Tadarus Bareng Karyawan

Posted on Updated on

Bertubuh kekar dan dihiasi banyak tato menjadikan penampilan Djoned Kusumo Widiyanto terlihat sangar. Tapi, di balik penampilannya yang garang, Djoned merupakan pribadi yang unik, baik dan sangat bersahabat.

Soal alasannya menato tubuh, ia mengaku sangat mencintai seni ukir tubuh itu sejak remaja tepatnya pada 1975. Menurutnya, tato merupakan seni dan bagian dari simbol lelaki sejati yang menunjukkan kegagahan. Begitu juga dengan alasannya menggandrungi motor Harley Davidson karena ia menilai motor itu merupakan bagian dari jiwanya sebagai laki-laki sejati.

Sebagai laki-laki sejati, Djoned berprinsip selagi benar, ia tidak takut ketika menghadapi siapa pun. Tapi ketika salah, ia akan meminta maaf bahkan terhadap anak kecil sekali pun.

“Bakat nakal saya sudah ada sejak orok tapi nakal yang positif. Walau penampilan saya begini, saya tidak pernah menipu, merugikan orang, berbohong, apalagi menyakiti orang. Sebisa mungkin saya justru harus membantu umat,” katanya kepada Espos, Jumat (13/7).

Soal hidupnya yang dinilai tidak pernah susah, Djoned menampik anggapan itu. Sebagaimana orang lain, ia juga pernah mengalami masa sulit dan hidup prihatin seperti ketika masih tinggal bersama pamannya di Surabaya.

Demi mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya, ketika remaja Djoned pernah merintis usaha sebagai promotor balap rally, promotor tinju dan promotor musik bersama Log Zhelebour di Surabaya. Usaha itu ia tinggalkan setelah dilanda kebosanan.

Rasa bosan pula yang membuat ia memilih meninggalkan usaha pembuatan boneka dan menyerahkan pabriknya di Sukabumi kepada orang lain. Kini, selain menekuni bisnis perhotelan, pengusaha yang hobi bersepeda ini adalah distributor Indonesia yang memegang lisensi lampu GE dari Amerika Serikat.

Di atas segala kesuksesan yang mengiringi hidupnya, Djoned sangat mempercayai kekuatan doa. Setiap malam ia selalu mengaji Alquran minimal satu juz bersama karyawan hotelnya. Baginya, doa merupakan kebutuhan manusia sekaligus sebagai penyeimbang. Selain mendoakan diri dan keluarganya, Djoned juga selalu mendoakan teman dan juga karyawannya.

“Manusia itu dipenuhi unsur negatif, karena itu harus dinetralkan dengan cara diimbangi doa dan ibadah. Saya tahu kelemahan diri dan tahu bagaimana menyiasati kelemahan itu agar menjadi yang terbaik. Saya ingin selalu dapat diterima masyarakat,” tegasnya.

Ibarat Nuklir
Sama-sama menyukai hal berbau budaya membuat Kusuma kerap berinteraksi dengan Djoned Kusumo Widiyanto. Interaksi keduanya semakin intens terutama dalam menggairahkan kesukaan terhadap batu mulia dengan ciri khas Jawa. Bagi Kusuma, Djonet ibarat nuklir yang mampu mengangkat orang-orang ahli dalam bidangnya untuk membuat sesuatu menjadi lebih bernilai dan meledak.

“Ketika ingin membuat sesuatu dia selalu ingin ditangani oleh yang expert seperti dalam membuat batu mulia, dia benar-benar mencari ahlinya sampai ke Bali dan mendapat seniman ukir Bali keturunan Jawa. Kami akan membuat batu mulia dengan desain Jawa klasik yang belum digarap orang,” terangnya kepada Espos, Jumat (13/7).

Kusuma juga menilai Djoned merupakan orang yang spontan dan ekspresif tapi di sisi lain termasuk tipikal orang yang agak susah dimengerti terutama bagi mereka yang belum mengenalnya.

“Satu yang paling susah dari Djoned dia orangnya kadang enggak sabar. Setiap punya planning maunya terealisasi cepat dan sempurna, kalau orang belum paham mungkin bisa stres,” katanya.

DJONED KUSUMO WIDIYANTO: Suksesnya Sumantri Ngenger

Suara Djoned Kusumo Widiyanto bersama rekan-rekannya di lantai II Hotel Solo In samar-samar terdengar dari lobi hotel, Jumat (14/7). Obrolan itu tampak seru ketika sesekali diiringi suara tawa yang meluncur bersamaan.

Sejak memutuskan tinggal sementara di Solo, Djoned kerap menggelar pertemuan dengan rekan-rekannya di hotel miliknya. Di hotel bintang tiga itu pula ia kerap menerima sahabatnya dari luar kota seperti pengusaha yang juga Korwil Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) Jakarta, Djoko Saksono.

Selain alasan mengurus bisnisnya, ayah dua anak, Angelo Parantomo dan Kalulla Harsyinta, menikmati tinggal di Solo karena ia menemukan kedamaian dan kehangatan di kota asal-usul leluhurnya. Ia menilai Solo merupakan kota berfrekuensi baik dan masih kental nilai budayanya.
“Tinggal di Solo saya merasa menjadi orang Jawa kembali,” katanya.

Pengakuan Djoned bukan tanpa alasan. Kendati asli Solo, anak pasangan Wiratmoko Diningrat dan Ani Rahayu selama ini menghabiskan hidupnya berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Semasa masih remaja, ia dititipkan orangtuanya kepada keluarga pamannya yang seorang jaksa di Surabaya. Belum tuntas menyelesaikan pendidikan SMP, ia pindahkan ke SMPN 4 Solo.

Kepindahannya ke Solo tidak berlangsung lama karena ia memutuskan melanjutkan sekolah di Jakarta di SMAN 11 Bulungan. Uniknya, kembali ke Jakarta tidak serta-merta membuatnya bisa berkumpul bersama keluarganya. Sebab, orangtuanya justru kembali menitipkannya kepada orang lain. Saat itu, ia dititipkan kepada Lesilolo, Kepala SMAN 11 Bulungan untuk tinggal bersama.

