PERJALANAN BUPATI SUNARNO

Posted on Updated on

masnarnoDalam satu tahun pemerintahan Sunarno, diwarnai proses yang mengharu biru. Terlebih lagi, Kabupaten Klaten masih dalam suasana prihatin oleh karena bencana alam yang bertubi-tubi, sejak dari darurat Merapi hingga gempa bumi 27 Mei 2006 yang merenggut 1.804 korban jiwa dan 20.272 lainnya luka-luka. Penanganan gempa dilakukan dengan tiga tahap, yakni Tanggap Darurat, Tahap Transisi serta Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Tahap Tanggap Darurat diisi dengan evakuasi dan penanganan korban, Posko Satlak, pembersihan, penanganan infrastruktur, bantuan air, pendataan dan pengolahan data, perawatan hewan, penyaluran JADUP dan pemberian santuan korban meninggal.  

Sementara, rehabilitasi rekonstruksi dilakukan dengan tahap perintisan dan penanganan prioritas, tahap pengembangan di tahun 2007 dan tahap penyelesaian dan penyempurnaan di tahun 2008. Sumber dana tahap ini berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten, Donor Luar Negeri serta donatur dan sumbangan masyarakat.Menurut Sunarno, dalam satu tahun ini, dirinya bersama seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Klaten telah berupaya semaksimal mungkin dalam membangun Klaten.

Di bidang pembangunan dan prasarana fisik, program rekonstruksi dan rehabilitasi fasilitas umum seperti gedung sekolah dan pusat kesehatan yang terkena gempa mendapat perhatian khusus. Data menunjukkan jumlah 55 sekolah roboh dan 375 lainnya rusak berat. Setidaknya 53 sekolah roboh dan 125 sekolah rusak berat sudah tertangani.Sedang jumlah Pusat Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (PPKKS/Puskesmas), PPKKS Pembantu dan poliklinik desa yang roboh 1 buah dan rusak rusak akibat gempa sejumlah 21 unit. Yang roboh sudah tertangani sedang 19 yang rusak berat masih belum tertangani.

Selain itu, prasarana jalan umum juga mendapat perhatian. Hingga saat ini pembangunan prasarana jalan tersebut masih terus berjalan. Untuk, bantuan pembangunan swadaya masyarakat seperti bantuan bawahan dan poros desa juga masih dilakukan demi meningkatnya kualitas fasilitas umum. Khusus yang rusak akibat gempa, 26 unit jembatan rusak dan baru tertangani 7 unit. Untuk 13 ruas jalan, yang sudah tertangani 3 ruas jalan.

Di bidang pemerintahan dan hukum, diupayakan meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan daerah. Selain itu, saat ini Kabupaten Klaten telah merampungkan tugas besar yakni pembahasan 4 (empat) Perda Desa yakni Perda tentang Tata Cara Pemilihan dan Pemberhentian Kepala  Desa, Perda tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa, Perda tentang BPD dan Perda tentang Pedoman Penyusunan SOT Pemerintahan Desa.

Sosialisasi atas empat perda tersebut juga telah dilaksanakan. Selain itu, sudah dialokasikan dana tali asih bagi mantan kepala desa dan perangkat desa. Tunjangan hari raya 2006 juga telah dialokasikan bagi Ketua RT/RW. Tahun 2006 ini diberikan kepada 9.368 Ketua RT dan 3.620 Ketua RW.Di bidang perekonomian, perdagangan dan usaha kecil, sejumlah program telah dilakukan. Antara lain, mengembangkan iklim usaha yang kondusif serta pembinaan sektor ekonomi non-formal dan bantuan kepada usaha kecil dan menengah.

Khusus akibat gempa, 366 kios, 86 los dan 8 loket roboh dan rusak berat. Saat ini sudah tertangani 104 kios, 11 los dan 8 loket pasar. Bidang pendidikan menjadi point penting dalam pembangunan. Karenanya, peningkatan mutu pendidikan terus diupayakan dalam rangka mencerdasakan anak bangsa dan kehidupan bangsa. Di bidang pertanian dan ketahanan pangan telah diupayakan pembangunan pertanian berwawasan agrobisnis.

