Winda siap lepas masa lajang

Posted on Updated on

Winda siap lepas masa lajang

By is ariyanto on 24 Oktober 2009

Dwi WindartiDwi Windarti

Di umurnya yang ke-27 tahun, koreografer dan penari muda dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Dwi Windarti siap melepas masa lajang bersama kekasihnya, Tatuk Marbudi. Perempuan yang akrab disapa Winda tersebut bakal melangsungkan pernikahan pada akhir November mendatang di kediamannya, Gunung Kidul, Yogyakarta.
”Banyak yang membuat saya yakin dan sudah siap melepas masa lajang. Termasuk pasangan saya yang sangat mengerti dengan pekerjaan saya, karena kami sama-sama pekerja seni,” papar Winda saat dijumpai Espos, Rabu (21/10) malam, pada acara Temu Koreografer, di Taman Budaya Surakarta.
Segala hal untuk mencukupi kebutuhan pernikahan mulai dipersiapkan. Termasuk kesiapan mental yang ia bangun agar upacara sakral itu mampu berjalan lancar tanpa menemui kendala apapun. Mengenai pesta perkawinannya nanti, Winda mengaku rekan-rekannya di dunia seni akan ikut membantu tampil menghibur tamu undangan. q hkt

Yanti jatuh cinta di pentas musik

Yanti Sapto/hktYanti Sapto/hkt

Dari mata turun ke hati. Ungkapan tersebut sangat cocok dialamatkan pada kisah cinta penyanyi asal Solo, Yanti Sapto bersama suaminya yang juga seorang musisi, Sapto Haryono. Awal 1990-an, mereka berdua dipertemukan di sebuah pementasan musik keroncong, jatuh cinta dan menikah. Sekarang, Yanti dan suaminya telah memiliki tiga buah hati.
Ya, panggung musik tak hanya mempertemukan jodohnya. Yanti dan keluarganya pun sangat bergantung pada tawaran-tawaran pentas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. ”Kalau saya sih tidak pernah ngaya. Namun tetap serius bergelut dan mengabdi di bidang seni,” tukas Yanti saat dijumpai Espos, Selasa (20/10) malam, di Pendapa Ageng, Taman Budaya Surakarta (TBS).
Selepas lulus SMA, perempuan kelahiran Solo, 18 November 1971 tersebut memberanikan diri tetap konsisten menjadi seorang penyanyi.  hkt

Benk temukan “pelabuhan” baru

Perjalanan karier yang berliku dan bervariasi di berbagai bidang memang membuat hidup menjadi lebih hidup. Tantangan demi tantangan memerlukan penanganan dengan jurus yang berbeda-beda. Itulah yang dialami Mantan General Manager Hotel Lorin, Benk Mintosih.Setelah lepas dari hotel bintang lima itu, Benk mengaku mendapat tawaran dari berbagai pihak, baik untuk bekerja sama dalam berbagai bentuk. Namun, Benk memilih jalannya sendiri. Ketika ditemui Espos di Roemah Pasta Simple Space, Selasa (13/10), bapak dua anak ini mengungkapkan bahwa dirinya saat ini telah menemukan “pelabuhan” baru.

“Saya saat ini menjadi konsultan manajemen di Rosalia Group. Tugas saya membantu direksi memperbaiki sistem yang telah ada untuk meningkatkan pelayanan dan pengembangan usaha,” ujarnya. Selain itu, pria yang mengubah penampilan dengan memelihara kumis itu, mengatakan dirinya sedang mengembangkan bisnis keluarga yang saat ini dijalankan putranya. “Anak saya yang sulung menjalankan bisnis distro, sehingga saya turut membantu mengembangkannya,” ujarnya.  yan

Esti menikmati sepatu roda

Semasa duduk di bangku SMP, pelatih Sanggar Tari Soeryo Soemirat Mangkunegaran Solo, Esti Andrini getol bermain sepatu roda. Di era 1980-an tersebut, bermain sepatu roda memang sedang tren di komunitas para remaja. Apalagi, sejumlah film nasional yang diputar kala itu tak segan menampilkan pemain yang gemar dan lihai menggunakan sepatu roda.
”Dulu sering muter-muter di sekitar Gladak. Saya juga gabung ke komunitas sepatu roda, Stectors. Waktu itu ada sekitar seratusan peserta yang rutin bermain sepatu roda,” beber Esti saat dijumpai Espos, Minggu (18/10), di Pura Mangkunegaran Solo.
Hingga saat ini, putri dari Andreas Waluyo dan Ester Sudarsi tersebut masih menjalin hubungan baik dengan rekan-rekannya yang dulu aktif bermain sepatu roda. Bahkan, perempuan kelahiran Solo, 16 April 1969 itu beserta rekan-rekannya berkeinginan untuk kembali menggalakkan dan mengaktifkan komunitas tersebut.
”Bermain sepatu roda memang sangat menyenangkan. Namun sayang sepatu roda milik saya yang dulu sering saya pakai, sudah hilang,” keluh ibu dua anak tersebut.  hkt