“Orangtua dari awal ingin menjadikan saya Sumantri ngenger, katanya supaya saya tidak boleh jadi anak manja,” ungkapnya.

Djoned mengakui tujuan orangtuanya kala itu cukup berhasil. Selama tinggal berjauhan dengan keluarga, ia menjadi orang yang tertib dan disiplin terutama ketika tinggal bersama pamannya di Surabaya. Djoned yang terbiasa hidup bergelimang fasilitas mampu mengimbangi kehidupan barunya dan mengikuti aturan pamannya seperti membersihkan kamar sendiri, mengepel bahkan diharuskan mencuci dan mengelap sepeda dengan minyak kelapa setiap habis dipakai.

“Di rumah waktu itu saya biasa dilayani karena ada 20 orang pembantu. Tapi ketika bersama paman, saya tidak bisa hidup seenaknya, apalagi berontak. Cuma kalau kangen, saya nekat kabur ke Jakarta naik kereta api. Kalau sudah bertemu ibu, saya balik lagi, baru pakai pesawat,” kenangnya.

Kedisiplinan dan kemandirian Djoned semakin teruji ketika ia tinggal di Amerika Serikat. Di negara Paman Sam itu ia melanjutkan kuliah di American Collage Los Angeles. Di tempat yang sama ia meneruskan pendidikan pascasarjana di Northtrop University.

Ia menyebut melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat sekaligus untuk memuaskan dahaga bertualang. Karena itu, selepas lulus, ia tidak segera pulang ke Tanah Air namun memilih bekerja dan merintis usaha di sana.

Atas saran dosen pembimbing, salah satunya Profesor Sabolic, di Amerika Serikat ia mendirikan sekolah playgroup bernama Jimbore. Belum puas, ia lalu merintis usaha mainan, pakaian dan merchandise khusus tokoh Mickey Mouse dan Mini Mouse bekerja sama dengan Disneyland.

“Kalau tertarik sesuatu saya pasti akan kejar. Saya orangnya spontan dan selalu komit dengan apa yang saya inginkan termasuk ketika saya membuka Widiyanto Enterprise yang bergerak dalam bidang real estate. Saya juga membuka butik, model pakaiannya mengikuti Italia dan Prancis tapi diproduksi di Turki lalu diedarkan di New Jersey,” bebernya.

Tidak cukup sampai di situ, Djoned yang sedari awal menggandrungi motor gede Harley Davidson juga merealisasikan mimpinya membuka Santa Monica Harley Davidson Shop yang membuat dan menjual aksesori dan segala hal yang berkaitan dengan motor mewah itu.

Ia mengaku sempat bekerja sama dengan Monty, mantan desainer mobil Ferrari untuk mengerjakan pesanan pelanggan seperti membuat kursi piano yang dipakai band Guns N’ Roses hingga membuat Harley Davidson tipe cruisers yang dipakai Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator 2.

Namun, karena pertimbangan tertentu, pada 1995 Djoned memutuskan menutup semua usahanya di Amerika Serikat dan memilih kembali ke Tanah Air.

Tidur dengan Keris
Lama menetap di Amerika Serikat tidak membuat kecintaan Djoned Kusumo Widiyanto terhadap budaya leluhurnya tergores, apalagi luntur. Hal itu ia tunjukkan dengan memegang teguh ajaran dan budaya Jawa. Seperti kebanyakan orang Jawa lainnya, hingga kini Djoned kerap menjalani tirakat.

Laki-laki kelahiran Jakarta, 23 September 1962 ini juga menyukai keris dan tombak warisan leluhur. Dari sekian banyak koleksinya, beberapa terbuat dari emas. Begitu cintanya kepada keris dan tombak, ia mengaku tidur juga ditemani koleksi senjata miliknya.

Sebagai pelengkap simbol lelaki Jawa, ia juga mengoleksi kukila, yaitu puluhan burung perkutut. Koleksi keris, tombak maupun burung perkutut sebagian besar ia simpan di Solo bersama koleksi batu mulia.

“Saat ini saya sedang konsen di batu mulia termasuk yang terbuat dari akar bahar. Saya ingin membuat batu mulia dengan desain ukiran Jawa klasik. Selama ini yang fokus menggarap batu mulia seniman Bali, padahal batu mulia asal Bali sebagian besar meng-combine dengan desain ukiran Jawa,” terangnya kepada Espos, Jumat (13/7).

Ia merasa terpanggil untuk menghidupkan batu mulia di Solo khususnya dengan desain ukiran Jawa, apalagi setelah ia melihat realitas peminat batu mulia asal Bali sebagian besar adalah orang Solo.

“Saya akan mendatangkan orang yang expert [ahli] dalam membuat batu mulia ke Solo sekaligus membuka galeri. Orang itu nantinya saya minta untuk membuat batu mulia dengan desain ukiran Jawa, beberapa contohnya sudah saya miliki,” katanya.

Dia berharap tekadnya mengangkat batu mulia dengan ukiran Jawa dapat menggairahkan kembali seniman maupun para ahli ukir di Solo. “Saya ingin Solo tidak hanya terkenal dengan Pasar Triwindu tapi juga dikenal karena batu mulianya,” katanya.

Saat ini, Djoned juga menjadi salah satu orang yang mendukung gelaran lomba perkukut di Solo dengan label KGPAA Mangkunegara IX Cup yang dilaksanakan Oktober mendatang. Ia pula yang membuka jalan agar perlombaan itu bisa dilaksanakan di Pura Mangkunegaran.

“Di Jogja ada lomba perkutut HB Cup. Di Solo walaupun ada keraton dan Mangkunegaran tapi tidak pernah mengadakan acara semacam itu. Makanya saya terpanggil supaya acara yang sama juga bisa digelar di Solo,” ungkapnya.

Minat Djoned bukan melulu pada benda-benda bersejarah maupun perkukut. Jauh sebelum itu ia juga peduli terhadap musik keroncong. Ketika musik keroncong meredup pada 1993, ia bekerja sama dengan seniman keroncong seperti almarhum Andjar Ani dan almarhum Gesang serta Waldjinah menggelar acara musik keroncong di Hotel Solo Inn.

