Sugondo Meracik Steak Ala Indonesia

Posted on

Bagi penggemar kuliner, khususnya steak, tak akan asing dengan Warung Steak Obonk. Nama Sugondo adalah orang dibalik kesuksesan warung steak kaki lima ini. Dulunya, sekitar Tahun 1995 ke belakang, jenis makanan ini lebih banyak ditemui di hotel-hotel, restoran dan tempat mewah lainnya serta harganya tidak terjangkau masyarakat umum. Tapi kini, dengan mudah ditemui warung penjual steak di pinggir jalan dengan harga murah yang terjangkau masyarakat umum.
Tak bisa dipungkiri, Sugondo dengan Warung Steak Obonk miliknya adalah salah satu pelaku yang berada dibalik bergesernya steak dari tempat mewah ke warung-warung pinggir jalan.
Karena itulah, ia tak mau tempat jualannya disebut rumah makan meski ada yang berada dalam bangunan cukup luas dan representatif. Ia lebih suka menyebut warung. “saya sengaja menyebut Warung Steak Obonk agar terkesan makanan ini tidak mahal,” ujarnya memulai cerita kepada Joglosemar.
Dari semula hanya satu warung steak kini sudah merambah ke berbagai kota dengan jumlah 40 gerai atau cabang. Kisah sukses Steak Obonk milik Sugondo dimulai dari Kota Yogjakarta.
“Saya sengaja mengawali warung steak ini dari Yogyakarta, meski saya berada di Solo. Kota Yogya saya pilih karena potensi pasarnya menjanjikan, banyak pendatang dan mahasiswa. Tapi roda bisnis tetap saya kendalikan dari Solo,” ungkapnya.
Pada tahun 1996, satu warung dibuka di Jalan tentara Pelajar Yogyakarta. Kini di kota pelajar itu sudah berdiri tiga warung miliknya.
”Masyarakat saat itu belum banyak yang mengenal steak karena hanya dijual di hotel-hotel berbintang dan restoran high class,” kata Gondo, panggilan akrabnya.
Rupanya, konsep yang diterapkan warung steak rasa bintang lima harga kaki lima cukup berhasil. Ia pun berekspansi ke Solo, tempat tinggalnya selama ini. Dari Solo, warungnya terus merambah kota-kota lain. “Sekarang sudah 40 cabang yang tersebar di berbagai kota di Jawa, Jakarta, hingga ke Medan,” kata penggemar motor gedhe ini.
Bisnis steak ini sebenarnya dimulai bukan dengan nama Obonk. Awalnya, kakek 7 orang cucu ini mendirikan warung steak dengan nama Warung Steak Casper di Solo pada Tahun 1995.

Mengelola 40 Cabang
Karena mandeg, Casper akhirnya ditutup dan kemudian banting stir ke Yogyakarta dengan nama Obonk. Kini ia sukses mengelola 40 cabang dan tinggal melakukan pemantauan serta pengembangan.
Kisah sukses perjalanan bisnis Sugondo sebenarnya tidak dimulai secara sederhana. Butuh kerja keras, kesabaran. Di luar itu, ia juga kaya dengan pengalaman bisnis.
“Sebenarnya saya malu kalau diminta menceritakan lika-liku bisnis saya, utamanya saat awal-awal dulu. Karena bisnis saya di masa lalu ternyata tidak sesuai dengan tuntunan agama,” cerita Sugondo.
Kalaupun toh ia berkenan menceritakan pengalaman bisnisnya masa lalu karena ingin semuanya menjadi hikmah bagi orang lain dan dirinya terutama bagi generasi muda.
Sosok Sugondo sekarang dikenal religius. Senyum dan sikap rendah hati menjadi bagian kesehariannya. Tidak tampak sama sekali bahwasanya dirinya pernah berkecimpung di dunia keras kehidupan malam.
Ya, dulunya nama Sugondo cukup dikenal masyarakat Solo karena aktivitas bisnisnya di dunia hiburan malam. Saat itu, dia dikenal sebagai raja hiburan malam karena mengelola beberapa klub malam di antaranya Solo Dangdut, Nirwana, Aquarius dan Freedom.
Pria kelahiran Surabaya, 31 Maret 1950 ini mengalami berbagai peristiwa yang akhirnya menyadarkannya bahwa segala usaha yang dijalaninya tidak sesuai dari sisi agama. Ia pernah punya pengalaman pahit berurusan dengan penegak hukum. Hal itu, semakin menyadarkan dirinya kalau telah di ingatkan oleh Tuhan.
Karier Sugondo dimulai dari sebuah Bank Pasar di Jakarta yang dijalaninya selepas SMA pada Tahun 1969. Di sela-sela bekerja, ia juga menyempatkan menuntut ilmu di sebuah PTS di Jakarta dengan konsentrasi akuntansi.
Selama berkarier di Bank Pasar, ia meraih puncak kejayaan dengan menjadi direktur utama menjelang penghujung 1980. Meski demikian ia tidak merasa bangga sedikit pun.
“Karena saya sadar saat itu banyak melakukan praktik kecurangan,” katanya.
Tidak seberapa lama Bank Pasar itu tutup dan ia bekerja serabutan untuk menghidupi anak dan istri yang dinikahi Tahun 1973.

500 Karyawan
Tahun 1986, ia dan keluarga memutuskan pulang ke tempat kelahiran sang istri di Solo. Usaha baru di bidang konstruksi dijalani bersama beberapa rekan. Namun Gondo hanya bertahan hingga Tahun 1990 karena banyaknya nuansa KKN yang menyelimuti setiap tender kontrak.
”Sebenarnya menguntungkan, tapi saya benar-benar tidak mau terlibat KKN lebih jauh lagi,” tutur suami dari Naniek Mulyani.
Setelah itu Gondo menekuni bisnis hiburan malam dengan mengacu pengalaman di Jakarta sebelumnya. Beberapa kawan lama dihubungi agar bersedia menyuntikkan modal. ”Jadi saya hanya sebatas menjalankan saja. Kalau dihitung persentase, kepemilikan saya hanya berkisar 20%,” ujar ayah 4 anak ini.
Dengan keuletan dan kerja keras, pelan-pelan Gondo membangun kerajaan hiburan malam di Solo dan Yogyakarta. Saat itu, hampir tidak ada wong Solo yang tidak mengetahui sepak terjang Gondo.
“kalau dari sisi pendapatan, bisnis malam saat itu memang lumayan. Tapi lama-lama capek terutama di hati nurani dan pikiran,” ujar pria yang pernah menghuni terali besi ini.
Karena itulah ia akhirnya memilih menjual kepemilikan saham di bisnis hiburan malam. “Saya ingin bisnis yang tenang, lurus dan sesuai tuntunan agama,” ungkapnya.
Sugondo pun banting stir ke bisnis makanan. Ia mulai serius mengembangkan warung steaknya dengan menjual satu-satunya rumah dan menggandeng rekan-rekannya untuk menanamkan modal.
”Saat itu sangat sulit untuk menyakinkan orang lain agar mau berinvestasi dalam bisnis warung steak, karena jaminan keuntungan belum begitu terlihat,” kata Gondo.
Tapi saat ini Warung Steak Obonk telah sukses mempekerjakan sedikitnya 500 karyawan. Konsep manajemen terbuka ternyata membuat banyak orang ingin bekerja sama. “Sekarang saya lebih tenang karena menjalankan bisnis yang barokah,” ujar kolektor motor besar ini. (Anas Syahirul/Wisnu W)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s