Sruti tak pilih-pilih

Hampir seluruh aliran musik disukai penyanyi dan presenter, Sruti Respati. Mulai dari langgam Jawa hingga musik kontemporer, pop, serta jaz. Tampaknya, Sruti tak pilih-pilih untuk menekuni seluruh genre musik. Ia pernah berkolaborasi dengan musisi sekelas Vicky Sianipar, Dedek Wahyudi, serta Bintang Indrianto.
”Memang, awal berkecimpung di dunia tarik suara saya lebih banyak menyanyi Langgam Jawa dan keroncong, namun musik kontemporer pun juga saya jajal di panggung. Begitu pula dengan aliran jaz dan lain-lain,” tukas perempuan kelahiran Solo, 26 September 1980 tersebut kepada Espos, Jumat (6/11). Namun, tak ada yang lebih membanggakan bagi Sruti ketika dia didaulat untuk menyanyikan lagu-lagu nasional di ASEAN-Korean Traditional Music Orkestra. ”Kalau menyanyi lagu nasional otomatis ikut membawa nama Indonesia juga.” hkt

Pakde Emil sibuk berwirausaha

Bila hanya mengandalkan penghasilan sebagai seniman, bisa-bisa kebutuhan keluarga tak bisa dipenuhi. Pengakuan itulah yang menjadi alasan salah satu personel grup musik Pecas Ndahe, Emil Abdillah alias Pakde Emil untuk mencoba ladang bisnis. Dengan berwira usaha di bidang tekstil yang dia rintis sejak lima tahun terakhir, menurutnya banyak menyumbangkan keuntungan untuk mempertebal kantongnya. Kini, hari-harinya pun banyak disibukkan dengan urusan usaha mandiri yang digarapnya tersebut.
”Untungnya saya hidup di lingkungan wirausaha, jadi saya banyak belajar bisnis dari orang-orang terdekat. Memang sebagai pengusaha harus siap kala untung maupun rugi,” beber Pakde Emil saat dijumpai Espos, Senin (2/11), di Rumah Sewa Jurug, Kentingan, Jebres, Solo.
Kendati cukup antusias bergelut di bidang bisnis, penggemar nasi liwet itu terang-terangan lebih suka dikenal sebagai seniman dibanding pengusaha. Pangung-panggung seni yang biasa ia isi bersama grupnya sudah seperti tempat pelarian di kala pikirannya suntuk.
”Untungnya saya masih aktif di kesenian. Jadi senang dan bahagia karena hati rasanya puas kalau sedang main dengan Pecas Ndahe maupun main ketoprak,” ujar personel Teater Gidag Gidig tersebut.  hkt

Nungki suka nuansa etnik

Penari dan koreografer asal Kota Bengawan, Nungki Nur Cahyani mengaku kepincut dengan benda-benda yang bernuansa etnik. Perempuan kelahiran Solo 33 silam itu pun suka berburu pakaian hingga aksesoris yang sesuai dengan seleranya itu.
”Untuk sehari-hari saya lebih suka berpakaian yang simple dan bernuansa etnik. Kalau terlalu glamor, jujur kurang minat,” ujar Nungki saat dijumpai Espos, Minggu (1/11) malam, di Museum Radya Pustaka, Solo.
Kesempatan pentas di luar kota atau ke mancanegara pun dijadikan waktu yang tepat untuk berburu benda antik untuk dikoleksi. Seperti ketika dia pentas di Brasil pada 1999 silam. Nungki mengaku saat itu, dia dan rekan-rekannya harus naik bus dan jalan kaki hingga jauh dari lokasi penginapan untuk mencari batu-batuan kuno yang biasa dipakai untuk aksesori.
Di sisi lain, mau tidak mau dirinya memang harus belajar dan memperkaya referensinya akan dunia fashion demi menunjang performa di atas panggung.
”Saya sudah terbiasa merancang sendiri kostum apa saja yang dipakai untuk menari di atas panggung. Jadi harus bisa memadukan kostum itu dengan tema namun juga harus pas di hati,” pungkas ibu satu anak itu.  hkt


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s