“Saya tidak bisa tinggal diam melihat budaya Jawa terkikis begitu saja. Saya membuat komunitas dan aktivitas yang menyangkut harkat orang banyak,” katanya.

Sumber: http://www.solopos.com/2012/tokoh/

Iklan

SETIAWAN DJODI: Bangkit Setelah Kehidupan Baru

Posted on Updated on

Tangan Setiawan Djodi bertautan kuat dengan tangan Walikota Solo Djoko Widodo saat keduanya bersalaman komando di Rumah Dinas Walikota, Lodji Gadrung, Rabu (18/7).
Baca entri selengkapnya »

Bagaimana Menyusun Biografi

Posted on

Sebuah riwayat hidup yang besar, dikendalikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang besar pula. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang membosankan juga mengakibatkan cerita menjadi membosankan.

Sedangkan daftar fakta-fakta hanyalah merupakan biji-bijian kering yang berserakan . tidak ada susu . . .tanpa buah . . . tidak ada rasanya alias hambar. Untuk itu perlu sebuah kemampuan untuk melakukan penolahan hingga lulisan menjadi begitu menarik. Untuk itu diperlukan beberapa langkah.

DR WINARTI MSI: Belajar Dari Semua Orang

Posted on

Semua orang bisa menjadi guru. Kalimat itulah yang memotivasi lulusan program doktor Administrasi Publik Universitas Brawijaya ini, Dr Winarti Msi, untuk belajar pada semua orang. “Anak kecil pun bisa jadi guru. Jadi terkadang saya pun merasa perlu belajar dari anak kecil,” ujarnya.

Sebagai akademisi, Direktur Pascasarjana Unisri ini mengaku paling bangga ketika dirinya juga bisa menjadi guru bagi orang lain. Pasalnya, seorang guru bisa menularkan ilmunya kepada banyak orang. Ia pun senang ketika keberadaan dirinya beserta karya yang dihasilkan bisa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Tak pelak, ibu dua orang anak ini telah berkiprah di banyak tempat, sesuai bidang ilmu yang digelutinya. “Saya pernah masuk dalam anggota Pansus DPRD Solo dan Boyolali. Sebelum menjabat sebagai direktur pascasarjana, saya mendapatkan amanah sebagai Kaprodi Magister Administrasi Publik,” terangnya.

Namun demikian, Winarti menuturkan bahwa sebenarnya ia tidak bercita-cita menduduki jabatan struktural. Ia menganggap jabatan adalah beban berat yang harus dipikul. Namun ketika ia mendapatkan kepercayaan untuk menduduki suatu jabatan, ia berusaha amanah.

Ketertarikannya pada ilmu administrasi publik, karena ia menganggap ilmu ini terus berkembang dan ada banyak tantangan yang dihadapi ketika menggelutinya. Winarti pun berharap ia bisa terus berinovasi dalam setiap karya yang dihasilkan.
Sebagai orangtua, istri Drs Budiman Widodo MSi ini sangat bangga ketika kedua buah hatinya bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) tanpa menyusahkan dirinya. “Keberhasilan dan kemandirian anak adalah hal yang paling membanggakan buat saya,” pungkasnya.