Pembangunan ini dilakukan dengan pendekatan pembangunan pertanian dan pedesaan yang terpadu, berkelanjutan dan berbasis sumber daya pertanian.Di bidang ketenagakerjaan, telah dilakukan upaya memperluas lapangan kerja demi turunnya angka pengangguran di Klaten. Sementara di bidang kesehatan telah dilakukan peningkatan pemerataan pelayanan kesehatan, peningkatan partisipasi masyarakat dan terjaminnya masyarakat miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Di bidang pariwisata dan kebudayaan, telah dilakukan peningkatan peran industri pariwisata dan pembangan budaya dan kesenian, termasuk kesenian tradisional.Di bidang sosial kemasyarakatan, telah dilakukan program tilik deso. Program tilik deso menjadi sarana paling nyata untuk terus menjalin komunikasi dengan masyarakat.

Selain itu, bantuan sosial kemasyarakatan juga dilakukan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat. Aspek mental spiritual juga tidak luput dari perhatian. Sehingga, pembangunan mental spiritual terus dilakukan, termasuk dengan peningkatan sarana ibadah. Selain itu, sejumlah bidang lain juga terus diupayakan semaksimal mungkin. Tentu tidak kalah pentingnya adalah upaya teruwujudnya pemerintahan yang baik (good dan clean government). Selain itu, terus dilakukan peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui penataan kelembagaan, menejemen public dan peningkatan kapasitas SDM aparatur pemerintahan.

Semua ini dilakukan demi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Disadari kalau upaya ini memang belum sempurna, tapi setidaknya mulai menunjukkan hasil. Setidaknya ini dicatat oleh Local Corruption dan Parliament Watch (LCPW) yang memberikan penghargaan LCPW Award 2006.Rencana pembangunan tahun 2007 juga telah dituangkan dalam Peraturan Bupati Klaten Nomor 15 Tahun 2006 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Klaten.Dalam perjalanan satu tahun kepemimpinan Sunarno ini, sejumlah penghargaan telah didapatkan.

Selain LCPW Award 2006, Penghargaan Gubernur atas Peran Serta Sebagai Penyelenggara Pendidikan Luar Sekolah 2006, Penghargaan Mendiknas Tingkat Pratama atas Kepedualian Yang Tinggi Atas Percepatan Pemberantasan Buta Aksara 2006 serta sejumlah penghargaan lainnya. Selain itu, Kabupaten Klaten dianggap memenuhi syarat untuk memberikan pelayanan akta kelahiran gratis. Di antara penghargaan itu, yang paling menarik adalah Museum Rekor Indonesia (MURI) yang mencatat Sunarno sebagai Bupati Termuda se-Indonesia.###

Pebinis kreatif, pemerhati usaha kecil

Hujan yang mengguyur Klaten siang itu tampak garang. Deras, sesekali bercampur angin kencang.

Namun, cuaca yang kurang bersahabat tersebut tak menyurutkan Sunarna berkeliling desa. Ia ingin kasat mata tahu persis kondisi sejumlah desa di kapupaten tempat kelahirannya itu. Tak hanya lewat laporan-laporan di kertas dari anak buahnya saja. Biar secara langsung jua menampung segala keluh kesah warga desa.

“Oke untuk pengambilan gambar nanti langsung ketemu di pengrajin lurik Bayat saja. Ini saya habis tilik desa,” ujarnya saat menghubungi Espos lewat telepon genggamnya, Kamis (21/10).

Meskipun telah menjadi bupati dan pada Pilkada Klaten 20 September lalu kembali terpilih, Sunarna memang tidak segan menelepon maupun membalas short message service (SMS) langsung dari telepon genggamnya. Tak melulu harus lewat ajudan.

