Bos Timlo Maestro yang Siap Memimpin Solo

Posted on Updated on

Minggu, 10/01/2010 11:00 WIB – Dwi Hastuti

Jika Anda ingin belajar politik banyak referensi yang mudah dicari. Namun, jika Anda ingin menjadi salah seorang pengusaha sukses yang akan memimpin sebuah kota seperti Solo, cobalah berguru pada Slamet Subagyo.
Mengapa perlu beguru pada sosok Slamet Subagyo? Sebagai pemilik warung makan Timlo Maestro Solo, banyak cerita unik yang patut menjadi inspirasi seseorang yang ingin maju. Bayangkan saja, sosok yang berangkat hanya dari pelayan warung makan kini dilirik Jaringan Masyarakat Independent Indonesia (JMII) untuk memimpin Kota Solo sebagai calon walikota dari unsur independen.
Bos Timlo Maestro yang murah senyum ini, tak pelit untuk membagikan kisah suksesnya menjadi pemilik warung makan terkenal di Solo. Ditemui Joglosemar di kediamannya, Slamet mulai menceritakan perjuangan hidup dan usahanya hingga sukses seperti saat ini. Siapa yang menyangka, di balik kesuksesannya, Slamet pernah jatuh bangkrut hingga beberapa kali. Namun toh, kini semua orang bisa memandangnya sebagai pengusaha sukses bahkan dia didampuk sebagai salah seorang yang akan memimpin Kota Solo sebagai calon walikota.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) slamet sudah harus hidup dalam keprihatinan, pasalnya, ayahandanya di panggil oleh Sang Kuasa. Bersama adik dan ibundanya, Slamet berjuang berjuang untuk dirinya dan keluarganya hingga mengantarkannya ke bangku perkuliahan. ”Mungkin karena sudah terbiasa mandiri sejak kecil, jadi bisa bertahan hidup sampai sekarang ini,” kenang Slamet.
Untuk mempertahankan hidupnya, Slamet tak segan-segan menjadi pelayan di warung makan Timlo Sastro sembari meneruskan pendidikannya di bangku perkuliahan. ”Kalau untuk makan sehari-hari saya tidak beli, karena dapat dari tempat saya bekerja. Sehingga gaji saya bisa untuk keperluan yang lain,” ujarnya menceritakan awal perjuangannya.
Nasib baik pun berpihak padanya, Slamet akhirnya dijadikan menantu oleh majikannya tempatnya bekerja. Setelah menikah dengan putri dari pemilik Timlo Sastro, akhirnya Slamet memutuskan untuk membuka warung Timlo bersama istrinya. Warung tersebut diberi nama Timlo Maestro. Sayang, usaha Slamet tidak semanis yang diimpikan, justru guncangan usahanya silih berganti menimpanya.
Slamet mengaku, Timlo Maestro yang dirintisnya bersama sang istri pernah hancur berkali-kali. Nama Timlo Maestro baru berkibar, setidaknya setelah lima kali jatuh bangun. Slamet mulai merintis Timlo Maestro pada 15 Juli 1997 di kawasan Stabelan. Baru sekitar setengah tahun berjalan badai pertama menerpanya. Indonesia dilanda krisis moneter sehingga memporak-porandakan kondisi ekonomi rakyat. Slamet terpaksa memindahkan usahanya ke Kartosuro. Di lokasi yang baru, cobaan yang lebih berat justru menghampirinya.
Tiga bulan setelah buka, terjadilah tragedi kerusuhan Mei 1998, tempat usaha miliknya turut menjadi korban. Tak mau menyerah begitu saja, Slamet Subagyo pun berpindah ke daerah Ngasem, Colomadu.
Di tempat yang baru, menantu pendiri Timlo Sastro Pasar Gede ini kembali merangkak dari bawah lagi untuk membangun usahanya. Namun kondisi ekonomi Solo yang hancur karena kerusuhan Mei tidak memberikan angin segar bagi usahanya. ”Di Ngasem usaha kami statis, hidup segan mati pun enggan. Akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta pada tahun 1999. Saya buka di Bilangan Tebet, Jakarta Selatan dengan nama Timlo Maestro. Tapi keadaan tidak  berubah karena Jakarta juga porak-poranda akibat tragedi Mei 1998,” tutur Slamet.
Sempat Bangkrut
Usaha Timlo Maestro-nya sempat vakum sampai tahun 2001. Kemudian pada tahun tersebut Slamet memutuskan kembali ke Solo setelah sebelumnya melakukan survei di Jakarta, Medan dan Surabaya untuk prospek usahanya. ”Ketiga tempat tersebut sama saja, ekonominya remuk maka pilihan terakhir adalah kembali ke Solo,” kata Slamet.
Mulai 9 Juni 2001, Timlo Maestro kembali dirintis kembali oleh Slamet dengan memilih lokasi di Kawasan Pasar Pon. Dia bangkit membuka kembali Timlo Maestro dengan memanfaatkan trotoar di depan deretan toko sepanjang Jalan Diponegoro. Timlo Maestro sukses beroperasi pada malam hari setelah semua toko di kawasan itu tutup.
Dengan ketekunan dan semangat hidupnya, Timlo Maestro akhirnya bisa eksis dan terbilang sebagai usaha kaki lima yang diperhitungkan di Solo. Namun ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memulai proyek Ngarsopuro dan Windujenar, Timlo Maestro terpaksa harus angkat kaki dari Pasar Pon pindah ke Keprabon. Namun kesuksesan tetap berpihak pada usahanya hingga kini. ”Dulu target omzetnya bisa Rp 6 juta sampai Rp 8 juta semalam, setelah pindah turun, namun kini kita bangkit lagi,” kata dia.
Itu penggalan kisah sukses usahanya, lalu bagaimana kiatnya mewujudkan impiannya memimpin Kota Solo sebagai calon walikota dari unsur independen? Dengan santainya dia berujar soal semboyan hidupnya terbaru. ”Dari PKL menuju balaikota, dari warung menuju Lojigandrung,” kelakarnya.
Berangkat dari pengalaman hidupnya sebagai pengusaha kuliner kaki lima, Slamet memandang pentingnya menyediakan ruang hidup yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat terutama golongan ekonomi menengah ke bawah. ”Solo sekarang telah mengalami banyak perubahan menuju kota metropolitan. Pembangunan gedung yang tinggi-tinggi hampir  memadati Kota Solo ini. Tak jarang untuk kepentingan pembangunan ini, para PKL harus direlokasi ke dalam sebuah pasar, padahal tidak semua PKL cocok untuk menempati tempat baru tersebut,” paparnya.
Berbekal pemikirannya tentang nasib masyarakat kecil, maka Slamet memberanikan diri untuk terjun dalam bursa pemilihan Walikota Solo dari unsur independen. (Dwi Hastuti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s