JIBI/SOLOPOS/Eni Widiastuti
Sumber: http://www.solopos.com

JLITHENG SUPARMAN: Dalang Nyentrik Sarat Kritik

Posted on

Dalang Ki Jlitheng Suparman bisa dibilang dalang nyentrik. Sejak 2000, Jlitheng mengusung apa yang disebutnya Wayang Kampung Sebelah (WKS) untuk menyampaikan berbagai kritikan sosial. Wayangnya terbuat dari kulit bergambar manusia. Berbeda dengan wayang purwa yang tokoh-tokohnya berasal dari kisah Ramayana dan Mahabarata, tokoh-tokoh di WKS ini seperti halnya masyarakat kampung yang plural, terdiri dari penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, pak lurah, hingga pejabat negara. Nama Karakter di WKS di antaranya Kampret, Karyo, Lurah Somad, Eyang Sidik Wacono, Hansip Sodrun dan Silvy.
Jlitheng juga menggunakan WKS sebagai media perlawanan terhadap perilaku seni yang menghamba pada kepentingan politik praktis. Dengan program Serangan Pentas yang digelar sejak 2009, WKS menghibur dan memberi pendidikan politik dan budaya ke pelosok kampung di Solo dan kabupaten di sekitarnya. Saat ini, Serangan Pentas yang digelar gratis ini sudah 71 kali manggung. Beberapa lakon yang sering dipentaskan adalah Atas Mengganas, Bawah Beringas atau Who Wants to be a Lurah.
“WKS selalu menyerukan antikekerasan, seperti lakon Atas Mengganas, Bawah Beringas, yang mengisahkan bahwa kekerasan bukanlah solusi,” kata Jlitheng saat ditemui di rumahnya, belum lama ini. Memandang adanya kasus kekerasan di masyarakat, tak serta-merta mutlak kesalahan pelaku. Perlu diperhatikan pula penyebab dari tindak kekerasan itu, seperti sikap pembiaran penyelenggara negara terhadap pelaku kekerasan.
Kekerasan dan arogansi yang menyebar di mana-mana, menurut Jlitheng, karena ada peluang sedang yang memberi peluang adalah penyelenggara negara. “Negara dalam hal ini penyelenggara tidak tegas, tidak lagi berlandas Pancasila, tidak hadir untuk melindungi warga dan kebebasan berpendapat. Obat mujarabnya ya mereka kembali ke Pancasila.”
Hal itu tergambarkan dalam salah satu adegan, karakter di WKS, Karyo, mengeluh tentang kemiskinan yang ia alami karena negara sudah tidak benar, salah dan kacau. Kemudian keponakannya, Kampret, meluruskan pendapat itu. Menurut Kampret, Indonesia tidak pernah salah, yang salah adalah pemegang Indonesia. Dari presiden hingga lurah, sebagai penyelenggara negara. “Yang salah orang yang tidak mampu mengawal Pancasila. Kalau pemerintah memperhatikan Pancasila, wong melarat diperhatikan. Tapi karena tidak perhatikan Pancasila, yang kita tidak diperhatikan.”
Jlitheng Suparman (JIBI/SOLOPOS/Ahmad Hartanto)
Penyadaran tentang kesalahan rekonstruksi Pancasila yang saat ini berlangsung juga diselipkan dalam WKS. Menurut Jlitheng, negara karut-marut karena sejak Orde Baru hingga reformasi, rekonstruksi Pancasila yang dibangun sudah keliru. “Dasar negara itu bukan kaidah moral individual tapi negara, kaidah negara bagi kebijakan etik negara dalam memproduksi undang-undang,” katanya. Negara, dalam hal ini pemerintah, harus menjalankan nilai-nilai Pancasila, bukan rakyat. “Maka keliru, dulu ada P4, kini ada empat pilar bangsa tapi yang disosialisasi ke masyarakat, mestinya pejabat.”
Jlitheng sendiri memang memiliki darah dalang dari kakeknya yang tinggal Wonogiri. Saat kelas IV SD, Jlitheng yang tinggal di Kampung Gremet, Manahan, Solo pindah ke Ngadirojo, serumah dengan kakeknya, Ki Guno Sudarjo. Melihat aktivitas kakek dan pamannya yang juga seorang dalang, ia tertarik menjadi dalang. “Saya sering diajak pentas oleh simbah dan paklik, dari melihat itulah saya mulai belajar,” kata Jlitheng saat ditemui di rumahnya di Desa Siwal, Baki, Sukoharjo.
Sistem belajar yang ia dalami bukan formal dengan mendapat arahan setiap waktu. Jlitheng belajar sendiri dari pengamatan, berlatih sendiri dengan sesekali mendapat arahan dari kakek atau sistem nyantrik. Saat menggembala ternak pun ia sempatkan untuk mendalang dengan disaksikan teman-temannya di ladang memakai media dedaunan sebagai wayangnya. Sejak saat itu, kemampuannya mulai terlihat dan mendapat perhatian dari kakek dan pamannya. “Awal jadi dalang yaitu saat ikut pentas kakek dan paman. Saya jadi dalang untuk pembukaan, istilahnya mucuki, memperagakan satu fragmen sekitar setengah jam hingga satu jam,” tutur Jlitheng.
Pengalaman manis tersebut membuat dirinya makin bersemangat menjadi dalang. Meski masih kecil, ia mendapat kepercayaan menjadi pembuka pementasan wayang. Tepuk tangan penonton, pujian yang datang, membuatnya bangga dan bersemangat.
Sejak Kelas II SMP, Jlitheng remaja kembali ke kampung kelahirannya Solo. Meski pindah kota, pamannya yang dalang sekaligus buruh bangunan di Solo tersebut sering mengajaknya ke Wonogiri untuk pementasan. “Karena belajar pertama di Wonogiri, banyak yang mengira saya orang Wonogiri, padahal saya asli lahir di Solo,” tutur dia. Hingga kuliah, Jlitheng lebih banyak mendapat tawaran pentas di Kota Gaplek.
Pada 1960-an hingga 1970-an, dalang bukan profesi utama. Dalang umumnya memiliki penghasilan utama dari pertanian atau buruh. Seperti kakeknya yang seorang petani dan pamannya buruh. Sehingga saat itu belum terdengar kabar ada dalang yang ngetop dan kaya raya. Pembayarannya, tutur Jlitheng, memakai sistem kompensasional, yaitu dibayar selain dengan uang, juga dengan bahan makanan, sajian saat pentas atau peralatan rumah tangga.
“Waktu kecil tidak berpikir soal profesi dalang dari aspek ekonomi, bayarannya berapa. Tapi aspek kesenangan dan kepuasan. Maka ndalang berlanjut hingga sekarang,” tutur dalang berpenampilan sederhana dengan pakaian serba hitam ini. Perjalanan pendidikan pedalangan makin matang setelah ia mendapatkan pendidikan di SMKI Solo atau yang kini disebut SMKN 8 Jurusan Pedalangan. Setelah lulus, ia masuk Fakultas Sastra Jurusan Sastra Jawa UNS. Beberapa prestasi awal kariernya yaitu saat kelas 1 SMP meraih juara II lomba dalang se-Wonogiri. Saat kuliah, ia masuk 10 besar dalang unggulan dalam Festival 50 Dalang di Solo.
JIBI/SOLOPOS/Ahmad Hartanto
Sumber: http://www.solopos.com

