Lewatkan Peluang PNS, Sukses Jadi Jutawan

Posted on

Minggu, 20/12/2009 11:00 WIB – Dwi Hastuti

Tampan, terkenal dan hidup mewah sebagai jutawan. Begitu sekilas gambaran kehidupan dari Gunawan Kurnia Pribadi, pengusaha batik ”Gunawan Design” Laweyan, Solo. Bagaimana kehidupan yang nyaris sempurna itu dia raih? Dengan santainya dia berpesan, ”Jangan jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)”.
Pesan yang sulit diterima kawula anak muda saat ini. Karena, hampir setiap ada peluang untuk jadi PNS, ratusan bahkan ribuan orang tentu tak akan melewatkan kesempatan menjadi abdi negara itu, meski peluangnya sangat kecil. Namun, pesan itulah yang memang dijalani Gunawan untuk mengantarkan dirinya ke gerbang kesuksesan saat ini. Padahal, kalau dia mau, kesempatan menjadi PNS, kala itu sangat terbuka lebar, terlebih dia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Meski peluang menjadi PNS kala itu terbuka lebar, toh, Gunawan nekat melewatkan kesempatan itu, karena mempunyai hasrat menjadi orang kaya dengan jalan sebagai pengusaha. Ya, menjadi pengusaha terus terngiang dibenaknya. Hingga berbagai tahap kehidupannya yang disibukkan dengan usaha batiknya mengantarkannya menggapai impiannya, menjadi jutawan.
”Dulu saya sekolah di STAN, di Jakarta. Dulu, kalau STAN itu ada ikatan dinas. Namun saya memutuskan untuk tidak ikut untuk ikatan dinas dan memilih untuk menjadi pengusaha batik,” kenang Gunawan saat ditemui Joglosemar di kediamannya beberapa pekan lalu.
Usaha batik menjadi pilihan kariernya, tak lepas dari latar belakang kehidupannya yang sebagai anak saudagar batik di Solo. Motivasi karier itu kian menggebu karena didukung kondisi lingkungannya, yakni di Kampoeng Batik Laweyan yang menjadi pusat usaha batik.
Meski memilki orangtua yang sukses sebagai saudagar batik, tak membuat Gunawan mudah menggapai kesuksesannya seperti saat ini. ”Kalau hidup di Solo mungkin semua orang tahu, kalau saya merupakan anak pengusaha. Namun berhubung saya waktu kuliah hidup di Jakarta sehingga tidak ada yang tahu, saya berasal dari kelurga seperti apa,” ujarnya.
Bahkan, guncangan ekonomi keluarga, pernah dia rasakan saat kuliah. Kondisi itu membuat naluri berbisnisnya justru tumbuh. Dia saat itu, tak segan-segan berdagang batik di Jakarta untuk membantu memulihkan ekonomi keluarga sekaligus menutup uang kuliahnya. ”Saya tidak malu berjualan, karena di Jakarta tidak ada yang mengenal saya,” guraunya.
Dari Kios Kecil
Gunawan tidak menyangka, dengan kondisi keterpaksaan itu, justru menjadi awal rintisan karier usahanya. Bermula dari berdagang batik, setahun kemudian, Gunawan mulai membangun kios kecil-kecilan di Jakarta.
”Karena saya ingin menekuni dunia usaha, maka saya nekat membuat kios, meski kecil,” kenang pengusaha batik yang tinggal di Setono RT 2/ RW II Kampoeng Batik Laweyan ini.
Dari rintisan usaha batiknya, Gunawan sukses merampungkan studinya di STAN tahun 2002. Namun lagi-lagi, ijazah STAN tak membuatnya terpincut dengan peluang karier sebagai pegawai di instansi pemerintahan. Sejak lulus dari STAN, Gunawan memilih kembali ke Solo untuk mewujudkan mimpinya sebagai pengusaha batik yang sukses.
Setahap demi setahap Gunawan membesarkan bisnisnya. Berbagai hal yang terkait dengan batik di coba, termasuk bisnis bidang desain, mulai dari pengembangan motif hingga dunia fashion.
Perjuangan mengejar impian sebagai pengusaha sukses itu akhirnya mulai membuahkan hasil. Gunawan yang awalnya hanya memiliki sebuah showroom di rumahnya, kini berkembang pesat menjadi sembilan showroom.
”Itu semua saya lakukan supaya keinginan saya menjadi seorang pengusaha dapat tercapai. Kalau saya seenaknya saja maka hasilnya juga akan kurang maksimal,” kata Gunawan.
Alasan lain dia konsisten untuk menjadi pengusaha batik yang sukses, karena tekadnya untuk membantu mengurangi jumlah pengangguran di lingkungannya. ”Sederhana saja, dengan menjadi wisaswasta, saya dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang tidak bekerja untuk dapat bekerja,” pungkasnya. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s