Bukan tanpa alasan, sifatnya itu karena telah menjadi salah satu bagian dari semboyan dalam hidupnya: tak ingin membuat orang lama menunggu. Tak ayal, dengan sifatnya yang demikian di masa mudanya ia sukses menjalankan sejumlah usaha. Mulai dari usaha mebel, penggemukan sapi sampai bengkel sepeda motor. Sunarna lihai menilik peluang dan kreatif memanajemen bisnis.

Impian masa kecil

Demikian pula dalam menggerakkan usaha kecil. Sunarna begitu getol menggerakkan usah kecil di Klaten. Tak berlebihan jika pada 2007 ia mendapatkan penghargaan dari Persatuan Wartwan Indonesia (PWI) sebagai bupati pemerhati usaha kecil dan kebebasan pers.

Keberhasilannya itu tak lain karena sejak kecil anak kelima dari enam bersaudara pasangan Tri Widodo dan Sumiyem ini memang sudah mempunyai impian kuat; menjadi orang kaya. Makanya, sejak belia naluri bisnisnya sudah terasah.

Di bangku SD misalnya. Sepulang sekolah, ia tak absen membantu ibundanya berjualan palawija. Meskipun demikian, sesekali Sunarna kecil ikut sang ayahanda menggarap sawah.

Kegiatan itu tak berubah hingga di bangku SMP. Barulah memasuki bangku SMA, Sunarna mulai asyik dengan sejumlah kegiatan lumrahnya anak muda. Meskipun demikian, nilai akademis Sunarna masih memenuhi standar. “Kalau hari Sabtu biasanya bolos. Lalu ramai-ramai menonton film di Bioskop Dewi Pedan,” kenang bapak empat anak ini sambil mengulum senyum.

Setamat SMA itulah, keinginan menebus mimpinya menjadi orang kaya kian menguat. Kuliah adalah menjadi salah satu jalannya. Itu mengapa, renik-renik yang menjadi penghambat kuliah seperti dana yang minim tak membuatnya berkecil hati. Prinsipnya, selama masih ada kemauan, pasti ada jalan.

Oleh sebab itulah, selama kuliah Sunarna merangkap bekerja. Dua tahun pertama bekerja di Bursa Efek dan dua tahun berikutnya menjadi pialang. Tak sia-sia, hasil kerjanya itu mampu menopang sebagian besar kebutuhan kuliah. “Karena fokus kerja dan kuliah saya tidak sempat ikut organisasi,” ujarnya.

Meskipun sukses bekerja, keinginan Sunarna untuk memiliki usaha sendiri tetap menguat. Maka, rampung kuliah ia mencoba memulai usaha sendiri. Kebetulan, kala itu ada peluang bagus untuk membuka bengkel sepeda motor di Sragen dengan biaya investasi kecil. Karena sejumlah peralatan mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Dari bengkel itulah, Sunarna terus mengembangkan sayap bisnis segala peluang usaha yang dinilai bisa menambah pundi-pundi keungannya. Ia pun menjajal bisnis mebel di Jepara dan penggemukan sapi di Klaten.

Lagi-lagi, berkat kreativitasnya, usaha penggemukan sapi pun moncer. Bahkan Sunarna sempat kewalahan menerima pesanan. Makanya, ia pun berinisiatif mengimpor sapi lewat rekannya yang ada di Kediri. “Saya masih ingat saat itu membeli 475 ekor sapi,” ungkapnya.

Sayang, setelah empat bulan berjalan, hasilnya tak memuaskan. Kenaian berat badan sapi yang diperkirakan bisa mencapai 0,7 kg sampai 1,1 Kg per hari tak bisa terpenuhi. Rupanya jenis sapi impor yang digemukkan berkualitas buruk. Alhasil, alih-alih untung malah Sunarna kolaps.

Kolaps membawa nikmat

Kerugian usahanya nyaris menyentuh angka Rp 500 juta. Tetapi, itu sama sekali tak menyurutkan hasratnya melanjutkan usaha. Meskipun diakuinya, untuk urusan sapi, Sunarna sempat terbesit untuk menyerah. “Karena banyak dana tersedot untuk menutup kerugian itu,” ungkapnya.