ADJIE CHANDRA: Tak Bisa Lepas Dari Liong dan Barongsai

Posted on

Nama Adjie Chandra tak bisa dilepaskan dari Perkumpulan Liong dan Barongsai Tripusaka (Makin Solo). Pria keturunan Tionghoa ini lahir di Solo, 3 Februari 1958. Ia menjalani masa kecil hingga remaja di Semarang di mana orangtuanya tinggal bersama empat saudaranya. Di kompleks Pecinan di Semarang, ia mulai mengenang kesenian China seperti liong, barongsai dan arak-arakan patung dewa. Sejak itu, ia mulai menyukai semua kesenian tersebut.
Meski tumbuh dan besar sebagai keturunan Tionghoa, Adji yang memiliki nama Tionghoa Go Djien Tjwan ini diajarkan menghargai dan belajar kesenian Jawa. “Mami saya yang bukan orang Jawa tapi selalu mendorong saya untuk belajar kesenian Jawa, saya dioyak-oyak menari Jawa,” kata dia. Setiap akhir pekan, dia menyaksikan pertunjukan Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa Semarang.
Selain itu, saat mulai mengenal baca-tulis, ibundanya selalu membelikan dan menyewakan komik yang berisi cerita Ramayana dan Mahabharata karangan RA Kosasih. Sejak saat itu, ia memahami dan mencintai cerita-cerita pewayangan, bahkan hafal di luar kepala. Jasa kedua orangtuanya inilah yang kelak bakal mengantarnya menuju hidup berkesenian yang matang dan menjadi rohaniwan Konghucu di Solo.
Saat adik bungsunya baru berusia satu tahun, ibunda Adji meninggal dunia karena kanker payudara. Saat lulus SMA, ia dan empat adiknya menjadi yatim piatu setelah ditinggal ayahanda selama-lamanya. Kemudian ia bersama seluruh saudaranya diboyong kakeknya kembali ke Solo. Di Kota Bengawan, ia hidup di kalangan muda-mudi Konghucu, belajar agama dan kesenian hingga kemudian ia mantap memeluk agama Konghucu.
Adji mendapat gelar calon pendeta Konghucu pada 1980. Kemudian meningkat menjadi asisten pendeta pada 1990. Semestinya kini ia sudah diangkat menjadi haksu (pendeta Konghucu) namun karena merasa masih belum pantas, ia hingga kini masih bergelar Ws (Wense) di depan namanya. Dalam setiap kesempatan, ia memimpin peribadatan agama Konghucu dan menjadi salah satu tokoh Konghucu ternama di Solo.
Saat boyongan ke Solo, Ws Adji Chandra bergabung dengan kelompok kesenian wayang orang Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Pengetahuannya tentang cerita Ramayana dan Mahabharata semasa remaja, tersalurkan saat mengikuti kelompok kesenian yang semua pemain dan pengrawitnya keturunan Tionghoa. Di kelompok itulah, ia merasakan kejayaan dan kebanggaan berkesenian Jawa. Sejumlah prestasi dan pertunjukan di luar negeri pernah ia rasakan.
“Saya sering bicara ke anak-anak muda, saya yang keturunan China, paitan pupur (bedak) sama selendang bisa keliling dunia. Apa kamu yang Jawa tidak suka kesenian sendiri, kan lucu. Orang asing belajar wayang dan kesenian Jawa ke sini, apa nanti belajar wayang ke luar negeri,” demikian kritiknya.
Dia bicara keras karena minimnya orang Jawa mempelajari kesenian sendiri. Padahal, kesenian memiliki potensi prestasi dan kebanggaan yang luar biasa asal dikelola dengan baik. Untuk lebih diterima masyarakat, dia usul dalam pementasan perlu ada pembenahan tanpa mengubah pakem. “Agar wayang tidak bertele-tele. Cerita dipadatkan agar tidak mengurangi arti sehingga anak-anak muda tertarik,” imbuhnya.
Ada peristiwa penting pada saat pementasan wayang orang memperingati HUT ke-50 PMS pada 1982. Sebelum pentas, tokoh Semar saat itu mendadak meninggal dunia karena serangan jantung. “Sutradara bingung cari siapa yang tepat. Saya yang terpilih, bukan karena postur tapi profesi saya yang rohaniawan Konghucu yang sering memberi wejangan. Semar kan pewejang, jadi ada kesamaan karakter,” tutur Adji. Dan akhirnya sejak hari itu, tokoh Semar secara abadi diperankan Adji Chandra. “Saya sangat bangga lewat peran ini bisa menyampaikan nasihat-nasihat kebaikan.”
Hingga sekarang, ia memiliki tim punakawan yang mulai dibentuk pada 2000 dan hingga hari ini masih tetap eksis. Keempat pemeran tokoh punakawan, tutur Adji, memiliki latar belakang berbeda, seperti tokoh Gareng diperankan oleh anggota majelis gereja Solo, kemudian Petruk diperankan oleh seorang ustad sedang Bagong diperankan lurah. Semua bisa tampil dengan baik karena mereka seniman dan beberapa kali pentas di depan presiden. “Di depan Gus Dur tiga kali, Bu Mega sekali, Pak SBY sekali. Konghucu yang punya Semar hanya Solo,” ujarnya bangga.
JIBI/SOLOPOS/Ahmad Hartanto
Sumber: http://www.solopos.com

