Antara Poligami dan Bisnis Puspo Wardoyo

Posted on Updated on

puspo_wardoyoKenapa harus dakwah poligami, apa nggak ada tema yang lain? Kenapa nggak bisnis ya bisnis saja? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin banyak yang menghinggapi para pemerhati sepak terjang Puspo Wardoyo. Tapi bagi pria berhobi masak ini lain cerita.
Dari judul di atas seolah menyiratkan dua dunia yang saling terpisah. Yang pertama sebuah istilah yang bekaitan dengan agama (red, akherat), dan bersifat pribadi. Sedang yang ke dua lebih pada urusan usaha, (red, dunia).

Tapi bagi pria beranak sepuluh beristri empat ini ingin menyatukan dua dunia tersebut. Sejak tahun 1989, laki-laki ini benar-benar membuktikannya dengan menyatukan poligami dan bisnis. Dan mulai saat itulah Puspo Wardoyo dikenal sebagi pejuang poligami sekaligus pengusaha restoran Wong Solo. Berbagai macam strategi digunakan untuk mensosialisasikan poligami dan sekaligus memajukan bisnis warung makan ‘Ayam Bakar Wong Solo’ melalaui sarana diskusi, seminar, sampai acara TV.
Nada protes ataupun dukungan mulai berdatangan kepadanya. “Saya mulai mensosialisasikan poligami 6 tahun yang lalu di medan, sedang di Yogya sejak 4 tahun yang lalu,” aku Puspo. Berbagai teror, pengadilan pers berdatangan, ada yang bilang kepada Puspo, usahamu akan hancur dengan dakwah poligami, tapi Puspo terus berjalan ke depan, “saya tetap maju, dakwah harus diperjuangan, Allah akan menolong keyakinan saya,” ungkapnya.
Lama kelamaan terutama para aktivis perempuan mulai memprotes kefulgaran Puspo dalam mensosialisasikan poligami. Menanggapi hal ini, Puspo hanya bilang, “semoga Allah memberi hidayah kepada mereka.”

Bagaiamana cerita masa lalu Puspo yang sebenarnya? Saat ditemui di Warung ‘Wong Solo’ cabang Kalimalang Jakarta Timur, kepada figurpublik beberapa waktu lalu Puspo menceritakan sepak terjangya. Ketika ditanya tentang lingkungan seperti apa yang membentuknya sekarang Puspo mengisahkan.
Saya waktu kecil dibesarkan dalam situasi lingkungan wiraswasta. Orang tua saya mempunyai usaha ayam bakar. Tidak ada sedikitpun waktu bagi saya untuk bermain layaknya anak yang lain. Pagi menyembelih kambing, pulang sekolah bekerja di rumah makan orang tua saya. Pekerjaan inilah yang terus di lakukanya sampai lulus kuliah. Itulah lingkungan yang telah banyak menempa mental seorang Puspo. “Kamu dapat uang setelah menyelesaikan pekerjaan,” kata-kata dari sang ibunya masih teringat dalam benaknya. Dari situ, sikap disiplin, ulet telah membentuk jiwa Puspo. “saya bisa hidup susah, nggak laku sehari itu biasa,” tambahnya.

Suatu saat, tiga hari sebelum orang tuanya meninggal, Puspo diberi wasiat untuk membuka rumah makan ayam bakar. Ternyata peristiwa itu begitu membekas dalam benak Puspo. Sampai akhirnya dia membuka dan benar-benar menekuni bisnis ini.
Perkembangan demi perkembangan dilaluinya. Dengan modal Rp 700.000,- dari 3 ekor sehari bisa meningkat, kemudian setelah dua tahun menjadi 7 ekor, 3 tahun kemudian bertambah menjadi 2 menu, begitu seterusnya.
Keuletan Puspo Wardoyo yang mantan guru SMA Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi ini hasilnya benar-benar luar biasa. Dari Warung kaki lima di JL. SMA II Padang Golf Medan, kini berkembang menjadi salah satu restoran favorit di kota-kota di mana Wong Solo berada.
Selain kerja keras, ulet , keimanan serta ketaatan menjalankan syariat Islam menjadi kiat sukses Puspo dalam mengemudikan Wong Solo.
Baginya, bekerja tidak sekadar mencari nafkah. Lebih dari itu, bekerja merupakan sarana beramal dan beribadah. Tak perlu heran kalau begitu masuk RM. Wong Solo, nuansa agamis begitu menonjol di sana. Terutama tampak oleh seragam karyawati yang wajib menutup aurat dan setiap akan memulai dan mengakhiri kerja selalu ada kultum.
Begitulah kisah Puspo, kini ‘Ayam Bakar Wong Solo’ telah mempunyai 31 cabang di seluruh Indonesia. Salah satu cara Puspo untuk menyatukan dakwah poligami dengan restoranya, dengan merancang menunya sendiri. Seperti Jus Poligami, Cumpida Poligami dan beberapa menu yang lain, yang selalu di akhiri dengan Poligami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s