Tetapi, ia tak kapok dengan usaha penggemukan sapi. Bahkan, saat krisis ekonomi 1998 menghantam sekalipun. Justru momentum itulah, menjadi tonggak kesuksesan bisnis sapinya kembali. Pasalnya, kala itu permintaan daging sapi tetap tinggi namun konsumen kesulitan mendapatkan barang. “Krisis itulah yang justru membesarkan saya,” tuturnya.

Sejak itulah, bisnis lainnya turut berkecambah. Sunarna kian dikenal luas. Maka, oleh teman-teman bisnisnya ia didorong untuk maju dalam Pilkada Klaten 2005. Sunarna sempat tak percaya diri. Apalagi ia sama sekali tak pernah bersinggungan dengan partai politik. “Saat itu banyak yang bilang saya masih anak-anak maju bupati,” ungkap penggemar soto gedeg Klaten ini.

Namun dengan semangat ingin memajukan Klaten, Sunarna mantap mengikuti bursa pemilihan kepala daerah. Dukungan dari masyarakat pun rupanya mengalir deras. Sunarna memenangkan Pilkada Klaten 2005 di usianya yang masih 32 tahun.

Tak ayal, pada 2007, lelaki yang gemar membaca buku-buku tentang pemasaran ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai bupati termuda di Indonesia.

Meskipun demikian, prestasi itu tak membuat Sunarna bangga. Awal memimpin, rasa ewuh pekewuh pun demikian menyilimuti hari-harinya. Karena hampir semua usia bawahannya jauh lebih tua darinya. “Tetapi lama –lama alhamdulillah biasa. Dan soal perpolitikan Klaten saya banyak dibantu teman-teman wartawan,” pungkasnya.

Biodata

Nama : H Sunarna SE MHum

Lahir : Klaten, 24 September 1973

Alamat : Jl. Pemuda 228 Klaten

Istri : Sri Mulyani, 33

Anak : Abimanyu Suryo Baskoro, 11

Sherly Kusuma Wardani,8

Kusumo Tirto Anggoro,4

Calista Nur Azizah, 7 bulan

Pendidikan

* SD Negeri Jambakan Bayat, lulus 1986

* SMP Negeri 2 Bayat, lulus 1989

* SMA Negeri Cawas, lulus 1992

* Strata 1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta, lulus 1987

* Strata 2 Hukum Bisnis Universitas Gadjah mada (UGM), lulus 2009

Kursus

* Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah Lemhannas RI, 2008

Penghargaan

* Menerbitkan Perda Akte Kelahiran bebas Bea dari Presiden RI, 2007

* Bupati Termuda se-Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI), 2007

* Pemerhati Pembangunan UMKM dan Kebebasan Pers, dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 2010

Antara puasa dan segudang hobi

Rumah dinas, kantor, jabatan dan gaji yang datang tiap bulan memang tak boleh menjadi penjara.

Rumah dinas adalah persinggahan sementara, kelak harus ditinggalkan.

Kantor dan jabatan juga sementara dan jika waktunya tiba harus dikembalikan pada negara. Tetapi sebelum itu semua datang, bekerja dengan sebaik-baiknya demi memenuhi segala kewajiban yang melekat pada jabatan tentu menjadi impian siapa saja.

Maka, demi bisa melaksanakan itu semua, tak hanya butuh kemampuan berpikir yang matang tetapi juga landasan rohani yang kuat. Sunarna pun punya jalan tersendiri; berpuasa setiap hari. Tak lain untuk mengerem perbuatan yang kurang pas.

“Setelah puasa Ramadan bisa sampai tiga atau empat bulan berpuasa setiap hari,” ungkapnya.

Dengan berpuasa, kata Sunarna, saat akan melontarkan kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang lain pun akan bisa lebih terkontrol. Namun, kebiasaan berpuasa sebetulnya sudah Sunarna lakukan sejak belia. Saat di bangku SMP saja misalnya. Sunarna sudah rajin puasa Senin-Kamis. Konsisten dengan puasa Senin-Kamis, di bangku SMA, Sunarna mulai puasa daud atau sehari puasa sehari tidak.