WIJI THUKUL: Setia Menunggu Wiji Thukul

Posted on

Dua kursi tamu dipenuhi kain lurik setengah jadi dan beberapa gulung benang. Di ruangan itu pula, seorang perempuan paruh baya duduk di belakang mesin jahit listrik. Perempuan yang dikenal sebagai aktivis pencarian orang hilang, yang biasa dipanggil Sipon, dengan ramah mempersilakan Espos masuk ke rumahnya di Kampung Kalangan, Jagalan, Jebres, Solo. Dengan kacamata di dahinya, terlihat titik-titik keringat di wajahnya.
Di dinding ruang tersebut, ada beberapa foto yang dipigura, di antaranya anak keduanya, Fajar Merah, semasa kecil mengenakan sarung dan peci. Foto seorang perempuan tua, yang merupakan eyangnya, piagam penghargaan dan foto sepasang pengantin mengenakan baju adat Jawa. “Itu saya sama Mas Wiji,” kata Sipon yang memiliki nama asli Dyah Sujirah, Sabtu (3/3).
Wiji Thukul adalah seniman Solo yang hilang saat Orde Baru berkuasa. Puisi-puisinya berisi kritikan terhadap rezim Soeharto. Sampai kini, tak diketahui nasibnya. Sipon yakin suaminya masih hidup sampai sekarang. Karena itu, dia menunggu kedatangan suaminya.
Sipon berkisah dulu di dinding itu terpasang foto Wiji Thukul berukuran besar namun oleh anaknya dicopot. “Foto itu juga mau dicopot, saya bilang, janganlah, itu kenang-kenangan satu-satunya ibu,” kata Sipon.
Di rumahnya, Sipon mengisi hari dengan menjahit. Ada tiga mesin jahit di rumahnya, beserta tumpukan kain dan bordir. Sudah sejak lama ia menggantungkan hidup dengan memproduksi pakaian jadi. Produk terbarunya yaitu kain lurik yang dipadukan dengan bordir. Hasilnya, bisa berupa baju kebaya atau tas punggung yang memiliki hiasan bunga-bunga berwarna cerah. “Mencari ide baru, seperti ini kan jarang di luar sana, semoga bisa lancar,” tutur dia.
Menjahit jahit dan membordir memberikan dunia baru baginya, yang lebih indah dan berwarna. Selama hidup, tuturnya, selalu saja berurusan dengan hukum, ketidakadilan dan aparat keamanan. “Sejak menikah selalu begitu. Setahun sebelum dia enggak ada, kami ketemu caranya kucing-kucingan. Janjian di tempat tertentu, datang sendiri, tidak bawa KTP. Biar tidak diketahui aparat. Waktu itu kan dicari-cari,” kisah dia. Pada suatu ketika, ia bertemu dengan Wiji di sebuah tempat lokalisasi di Sragen.
Dyah Sujirah/Sipon (Ahmad Hartanto/JIBI/SOLOPOS)
Sipon bertemu Wiji Thukul atau Wiji Widodo saat keduanya menjalani satu kegiatan yang sama, yaitu di dunia teater di Solo. Keduanya menikah pada Oktober 1988 di Solo dan dikaruniai dua anak. Pada 16 Mei 1989, lahir putri pertama bernama Fitri Nganthi Wani yang menikah beberapa bulan lalu. Anak kedua lahir pada 23 Desember 1993 bernama Fajar Merah. Fajar saat ini tumbuh sebagai seorang pemuda yang langsing dan tegak. Wajahnya segaris dengan Wiji Thukul.
Sipon yang merupakan asli Solo mengaku hanya mengenyam pendidikan sampai Kelas V SD. Saat itu, ayahnya diduga gila dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Sipon merasa malu, sering diolok-olok teman sekelasnya sehingga memutuskan berhenti sekolah. Sejak itu, ia memilih bekerja buruh dan diselingi bermain teater di sanggar. “Hobi saya dulu suka mendengar kisah sejarah. Bagaimana ayah yang saat muda dulu berperang melawan bangsa asing. Sangat heroik dan saya betah,” tuturnya.
Ayah Sipon seorang veteran perang. Hidupnya sederhana dan berprinsip ikhlas, tidak meminta imbalan. “Ayah mengajarkan beri yang terbaik untuk negara, jangan meminta apapun tapi kalau diberi jangan ditolak,” kata Sipon.
Ia mengaguminya sebagai sosok tokoh yang berjuang tanpa pamrih, tanpa mengharap kenikmatan setelah berhasil. Berbeda dengan kondisi bangsa saat ini yang kekurangan figur pemimpin yang mengerti keinginan rakyat, turut bersimpati dan amanah
Merah Berganti Bunga
Dyah Sujirah atau Sipon mengaku marah dan kecewa tentang fitnah tentang dirinya yang menjalani seorang pelacur dan gila. Puncak kemarahannya ia luapkan saat menghadiri acara jumpa pers di Gedung DPR Jakarta, September 2011 lalu. Di ruangan itu, ia melepas kaus merah yang ia kenakan dan membuangnya. Kemudian ia mengambil dan mengenakan baju bermotif bunga. “Merah itu kan keberanian, orang kalau tidak punya keberanian berarti merahnya hilang. Saya ganti yang bunga karena sudah jenuh,” kata dia saat ditemui Espos di rumahnya, Sabtu (3/3).
Di kesempatan itulah, ia menegaskan dirinya tidak gila dan masih waras serta bukan seorang pelacur. Ia tetap sebagai perempuan yang bermartabat, bekerja dari hasil jerih payah yang halal dan bukan bermental pengemis. “Saya bukan pelacur. Saya punya anak, bagaimana dengan anak saya kalau saya pelacur, saya punya suami, saya juga harus menjaga nama baiknya. Saya juga ikut gabung dengan Ikohi (Ikatan Keluarga Orang Hilang), jadi ikonnya. Saya harus menjaga itu,” kata dia.
Ia tidak mau mengatakan siapa yang menyebarkan fitnah tersebut. Baginya, itu merupakan bagian dari perjuangan menuntut keadilan dan mendapatkan kebenaran sejati. Lanjutnya, bisa diduga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak yang berseberangan dengan ide dan pergerakannya terlebih tentang pendapatnya mengenai keberadaan Wiji Thukul yang ia ketahui masih tetap hidup dan eksis sampai sekarang. Ia melewati cobaan demi cobaan, ibarat air yang mengalir.
Ia mengakui pernah diajak menjadi seorang pekerja seks namun ditolaknya. Ajakan itu tidak datang sekali tapi beberapa kali. Keteguhan hatinyalah yang membuat ia berjalan di area yang lurus, meski terkadang hambatan sering dilalui. “Memang ada pelacur namanya Sipon tapi itu bukan saya. Saya tegaskan, bukan,” tegasnya.
