal dunia.
Sejak itulah masa-masa sulit dia lewati. ”Waktu ayah meninggal, memang putus sudah harapan saya untuk melanjutkan sekolah,” kenang Sumartono.
Untuk bertahan hidup, Sumartono dituntut untuk bekerja. Seperti menjadi ciri khas orang etnis Tionghoa, pilihan pertama yang ditempuh Sumartono adalah jalur usaha atau bisnis. Awal mula, dia ikut menangani bisnis yang dirintis sang ibu dengan membuka usaha batik. Usaha pertamanya itu tak berumur panjang, karena terlalu berat hambatannya.
Seperti merasa habis-habisan, Sumartono pun terpaksa bekerja di toko milik orang lain. ”Itu saya jalani sekitar tahun 1980. saya harus bekerja di toko orang, cukup lama juga, sekitar lima tahun. Kebetulan saya sudah lulus SMA kala itu,” tuturnya.
Dari hasil kerjanya, Sumartono berhasil mengumpulkan modal untuk kembali membuka usahanya secara mandiri. Niat itu tak lepas dari permintaan sang ibu. ”Saat itu saya mau menikah, ibu meminta saya buka usaha pakai modal seadanya,” kata dia.
Awal Kesuksesan
Secercah harapan yang mengantarkannya ke gerbang kesuksesan mulai tampak, ketika ada seorang temannya yang menawarkan padanya untuk melanjutkan bisnis alumunium. ”Saya ditawari meneruskannya, karena teman saya ingin pergi ke luar negeri. Akhirnya saya kelola bisnis itu, hingga sekarang,” paparnya.
Keberuntungan pun berpihak pada Sumartono. Dari bisnis alumunium yang dikelolanya, kini menjadi besar. Awalnya, dia hanya memilki dua staf dan lima pegawai, namun kini usahanya berhasil menampung hingga 100 orang pegawai.
Kesuksesan bisnis alumuniumnya, kembali diuji dengan musibah yang lebih dahsyat. Tepatnya, pada bulan Mei 1998, di mana dia dan keluarganya menjadi korban kerusuhan. Harta benda di rumah dan tempat usahanya dijarah massa. Sementara, dia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke tetangganya untuk menyelamatkan diri. ”Semua tetangga saya ini baik-baik, sehingga waktu saya ditimpa musibah pun pada menolong saya,” ujarnya.
Dampak kerusuhan Mei menyisakan trauma hebat padanya. Setidaknya Sumartono butuh waktu satu setengah tahun untuk menjalani perawatan pada seorang psikiater. ”Memang peristiwa Mei 1998 tersebut membuat saya syok, namun saya harus tetap bangkit,” tegasnya.
Hebatnya, rasa trauma itu tak membuatnya lemah. Meski bisnisnya porak-poranda, dia tidak memulangkan para pegawainya. Namun, Sumartono bangkit merangkul semua pegawainya untuk memulihkan usahanya tersebut. ”Dulu, mereka membantu saya hingga usaha saya menjadi besar. Maka, sebisa mungkin saya tetap menghargai jasa para karyawan saya dengan tidak memulangkannya,” pungkasnya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s