Meski begitu, bukan berarti kini Sunarna tak menyempatkan melirik segudang hobinya. Seperti memelihara puluhan burung kicauan, bermain gitar dan organ, tenis maupun mengutak-atik sekuter lawas. “Sekarang sekuter sudah tinggal beberapa. Sudah banyak diminta teman,” ujarnya.

Kalau soal musik, Sunarna mengaku selalu terkesima dengan tembang jawa. Lebih-lebih yang menonjolkan suara gendhing. Karena bukan hanya enak didengar, tetapi karena menyusupkan filosofi yang dalam dan indah. “Pop juga suka. Tapi kebanyakan lagunya Broery,” ungkapnya.

Walaupun semua itu masih bisa dilakukan sesekali waktu, namun Sunarna mengaku ada satu hobi yang tak lagi bisa dilakukan semenjak menjadi bupati yakni mengikuti fashion show tiap akhir tahun di Jakarta. “Tapi tak lama setelah dilantik, saya masih ikut. Lupa kalau sudah jadi bupati,” ujarnya berkelakar.

Alhasil, kata Sunarna, ada salah satu media cetak yang mengendus aktivitasnya tersebut. “Wah jadi tidak enak. Sejak itu sudah tidak pernah ikut,” ujarnya.

Prihatin sejak kecil

Bayangan bocah bersarung dan berpeci yang paling sering mengajak teman-temannya berangkat mengaji dan menginap di musala Al Huda di Barengan Jambakan Bayat Klaten itu masih belum lekang di ingatan Sri Mawardi,68. Padahal, peristiwa itu sudah berlalu puluhan tahun lalu.

Bupati Klaten, Sunarna adalah bocah yang digambarkan Sri Mawardi yang menjadi guru mengaji Sunarna. “Makanya kalau sekarang jadi bupati ya pantas,” ujarnya saat dijumpai Espos di rumahnya Barengan Jambakan Bayat RT 9/RW IV, Kamis (21/10).

Terlebih, kata Sri yang menjadi guru mengaji Sunarna hingga Sunarna duduk di bangku SMP, sejak kecil, Sunarna memang sudah dilatih prihatin. Seperti rajin puasa Senin-Kamis maupun banyak melakukan kegiatan di musala. “Dulu kalau ada acara takjilan di musala, Mas Narna juga paling semangat,” kenangnya.

Itu semua lantaran kondisi ekonomi keluarga Sunarna saat itu tak terlalu bagus. “Bahkan demi bisa sekolah sampai ada kakak Mas Narna yang tidak sekolah demi sekolah adik-adiknya. Keluarganya memulai usaha dari nol,” ungkapnya.

Namun demikian, kini kata Sri laku keprihatinan itu terbayar sudah. Karena selain menjadi pebisnis yang andal, Sunarna juga bisa menjadi orang nomor satu di Klaten. “Semoga setelah selesai jadi Bupati bisa jadi gubernur,” harapnya.

Gemar menonton wayang kulit

Andai diminta menyebutkan nama anak pada medio 1980-an di Desa Jambakan Klaten yang paling gemar menonton wayang kulit, sudah pastilah Daryono,40, menyebut Sunarna sebagai nominasi utamanya.

Tak berlebihan, karena hobinya menonton wayang kulit menurut mantan kepala desa Jambakan ini begitu membuncah sejak duduk di bangku SD. “Kalau ada wayang kulit di Gunung Kidul pun ya berangkat. Dan kalau Mas Narna tidak berangkat, lainnya tidak berangkat,” ujar pengrajin lurik ini saat dijumpai Espos di rumahnya Barengan Jambakan Bayat Klaten, Kamis (21/10).