Selain itu, juga ada anggapan dirinya gila. Itu pun ditepisnya. “Saya orang teater, bisa memerankan siapa pun, termasuk di DPR itu, saya memerankan sebagai orang kecil yang ditindas dan didiskriminasi.”
Maret yang Memberi Kenangan
Bulan Maret bagi sebagian orang hanyalah bulan biasa. Namun bagi istri Wiji Thukul, Sipon, Maret memberikan banyak kenangan hidup bersama suaminya. “Maret banyak kenangan. Awal bertemu ya bulan Maret, pisah dan mulai hilang kontak ya bulan Maret. Jadi kadang saya suka malas, selama belasan tahun ada kebohongan publik,” tutur Sipon saat ditemui Espos di rumahnya, Kalangan, Jagalan, Jebres, Solo, Sabtu (3/3).
Kebohongan publik yang dimaksud yaitu bahwa pemerintah dan pihak-pihak tertentu mengetahui keberadaan suaminya saat ini. Melalui organisasi Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi), Sipon selalu memperjuangkan 13 aktivis yang diculik pada masa 1996-1998. Perjuangannya sebagai aktivis tak lekang oleh waktu. Hingga kini, saat kehilangannya sudah berjarak 14 tahun, ia tak pernah berhenti bersuara. Serupa puisi berjudul Sajak Suara yang pada baitnya dituliskan “sesungguhnya suara itu tidak bisa diredam, mulut bisa dibungkam”.
Peristiwa terkini yaitu pada saat di gedung DPR, ia bersama para anggota keluarga yang kehilangan anggota keluarga mendatangi para wakil rakyat menuntut kejelasan keluarga mereka yang hilang. Saat itu, tutur Sipon, hampir semua keluarga mengaku tidak bisa lagi berkata-kata. Mereka sangat kecewa karena perjuangan belasan tahun tidak pernah diperhatikan. “Saya tanya satu- satu, tapi jawabnya…. habis kata-kata, kelu lidah,” tuturnya.
Sipon dalam Ikohi merupakan tokoh sentral dan ikon karena keberanian dan kenekatannya. Sipon memiliki keyakinan suaminya, Wiji Thukul atau Wiji Widodo, saat ini masih ada, hidup dan mulia di tengah-tengah masyarakat. Informasi itu ia peroleh dari aktivis ‘98 yang saat ini sudah menduduki jabatan wakil rakyat. “Saya diberi tahu, kalau Wiji diamankan. Sekarang di Pucangsawit. Dan saya tidak boleh ke sana. Alasan mereka mengamankan dia, agar tidak mati dibunuh. Dia diselamatkan,” terangnya.
Dan kini, ia meyakini, suaminya memiliki apa yang ia cita-citakan, salah satunya adalah tanah seperti keinginannya pada puisi berjudul Tentang Sebuah Gerakan. Sipon meyakini Wiji telah berganti identitas
Tuntut Pertanggungjawaban Negara
Sebagai penasihat hukum, Hastin Dirgantari memandang Sipon atau Dyah Sujirah adalah sosok perempuan yang konsisten mencari di mana dan bagaimana kondisi keadaan suaminya. Meski berpisah belasan tahun, Sipon tetap berpendirian kuat. “Dia konsisten untuk tetap mencari,” katanya saat dihubungi Espos, Minggu (4/3).
Terbitnya surat dari Komnas HAM tentang pernyataan dari negara bahwa Wiji Thukul masuk dalam orang hilang, belum cukup menghentikan langkah Sipon terus berjuang. “Kalau bisa hingga ada pernyataan bahwa negara yang menghilangkan Mas Thukul, kemudian apa pertanggungjawaban negara, itu yang hingga kini dicari,” tambah Hestin.
Sebagai pribadi, tutur Hestin, Sipon dikenal sangat ramah pada semua orang. Jarang sekali ditemui tanpa ada senyuman karena Sipon dikenal murah senyum. Selain itu, ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal itu bisa dibuktikan dengan upaya Sipon memperjuangkan tanah di tempatnya tinggal dan para tetangga. “Itu adalah salah satu upaya dia untuk membantu terhadap sesama,” imbuh dia
Perempuan Ulet
Syaifudin mengenal Sipon dan Wiji Thukul sejak lama. Dia melihat keduanya sangat kuat dan ulet dalam perjuangannya. “Mbak Pon boleh dibilang orang yang ulet, baik semasa Mas Thukul masih ada, hingga sudah tidak ada,” kata seniman dan kawan Sipon, Syaifudin, Minggu (4/3).
Selain itu, Sipon memiliki karakter yang kuat sehingga bisa dilihat ia dapat bertahan hingga sekarang.
“Beliau kini tidak hanya jadi ibu tapi juga bapak. Saya melihat dua peran itu tidak mudah, bahkan sangat berat yang harus ia tanggung. Namun ia dengan sifatnya yang ulet, dapat tetap melaluinya,” imbuh Syaifudin.
Ia mengaku salut dan bangga memiliki salah satu teman baik yang dikenal sangat baik dan akrab kepada semua orang.
Satu hal lagi yang membuat bangga, yaitu tipe pekerja keras. Sendirian, Sipon membesarkan kedua anaknya hingga dewasa, dengan kerja kerasnya sebagai penjahit. “Sifatnya yang kerja keras, tahan banting, seolah-olah dia terinspirasi dari karya-karya suaminya itu, yang jika dicermati berisi tentang kondisi rakyat jelata dan perjuangannya.”
Setia Menunggu Wiji Thukul
Dua kursi tamu dipenuhi kain lurik setengah jadi dan beberapa gulung benang. Di ruangan itu pula, seorang perempuan paruh baya duduk di belakang mesin jahit listrik. Perempuan yang dikenal sebagai aktivis pencarian orang hilang, yang biasa dipanggil Sipon, dengan ramah mempersilakan Espos masuk ke rumahnya di Kampung Kalangan, Jagalan, Jebres, Solo. Dengan kacamata di dahinya, terlihat titik-titik keringat di wajahnya.
Di dinding ruang tersebut, ada beberapa foto yang dipigura, di antaranya anak keduanya, Fajar Merah, semasa kecil mengenakan sarung dan peci. Foto seorang perempuan tua, yang merupakan eyangnya, piagam penghargaan dan foto sepasang pengantin mengenakan baju adat Jawa. “Itu saya sama Mas Wiji,” kata Sipon yang memiliki nama asli Dyah Sujirah.
Wiji Thukul adalah seniman Solo yang hilang saat Orde Baru berkuasa. Puisi-puisinya berisi kritikan terhadap rezim Soeharto. Sampai kini, tak diketahui nasibnya. Sipon yakin suaminya masih hidup sampai sekarang. Karena itu, dia menunggu kedatangan suaminya. Sipon berkisah dulu di dinding itu terpasang foto Wiji Thukul berukuran besar namun oleh anaknya dicopot. “Foto itu juga mau dicopot, saya bilang, janganlah, itu kenang-kenangan satu-satunya ibu,” kata Sipon.