Namun, selain menonton wayang sejumlah kegemaran lain Sunarna kecil juga tak kalah menarik jika diurai. Sebutlah seperti bermain gambar umbul dan karambol.

Menurut Daryono, Sunarna paling jago jika memainkan dua permainan itu. Uniknya, meskipun permainan sederhana di desa, Sunarna sudah menerapkan hal-hal ilmiah di sana.

Seperti saat bermain gambar umbul, lanjut Saryono, Sunarna memerhitungkan betul dari teori matematika tentang peluang. Demikian pula saat bermain karambol. Sunarna kecil mampu memerhitungkan sudut-sudut yang pas untuk menembak. “Pokoknya banyak sekali kenangan dengan Mas Narna. Apalagi dulu sering tidur di rumah saya. Termasuk saat mau nyalon jadi bupati,” pungkasnya.

Tak banyak prioritas

Kembali terpilih menjadi bupati Klaten hingga 2015 jelas memberikan kesempatan bagi Sunarna untuk melunasi program kerja yang belum sempat terbayar sempurna.

Namun demikian, Sunarna mengaku pada kepemimpinannya yang kedua ini ia tak banyak prioritas. Pasalnya, sejumlah kebutuhan dasar yang mestinya bisa dienyam seluruh masyarakat Klaten saja hingga kini masih ada yang belum bisa terpenuhi.

“Saya tidak terlalu banyak prioritas. Tapi obsesi saya terdekat, bisa membawa air dari wilayah utara ke selatan,” ungkapnya.

Sebab, kata Sunarna jika musim kemarau tiba, masyarakat yang berada di wilayah utara Klaten masih banyak yang kesulitan mendapatkan air. Padahal air menjadi kebutuhan utama hidup. “Beban saya kalau ada masyarakat kesulitan air,” ujarnya dengan iba.

Meskipun tak banyak prioritas, namun Sunarna bertekat membuat Klaten lebih mentereng di peta nasional. Tak sekadar lewat produk atau branding unggulan kota berupa beras delanggu, melainkan juga dengan kain lurik. “Kalau ditanya unggulan Klaten apa ya tetap pertanian,” ungkapnya.

Tetapi yang tak boleh dilupakan, kata Sunarna, produk kerajinan tangan maupun makanan dari usaha kecil menengah juga menjadi potensi yang luar biasa bagi Klaten. “Saya akan terus menggaungkan lurik,” katanya.

Selain juga memberdayakan usaha kecil yang bergerak di bidang makanan ringan. Sunarna berencana, sebagian intensif untuk pegawai negeri di Klaten diberikan dalam bentuk makanan ringan. Sehingga dari kalangan PNS sendiri pun sudah secara otomatis memberdayakan dan membantu usaha kecil.

Iklan

3 respons untuk ‘PERJALANAN BUPATI SUNARNO

    tri gendut said:
    Desember 23, 2010 pukul 6:24 am

    mana janji MU, buktikan kalo bupati dekat dengan rakyat, 5 tahun sudah klaten terjadi staknan, tidak ada perubahan ekonomi kerakyatan yang ada peningkatan ekonomi pejabat, hentikan rekom beckhue

    Maryono Mantep Wibiesono said:
    April 16, 2012 pukul 6:35 pm

    Assallamu;alaikum Wr Wb
    Terima Kasih kpd akun,karena sudah memberi Informasi tentang perjalanan Hidup H.Sunarna,SE,M.Hum. Mudah-mudahan dengan adanya Informasi ini masyarakat KLATEN terutama para PEMUDA-PEMUDA KLATEN dapat meniru dan meneladani perjalanan Bupati kita yang penuh dengan pengorbanan besar dari kalangan bawah bisa menjadi orang no 1 di Kab.Klaten. Maju terus Bp Bupati,Maju Pemuda Klaten.
    Kita Wujudkan Kab.Klaten yang Adil,Makmur TOTO TITI TENTREM KERTORAHARJO.
    Wassallamu’alaikum Wr Wb

    amir said:
    November 28, 2013 pukul 8:24 pm

    realitas NOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s