Di rumahnya, Sipon mengisi hari dengan menjahit. Ada tiga mesin jahit di rumahnya, beserta tumpukan kain dan bordir. Sudah sejak lama ia menggantungkan hidup dengan memproduksi pakaian jadi. Produk terbarunya yaitu kain lurik yang dipadukan dengan bordir. Hasilnya, bisa berupa baju kebaya atau tas punggung yang memiliki hiasan bunga-bunga berwarna cerah. “Mencari ide baru, seperti ini kan jarang di luar sana, semoga bisa lancar,” tutur dia.
Sipon bertemu Wiji Thukul atau Wiji Widodo saat keduanya menjalani satu kegiatan yang sama, yaitu di dunia teater di Solo. Keduanya menikah pada Oktober 1988 di Solo dan dikaruniai dua anak. Pada 16 Mei 1989, lahir putri pertama bernama Fitri Nganthi Wani yang menikah beberapa bulan lalu. Anak kedua lahir pada 23 Desember 1993 bernama Fajar Merah. Fajar saat ini tumbuh sebagai seorang pemuda yang langsing dan tegak. Wajahnya segaris dengan Wiji Thukul.
Sipon yang asli Solo mengaku hanya mengenyam pendidikan sampai Kelas V SD. Saat itu, ayahnya diduga gila dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Sipon merasa malu, sering diolok-olok teman sekelasnya sehingga memutuskan berhenti sekolah. Sejak itu, ia memilih bekerja buruh dan diselingi bermain teater di sanggar. “Hobi saya dulu suka mendengar kisah sejarah. Bagaimana ayah yang saat muda dulu berperang melawan bangsa asing. Sangat heroik dan saya betah,” tuturnya.
Ayah Sipon seorang veteran perang. Hidupnya sederhana dan berprinsip ikhlas, tidak meminta imbalan. “Ayah mengajarkan beri yang terbaik untuk negara, jangan meminta apapun tapi kalau diberi jangan ditolak,” kata Sipon. Ia mengaguminya sebagai sosok tokoh yang berjuang tanpa pamrih, tanpa mengharap kenikmatan setelah berhasil. Berbeda dengan kondisi bangsa saat ini yang kekurangan figur pemimpin yang mengerti keinginan rakyat, turut bersimpati dan amanah.
Sipon juga mengaku sempat marah dan kecewa saat beredar fitnah bahwa dirinya menjadi pelacur dan gila. Puncak kemarahannya ia luapkan saat menghadiri acara jumpa pers di Gedung DPR Jakarta, September 2011 lalu. Di ruangan itu, ia melepas kaus merah yang ia kenakan dan membuangnya. Kemudian ia mengambil dan mengenakan baju bermotif bunga. “Merah itu kan keberanian, orang kalau tidak punya keberanian berarti merahnya hilang. Saya ganti yang bunga karena sudah jenuh,” kata dia.
Di kesempatan itulah, ia menegaskan dirinya tidak gila dan masih waras serta bukan seorang pelacur. Ia tetap sebagai perempuan yang bermartabat, bekerja dari hasil jerih payah yang halal dan bukan bermental pengemis. “Saya bukan pelacur. Saya punya anak, bagaimana dengan anak saya kalau saya pelacur, saya punya suami, saya juga harus menjaga nama baiknya. Saya juga ikut gabung dengan Ikohi (Ikatan Keluarga Orang Hilang), jadi ikonnya. Saya harus menjaga itu,” kata dia.
Ia tidak mau mengatakan siapa yang menyebarkan fitnah tersebut. Baginya, itu merupakan bagian dari perjuangan menuntut keadilan dan mendapatkan kebenaran sejati. Lanjutnya, bisa diduga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak yang berseberangan dengan ide dan pergerakannya terlebih tentang pendapatnya mengenai keberadaan Wiji Thukul yang ia ketahui masih tetap hidup dan eksis sampai sekarang. Ia melewati cobaan demi cobaan, ibarat air yang mengalir.
Terkait sang suami, bagi Sipon, Maret memberikan banyak kenangan hidup bersama suaminya. “Maret banyak kenangan. Awal bertemu ya bulan Maret, pisah dan mulai hilang kontak ya bulan Maret. Jadi kadang saya suka malas, selama belasan tahun ada kebohongan publik,” tuturnya.
Kebohongan publik yang dimaksud yaitu bahwa pemerintah dan pihak-pihak tertentu mengetahui keberadaan suaminya saat ini. Melalui organisasi Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi), Sipon selalu memperjuangkan 13 aktivis yang diculik pada masa 1996-1998. Perjuangannya sebagai aktivis tak lekang oleh waktu. Hingga kini, saat kehilangannya sudah berjarak 14 tahun, ia tak pernah berhenti bersuara.
Sipon dalam Ikohi merupakan tokoh sentral dan ikon karena keberanian dan kenekatannya. Sipon memiliki keyakinan suaminya, Wiji Thukul atau Wiji Widodo, saat ini masih ada, hidup dan mulia di tengah-tengah masyarakat. Informasi itu ia peroleh dari aktivis ‘98 yang saat ini sudah menduduki jabatan wakil rakyat. “Saya diberi tahu, kalau Wiji diamankan. Sekarang di Pucangsawit. Dan saya tidak boleh ke sana. Alasan mereka mengamankan dia, agar tidak mati dibunuh. Dia diselamatkan,” terangnya.
Dan kini, ia meyakini, suaminya memiliki apa yang ia cita-citakan, salah satunya adalah tanah seperti keinginannya pada puisi berjudul Tentang Sebuah Gerakan. Sipon meyakini Wiji telah berganti identitas. Hal itu bukan semata imajinasi dia semata, melainkan beberapa fakta, foto, dan ”kebetulan” yang membuat dirinya yakin bahwa Wiji yang dulu ia kenal adalah sesosok pria di Solo. “Lihat, mirip kan. Ini saat masa pelarian, ini sebelum menikah, ini lukisannya dan ini sekarang. Lihat bibirnya, persis kan, cara jalannya, gaya bicaranya, dia emosional,” kata Sipon memperlihatkan empat foto dalam satu bingkai.
Sipon semakin yakin saat mencoba menemui orang tersebut, ia selalu mengelak. Alasnnya, dia saat ini sudah hidup berkecukupan, punya keluarga dan tidak ingin melihat ke belakang. “Saat dia sakit, saya juga ikut sakit, ada ikatan emosional karena jiwa raga dan batin kami pernah bersatu,” tutur dia. Ia juga sempat menelepon dia dan tanggapan yang diterima pun selalu penolakan. “Sekarang yang saya inginkan adalah dia mengakui bahwa dirinya adalah Wiji Thukul, sudah, itu saja.”
Sumber: http://www.solopos.com